Rusia, Victory Day, dan Mimpi Pax Russica
Glery Lazuardi May 10, 2026 05:35 AM
PROFIL PENULIS
Boy Anugerah
Tenaga Ahli Bidang Hubungan Internasional dan ESDM DPR RI & Founder Senayan Geopolitical Forum (SGF)

SETIAP tanggal 9 Mei, Rusia melakukan “ritual” rutin kenegaraan yang diselenggarakan di Moskow dan perwakilan diplomatik Rusia di seluruh dunia, yakni peringatan kemenangan Rusia dan kekalahan Nazi Jerman pada perang dunia ke- 2—Rusia menyebutnya perang patriotik raya, yang terjadi pada 9 Mei 1945.

Di Rusia, Victory Day menjadi hari libur terpenting dan dirayakan dengan menampilkan parade militer atau unjuk kekuatan angkatan bersenjata Rusia. Secara filosofis, peringatan Victory Day dimaksudkan untuk mengenang pengorbanan jutaan tentara dan warga sipil Soviet—nama Rusia pada waktu itu, yang gugur dalam perang patriotik raya.

Acara peringatan juga berlaku di seluruh Kedutaan Besar Rusia yang ada di negara-negara sahabat, termasuk Indonesia. Kedutaan Besar (Embassy) Rusia di Jakarta misalnya, akan mengirimkan undangan kepada pemerintah Indonesia dan perwakilan diplomatik negara-negara sahabat lainnya untuk memperingati perayaan tersebut.

Acara tidak hanya diisi dengan makan dan minum bersama para pejabat diplomatik sebagaimana layaknya kalangan diplomat bersua, tapi juga diskusi tajam dengan mengundang para akademisi, pengamat, dan kalangan diplomatik untuk membahas situasi geopolitik terkini.

Pasca penyelenggaraan, pejabat diplomatik Rusia akan memberikan laporan dan masukan mengenai situasi terkini di negara penugasan masing-masing.

Peringatan Victory Day yang dilakukan oleh Rusia sejatinya bukanlah acara seremonial atau simbolik belaka. Hanya segelintir negara yang memperingati momen sakral perang dunia dalam rasa khidmat dan bangga. Jepang misalnya, selalu dalam suasana yang diliputi kesedihan mendalam apabila mendengar frasa perang dunia, karena mengingatkannya akan tragedi jatuhnya bom nuklir—fat man and little boy, di Hiroshima dan Nagasaki pada 6-9 Agustus 1945.

Dalam konteks Rusia, peringatan rutin Victory Day setiap tanggal 9 Mei merupakan habituasi kebangsaan sekaligus kenegaraan yang dibangun untuk memelihara sikap patriotisme dan nasionalisme warga Rusia untuk terus bangga akan kemampuan negaranya.

Tiga Mantra Keruntuhan Soviet

Rusia hari ini dengan stigmatisasi sebagai negara kuat secara politik dan militer, serta kerap dianggap sebagai satu-satunya negara yang mampu memainkan peran penyeimbang kekuatan (balancing of power) terhadap Amerika Serikat (AS), bukanlah negara yang kuat secara taken for granted.

Pecahnya Uni Soviet pada 1990-an yang menandai berakhirnya era perang dingin menjadi sirkumstansi yang tidak menguntungkan bagi Rusia. Semangat glasnost, perestroika, dan uskoreniye yang menjadi penyebab runtuhnya Soviet menghadirkan kritisisme yang kuat dari masyarakat Soviet pada waktu itu terhadap pemerintahan yang bersifat otoriter dan militeristik.

Glasnost yang bermakna keterbukaan ternyata memicu kebebasan berpendapat dari warga negara Soviet pada masa itu dan pada ujungnya memunculkan tuntutan transparansi dan akuntabilitas dari pemerintah. Sementara itu, perestroika yang dimaksudkan Mikhail Gorbachev—pemimpin Soviet pada masa itu, sebagai jalan keluar atas krisis ekonomi dan politik justru berkembang menjadi celah masuknya desentralisasi ekonomi dan sistem pasar bebas.

Demikian juga dengan uskoreniye yang bermakna percepatan. Upaya percepatan pertumbuhan ekonomi dengan meningkatkan produktivitas, investasi, dan kampanye anti-alkohol berujung pada inflasi.

