Bukan Makan Seblak, Dokter Sebut Justru Kebiasaan Ini yang Bisa Picu Kista Ovarium
GH News May 09, 2026 06:08 PM
Jakarta -

Kista ovarium sering dianggap sebagai masalah kesehatan yang 'datang tiba-tiba'. Padahal, dalam banyak kasus, ada kebiasaan sehari-hari yang diam-diam ikut berkontribusi terhadap kemunculannya.

Kondisi ini memang kerap tidak bergejala di awal, tetapi jika dibiarkan bisa menimbulkan nyeri hingga gangguan siklus haid.

Apa Itu Kista Ovarium?

Dokter spesialis Obstetri & Ginekologi, dr Med. Firman Santoso, SpOG dari Brawijaya Hospital menjelaskan secara garis besar perempuan memiliki dua jenis kista ovarium, yakni yang fungsional dan disfungsional.

"Jadi setiap wanita, dalam fase reproduksi atau fase subur sebelum mereka menopause, mereka pasti akan memiliki kista fungsional atau hormonal. Setiap bulan ketika mereka mengalamu siklus menstruasi, itu kan selalu dihasilkan sel telur yang matang ya," kata dr Firman saat berbincang dengan detikcom di Jakarta, Kamis (7/5/2026).

"Nah itu kita sebutnya kita yang fungsional, yang come and gone terus berlangsung sepanjang umur hidupnya sampai pasien ini menopause. Baru nanti kista fungsional tidak akan ada lagi," sambungnya.

Di sisi lain, ada jenis kista disfungsional atau yang tidak normal. Menurut dr Firman, kondisi inilah yang mengganggu kualitas hidup pasien.

Berbekal 14 tahun pengalaman internasional dan lebih dari 2.000 tindakan bedah, dr Firman mengatakan kista tidak normal ini banyak sekali jenisnya. Namun, yang paling sering ditemukan adalah jenis endometriosis.

"Kemudian ada juga kista jenis dermoid, yang merupakan kista bawaan. Jadi isinya itu rambut, gigi, tulang. Jadi kalau menurut masyarakat kita kayak disantet, padahal bukan," katanya.

"Kemudian ada jenis kista-kista yang lain, seperti jenis mucinous cystadenoma, serous cystadenoma. Kemudian kista jenis lain yang bercampur dengan komponen tumor jinak, misalnya fibroma itu isinya bukan lagi cairan tapi merupakan tumor padat," lanjutnya.

Kebiasaan Pemicu Kista Ovarium

dr Firman mengatakan para perempuan usia remaja sampai dewasa, bisa dikatakan umur 20-an tahun sampai 50-an, lebih berisiko mengalami kista disfungsional.

"Yang paling sering kami temukan itu gaya hidup sih. Artinya kalau pola hidupnya tidak sehat, mereka terlalu gemuk, tidak pernah berolahraga, pola makannya terlalu banyak high sugar, terlalu tinggi karbo, lack of protein," kata dr Firman.

"Nah itu bisa menyebabkan mereka cenderung menderita kista yang jenis endometriosis atau mucinous cystadenoma, serous cystadenoma, dan lain-lain," sambungnya.

dr Firman menegaskan bahwa kista yang terjadi pada mereka yang berusi lanjut atau 60 tahuan ke atas, harus diwaspadai adanya kanker ovarium.

Penanganan Kista

Beruntung, saat ini pengobatan terkait kista sudah cukup canggih. Menurut dr Firman, banyak kasus bisa ditangani dengan metode laparoskopi.

Ini adalah prosedur operasi minimal invasif (sayatan kecil) untuk mendiagnosis dan mengangkat kista ovarium atau kista lainnya dengan cepat, menggunakan kamera khusus (laparoskop) melalui 1-3 sayatan kecil di perut.

"Bahkan kalau misalnya ada kanker ovarium, kalau stadiumnya sangat awal, kami benar-benar bisa tangani dengan baik. Bahkan metode operasinya seperti yang dilihat tadi, dengan laparoskopi," katanya.

"Tidak buka perut. Jadi bayangin, kamu cuma bikin 3-4 lubang kecil, masing-masing 5 mm, setengah cm bayangkan. Jadi operasi, 1-2 hari pasien sudah boleh pulang," tutupnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.