Dengar Keluhan Nelayan, KPU Beltim Gelar Kopi Sore Demokrasi untuk Tekan Angka Golpu
Ardhina Trisila Sakti May 09, 2026 07:24 PM

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Belitung Timur terus bergerak aktif melakukan edukasi pemilih meski saat ini sedang berada di masa non-tahapan Pemilu maupun Pemilihan lainnya, Sabtu (9/5/2026).

Mengusung konsep santai dan tanpa sekat, KPU Beltim menggelar sosialisasi bertajuk Kopi Sore Demokrasi. Kegiatan ini menyasar segmen pemilih yang dikhususkan para nelayan di Warung Kopi Ali, kawasan Lipat Kajang, Desa Baru, Manggar.

Suasana warkop pesisir yang biasanya riuh akan tawa canda para nelayan berubah menjadi ruang diskusi. Para anggota KPU Beltim duduk santai sembari menyeruput kopi bersama para nelayan yang sedang beristirahat melaut.

Namun, suasana santai ini tidak membuat diskusi menjadi dangkal. Dalam dialog tersebut, para nelayan tak segan meluapkan kejenuhan mereka terhadap dinamika politik yang terjadi selama ini.

Keluhan utama yang muncul dari para nelayan adalah rasa jenuh terhadap janji-janji manis kampanye yang dianggap jarang terealisasi setelah pemilihan usai dan para calon sudah duduk di kursi jabatan.

"Jujur saja, bagi kami lebih baik turun ke laut cari ikan daripada ke TPS. Kalau melaut hasilnya jelas untuk makan keluarga hari itu. Kalau memilih, ujung-ujungnya kami cuma dapat janji-janji saja," ujar satu di antara nelayan.

Aspirasi mengenai kesejahteraan, bantuan alat tangkap, hingga stabilitas harga BBM menjadi poin penting yang mereka anggap sering terlupakan oleh calon terpilih saat sudah menjabat.

Menanggapi hal tersebut, Divisi Sosdiklih Parmas dan SDM KPU Beltim, Asrikhah mencoba melakukan pendekatan persuasif ke para pemilih di pesisir.

Asrikhah menjelaskan bahwa memilih untuk menjadi golongan putih (golput) justru berisiko memperpanjang masalah yang selama ini dikeluhkan oleh masyarakat pesisir.

"Kami ingin merubah pola pikir bahwa suara bapak-bapak ini sangat berharga. Jika kita memilih untuk diam dan tidak ke TPS, maka kebijakan yang tidak pro-nelayan justru akan terus bertahan karena kita tidak memberikan perlawanan lewat suara," ujar Asrikhah.

KPU Beltim menyampaikan tiga poin utama kepada para nelayan. Pertama, hak pilih adalah alat kontrol rakyat untuk menentukan siapa yang layak duduk di kursi kebijakan, terutama di sektor kelautan.

Kedua, nelayan diajak untuk lebih teliti mengenali rekam jejak calon. Asrikhah mengatakan tujuannya agar mereka tidak lagi terjebak oleh janji-janji manis yang hanya muncul saat menjelang hari pemungutan suara.

"Jangan hanya melihat apa yang dijanjikan hari ini, tapi lihat apa yang sudah dilakukan sebelumnya," ucapnya.

Ketiga, Asrikhah menekankan bahwa bobot suara masyarakat pesisir memiliki nilai yang sama pentingnya dengan pemilih dari segmen manapun.

"Kami datang ke sini bukan untuk memaksa, tapi untuk mendengarkan. Kami ingin memastikan bapak-bapak nelayan paham bahwa surat suara yang dicoblos itu adalah titipan nasib untuk lima tahun ke depan," ungkapnya.

Asrikhah menambahkan jika masyarakat memilih untuk abai atau tidak menggunakan hak pilihnya, maka secara otomatis mereka kehilangan hak untuk menagih perubahan.

Adapun selain melakukan sosialisasi, KPU Beltim juga menegaskan komitmennya dalam menjaga kevalidan data pemilih melalui proses pencocokan dan penelitian (coklit) berkelanjutan di berbagai segmen.

Melalui kegiatan Kopi Sore Demokrasi ini, KPU Beltim berharap dapat meruntuhkan tembok pembatas antara penyelenggara pemilu dan masyarakat yang selama ini merasa suaranya tidak didengar.

(Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.