Wagub Kaltim Seno Aji Singgung Nama Desa Kahala Kutai Kartanegara di Kalafest 2026
Miftah Aulia Anggraini May 09, 2026 07:11 PM

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA – Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Aji memberikan sentuhan emosional saat membuka Bank Indonesia Kaltim Halal Festival 2026 atau Kalafest 2026 di Islamic Center Samarinda, Jumat (8/5/2026) malam.

Di hadapan para pelaku UMKM dan tamu undangan, Seno Aji menyinggung nama Desa Kahala di Kecamatan Kenohan, Kutai Kartanegara, saat menjelaskan akronim “Kala” yang merupakan singkatan dari Kaltim Halal.

Bagi Seno Aji, penyebutan Desa Kahala bukan sekadar kebetulan linguistik, melainkan simbol bahwa pengembangan ekonomi syariah harus menjangkau hingga pelosok desa, bukan hanya tumbuh di kawasan perkotaan.

Ia menegaskan, pembangunan ekonomi syariah harus mampu menciptakan pemerataan kesejahteraan dan membuka peluang usaha baru bagi masyarakat akar rumput.

Baca juga: KalaFest 2026 Resmi Dibuka, BI Kaltim Dorong Ekonomi Syariah Menuju Gerbang IKN

Salah satu contoh nyata yang ditampilkan dalam Kalafest 2026 adalah pameran Batik Pewarna Alam yang menjadi salah satu primadona festival.

Produk tersebut dinilai tidak hanya memiliki nilai estetika dan budaya, tetapi juga memenuhi konsep industri halal dan ramah lingkungan yang kini mulai diminati pasar nasional hingga internasional.

"Ini wajah baru fashion Kalimantan Timur. Halal, ramah lingkungan, dan bernilai seni tinggi. Produk seperti inilah yang akan menyerap tenaga kerja dan mengentaskan kemiskinan," imbuhnya.

Menurut Seno Aji, penguatan industri kreatif berbasis halal menjadi salah satu strategi penting untuk mengurangi ketergantungan ekonomi Kaltim terhadap sektor ekstraktif seperti batu bara.

Baca juga: Ekonomi Syariah Kaltim Tumbuh 26,4 Persen, Seno Aji Siapkan Era Pasca Batu Bara

Karena itu, Pemprov Kaltim mulai mendorong percepatan sertifikasi halal bagi produk lokal agar mampu bersaing di pasar global.

Ia juga mengingatkan pelaku usaha terkait program “Wajib Halal Oktober” yang menjadikan sertifikasi halal sebagai standar penting dalam industri dan perdagangan modern.

Bagi pemerintah, sertifikasi halal kini tidak hanya dipandang sebagai kebutuhan religius, tetapi juga standar mutu dan daya saing produk.

"Kita tidak ingin ekonomi syariah hanya berhenti pada angka pertumbuhan. Kita ingin manfaatnya nyata: lapangan kerja terbuka, kesenjangan berkurang, dan masyarakat sejahtera secara berkeadilan," pungkasnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.