Bocah SD di Lombok Tewas setelah Ikut Tren Freestyle, Ini Penjelasan Sekolah
Glery Lazuardi May 10, 2026 01:38 AM

TRIBUNNEWS.COM - Kabar duka menyelimuti warga Desa Lenek Baru, Kecamatan Lenek, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

Seorang murid kelas 1A sekolah dasar bernama Nizan meninggal dunia setelah diduga mengalami cedera akibat aksi freestyle di rumahnya.

Peristiwa tersebut sempat menjadi perhatian publik setelah beredar informasi di media sosial yang menyebut korban mengalami cedera saat kegiatan olahraga di sekolah.

Namun pihak sekolah menegaskan kejadian itu tidak terjadi di lingkungan sekolah.

Wali kelas 1A, Sakiatun Nisa, mengatakan pihak sekolah sejak awal mengetahui korban cukup sering tidak masuk sekolah.

“Saya tanyakan kepada kakaknya yang di kelas 5 kenapa adiknya jarang masuk. Dijawab karena sering telat bangun dan lebih sering main HP di rumah,” ujar Sakiatun saat ditemui Jumat (8/5/2026).

Menurutnya, korban diasuh oleh kakek dan nenek karena kedua orang tuanya bekerja di luar negeri sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI).

Beberapa hari kemudian, pihak sekolah mendapat informasi bahwa korban mengalami demam dan sakit kepala.

Tak lama berselang, sekolah menerima kabar bahwa korban dirujuk ke RSUD Selong sebelum dipindahkan ke RSUD Provinsi NTB karena kondisi kesehatannya memburuk.

“Kita kaget, tiba-tiba anak ini dirujuk ke RSUD Provinsi NTB, karena kami tidak mengetahui sakitnya apa,” katanya.

Baca juga: Viral Pemotor Freestyle di Sarinah, Pimpinan Komisi III DPR: Bahaya Kalau Ring 1 Bisa Kecolongan

Para guru kemudian menggalang bantuan dan menjenguk korban di rumah sakit. Namun mereka hanya diperbolehkan melihat dari luar ruang ICU.

“Saya sebagai wali kelas hanya bisa melihat dari pintu. Wajahnya biasa saja, hanya kepala yang dibalut perban dan tangannya terpasang infus,” ujarnya.

Korban sempat dipindahkan ke ruang rawat inap sebelum kondisinya kembali menurun. Pihak sekolah kemudian mendapat kabar bahwa korban harus menjalani operasi kedua.

“Di operasi kedua itulah dia meninggal,” tutur Sakiatun.

Pihak sekolah menegaskan tidak pernah mengetahui ataupun melihat korban melakukan aksi freestyle di lingkungan sekolah. Menurutnya, insiden diduga terjadi di rumah korban.

“Saya tegaskan, kejadian ini di rumah, bukan di sekolah. Tidak ada kejadian saat olahraga atau patah leher di lingkungan sekolah,” tegasnya.

Ia menjelaskan keluarga korban awalnya mengira kondisi Nizan hanya sakit biasa sehingga hanya diberi obat demam dan sakit kepala di rumah.

Kondisi korban baru dianggap serius setelah muncul gangguan gerak hingga akhirnya dibawa ke fasilitas kesehatan.

Selain itu, pihak sekolah juga menyayangkan beredarnya foto korban di media sosial yang telah diedit dan dikaitkan dengan aksi freestyle menggunakan atribut sekolah.

“Yang saya unggah hanya foto biasa untuk kenangan di dinding kelas. Tapi kemudian disandingkan dengan foto-foto freestyle memakai seragam sekolah. Itu sangat disayangkan,” ungkapnya.

Pasca kejadian tersebut, pihak sekolah mengaku langsung memberikan sosialisasi kepada siswa mengenai bahaya gerakan berisiko dan pentingnya pengawasan orang tua terhadap anak di rumah.

“Anak kita sangat berharga. Kami sudah mengingatkan orang tua agar lebih menjaga anak-anak di rumah,” pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.