Rangkuman Kiai Cabul: Kisah Ashari Ganti Nama Samsuri hingga Dukun yang Nyamar Jadi Kiai
Ilham Bintang Anugerah May 09, 2026 08:42 PM

- Ashari, tersangka pencabulan terhadap santriwati di Pondok Pesantren di Kecamatan Tlogowungu, Pati diamankan polisi dalam pelariannya ke Kecamatan Purwantoro, Wonogiri Kamis (7/5/2026).

Lokasi persembunyian Ashari bukan tempat biasa. Ashari memilih sebuah lokasi yang dianggap sakral oleh sebagian orang, yakni Gedong Giyono yang merupakan Komplek Makam Raden Gunungsari.

Menurut keterangan warga, lokasi yang terletak di Dusun Wotgalih, Desa Bakalan itu kerap dijadikan tempat "panyuwunan" atau tempat untuk meminta bagi yang punya hajat entah apapun itu.

Lokasinya berada di atas bukit, jauh dari pemukiman ramai warga, sekira 2 kilometer. Hanya ada beberapa rumah warga di dekat petilasan itu. Jalan menuju ke sana menanjak terjal dan berkelok.

Di sana, Ashari menginap di rumah warga bernama Tejo yang memang kerap digunakan para peziarah beristirahat. Jaraknya kurang lebih 200 meter dari petilasan tersebut.

Kepada TribunSolo, Tejo menceritakan kronologi kedatangan buronan polisi itu. Pada Rabu (6/5/2026) pagi, Ashari tiba di rumahnya dengan diantar oleh warga.

Warga itu awalnya melihat Ashari di pemukiman selepas subuh. Ketika ditanya tujuannya adalah ke Gedong Wiyono. Warga itu kemudian menawarkan diri mengantar.

"Datang pertama itu kan “kulo nuwun” saya persilahkan masuk, yang mengantar kok Mas Sidam, tetangga," ujarnya.

Saat ditanya, Ashari mengaku dirinya bernama Samsuri yang berasal dari Semarang. Pengakuan Ashari, tujuannya kesana satu, menjalankan "tugas" dari gurunya.

"Namanya Samsuri, dari Semarang. Kesini perlunya apa katanya disuruh gurunya menjalankan tiga tahun puasa. Sudah dapat tiga bulan disuruh napak tilas kesini, petilasanya Gusti Wali di Gedong Wiyono," jelas Tejo.

Saat itu, Tejo dengan keramahannya menyambut Ashari layaknya tamu biasa. Ia sempat menawarkan kopi kepada Ashari, namun tawaran itu ditolak.

Ashari mengaku masih berpuasa sehingga enggan menerima tawaran kopi itu. Disitu, Ashari meminta izin kepada Tejo untuk tinggal sementara waktu.

"Minta maaf katanya tidak diberi uang saku oleh gurunya, minta tolong tinggal sementara disini," ujarnya.

Selama disana, menurut pengelihatan Tejo, Ashari juga menjalankan shalat lima waktu. Dalam kurun waktu sehari, kurang lebih Ashari ke petilasan empat kali.

Pada Rabu sore, Ashari sempat bertanya kepada Tejo apakah ada motor bodong yang dijual. Karena tidak ada, Tejo akhirnya mengantarkan Ashari ke sebuah delaer motor bekas di Purwantoro.

Di dealer itu, gerak-gerik Ashari cukup meyakinkan. Di sana ia melihat-lihat sepeda motor second itu dan mencari yang harganya di bawah Rp 5 juta.

Karena tak ada motor seharga di bawah Rp 5 juta, mereka berdua kembali ke rumah Tejo. Menjelang maghrib, Ashari sempat pamit ke petilasan.

Timbul Kecurigaan
Malam harinya, Ashari sempat meminta izin untuk meminjam sepeda motor Tejo pada esok hari pukul 03.00 pagi dengan alasan ingin menemui temannya di Purwantoro.

Tak ada prasangka apapun, Tejo mengizinkan motornya dipinjam oleh Ashari. Namun malam itu, kecurigaan Tejo mulai muncul. Pasalnya, Ashari mematikan beberapa lampu di rumah itu, mulai dari kamar, ruang tengah dan teras.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.