Banyaknya Kasus Akhiri Hidup di Kediri Jadi Alarm, Psikolog: Banyak Laki-laki Enggan Bercerita
Alga W May 09, 2026 05:14 PM

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Isya Anshori

TRIBUNJATIM.COM, KEDIRI - Kasus bunuh diri yang terjadi beruntun di Kabupaten Kediri dalam sebulan terakhir, menjadi perhatian serius berbagai pihak.

Peristiwa tragis ini terjadi di sejumlah kecamatan, mulai Mojo, Ngasem, Kandangan, Kepung hingga terbaru di Desa Blaru, Kecamatan Badas, pada awal pekan kemarin. 

Baca juga: Apresiasi Dedikasi Kader PKK Desa, Bupati Mas Dhito Minta Fokus Dampingi Warga Desil 1-4

Rangkaian kejadian tersebut memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat.

Terlebih sebagian besar pelaku diketahui merupakan laki-laki dengan latar belakang persoalan ekonomi maupun hubungan pribadi.

Menanggapi fenomena tersebut, Dosen Psikologi UIN Syekh Wasil Kediri, Shofi Mirwani, menjelaskan bahwa tekanan ekonomi dan masalah percintaan dapat menjadi kombinasi stres berat yang memengaruhi kondisi psikologis seseorang.

Menurutnya, dua persoalan tersebut menyentuh kebutuhan dasar manusia sekaligus identitas diri, khususnya bagi laki-laki.

"Ketika keduanya muncul bersamaan, dampaknya bisa berlipat karena menyerang rasa aman, harga diri, dan makna hidup seseorang," jelas Shofi saat dikonfirmasi, Sabtu (9/5/2026). 

Shofi menerangkan, jika merujuk teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow, persoalan ekonomi berkaitan dengan kebutuhan rasa aman dan keberlangsungan hidup.

Sedangkan hubungan asmara berkaitan dengan kebutuhan cinta, penerimaan, dan kedekatan emosional.

Ketika dua kebutuhan penting ini terganggu dalam waktu bersamaan, seseorang dapat merasa kehilangan pijakan hidupnya.

Shofi menilai, dominasi laki-laki dalam kasus bunuh diri juga tidak lepas dari budaya maskulinitas yang selama ini melekat di masyarakat.

"Banyak laki-laki sejak kecil dibentuk dengan keyakinan bahwa mereka harus kuat, mandiri dan menjadi penopang ekonomi keluarga," jelasnya.

Akibatnya, saat menghadapi kesulitan finansial atau kegagalan hubungan, sebagian laki-laki memaknainya bukan sekadar masalah hidup biasa, melainkan sebagai kegagalan dirinya sebagai laki-laki.

Kondisi tersebut, lanjut Shofi, dapat memicu rasa malu, rendah diri, hingga putus asa.

Sayangnya, banyak laki-laki memilih memendam persoalan sendiri dan enggan mencari bantuan psikologis.

Shofi menjelaskan, tekanan emosi yang dipendam terus-menerus dapat meningkatkan stres kronis, kecemasan, ledakan emosi hingga depresi.

Bahkan dalam beberapa kasus, seseorang terlihat baik-baik saja di luar, namun sebenarnya mengalami tekanan psikologis berat.

Oleh karena itu, masyarakat diminta lebih peka terhadap perubahan perilaku orang terdekat, seperti menjadi lebih pendiam, mudah marah, sulit tidur, kehilangan motivasi bekerja, menarik diri dari lingkungan, hingga mulai berbicara soal kegagalan hidup.

Baca juga: Anggaran Belum Turun, Kelanjutan Pembangunan Gedung Baru LP Blitar Tahun Ini Belum Jelas

Selain faktor ekonomi dan percintaan, media sosial juga dinilai ikut memengaruhi kondisi psikologis seseorang.

Menurut Shofi, media sosial membuat banyak orang tanpa sadar membandingkan kehidupannya dengan orang lain.

Mulai dari pencapaian, kekayaan, hingga hubungan asmara yang terlihat sempurna.

"Ketika realitas hidup tidak sesuai dengan ekspektasi tersebut, muncul rasa rendah diri dan putus asa," terangnya. 

Shofi menambahkan, dukungan sosial menjadi salah satu faktor penting untuk mencegah seseorang terjerumus dalam depresi maupun tindakan bunuh diri.

Shofi mengingatkan pentingnya menciptakan ruang aman agar seseorang, khususnya laki-laki, merasa nyaman untuk bercerita tanpa takut dihakimi.

"Mendengarkan tanpa menggurui dan menghindari kalimat seperti laki-laki harus kuat itu penting. Dukungan sederhana bisa sangat berarti," pungkasnya. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.