Suksesor Uni Soviet

Namun demikian, Rusia yang lahir pasca Soviet runtuh dan dianggap sebagai satu- satunya penerus ideologis Soviet bangkit secara cepat untuk menata diri dan membangun kekuatannya kembali. Periode ketika mundurnya Gorbachev pada 1992 dan beralihnya tampuk kepemimpinan ke Boris Yeltsin menjadi periode transisi terberat bagi Rusia. Rusia mengalami krisis ekonomi yang parah dengan tingkat kemiskinan yang tinggi.

Namun demikian, perlahan tapi pasti, Rusia melakukan transformasi politik untuk membangun kekuatannya kembali. Rusia bertransformasi dari negara satu partai (komunis) menjadi negara berbentuk federasi demokrasi. Rusia juga memimpin persemakmuran negara-negara bekas Uni Soviet—Commonwealth of Independent States/CIS, yang beranggotakan 15 negara. Inilah titik tolak kebangkitan Rusia.

Jika hari ini dunia melihat Rusia sebagai negara yang militeristik, cenderung tertutup, dan dikendalikan oleh seorang pemimpin bertangan besi seperti Vladimir Putin, maka itu adalah resultante logis dari pembelajaran sejarah dan mode survival of the fittest yang dilakukan Rusia untuk mempertahankan eksistensinya hari ini. Tidak dimungkiri bahwa Rusia yang berbagi ruang hidup (lebensraum) dengan negara-negara Eropa diperlakukan layaknya Iran di Timur Tengah—dianggap bukan Eropa dan dialienasi.

Para sejawatnya di Eropa bahkan menempatkan Rusia sebagai ancaman dan berlindung dalam payung militer NATO yang dipimpin oleh AS. Namun yang cukup menarik, meskipun dikucilkan di Eropa, Rusia memainkan keunggulan sumber daya alamnya sebagai kuasa energi yang berperan signifikan dalam menentukan geopolitiknya di kancah dunia.

Pax Russica

Rusia juga mewarisi sistem persenjataan Uni Soviet yang masif dan canggih, sehingga menempatkannya sebagai negara berkekuatan nuklir dunia, setara dengan AS dan sekutu-sekutunya. Ketika dunia disibukkan oleh diskursus mengenai munculnya Pax Sinica sebagai antitesis Pax Americana melalui kebangkitan Tiongkok dengan ekonomi dua digitnya dalam dua dekade terakhir, Rusia sudah membangun Pax Russica jauh sebelum Tiongkok melakukannya.

Posisi Rusia yang sangat kuat hari ini, yang notabene adalah mitra strategis bagi Tiongkok sendiri, lawan yang diperhitungkan secara serius oleh AS, produsen energi tempat negara kawasan bergantung, serta membangun poros militer dan geokonomi dalam bentuk Shanghai Cooperation Organization (SCO) dan BRICS+, merupakan langkah terukur dan sistematis dalam membangun Pax Russica tersebut.

Dalam konteks memelihara eksistensinya, serta memastikan agar peta jalan Pax Russica tetap berjalan secara progresif, Rusia tidak akan menolerir setiap ancaman terhadap kedaulatannya. Hal ini jugalah yang memantik Rusia untuk melakukan serangan militer ke Ukraina pada 2022 terkait niat Ukraina menjadi anggota NATO.

Bagi Rusia, bergabungnya Ukraina ke dalam NATO berarti menjadikan “halaman belakang” Rusia sebagai moncong meriam yang siap menghancurkan Rusia sendiri. Bagi Rusia, Ukraina adalah halaman belakang yang vital dalam menyangga keamanan Rusia, terlepas dari aspek historis masa lalu yang melekat. 

Bergabungnya Ukraina ke dalam NATO, bukan hanya menjadi ancaman geopolitik dan militer yang serius bagi Rusia, tapi juga tamparan keras bagi kepemimpinannya di bekas negara-negara Soviet. Bagi negara-negara di dunia, termasuk Indonesia, Rusia dapat menjadi pembelajaran penting nan menarik tentang sebuah negara yang persisten dalam mempertahankan eksistensinya di kancah geopolitik dunia. Kebesaran Soviet sebagai imperium politik mampu diwarisi dengan membangun imperium baru yang lebih modern dan sesuai perkembangan zaman.

Terlepas dari apa pun kritik dunia terhadap otoritarianisme yang masih melekat di negara ini, dunia perlu berterima kasih atas balancing of power yang dimainkan oleh Rusia terhadap AS. Tanpa perimbangan kekuatan yang dimainkan oleh Rusia, dunia akan sangat mudah tergelincir dalam unipolarisme yang dimainkan oleh AS, seperti yang ditunjukkan dalam kasus perang AS-Iran saat ini. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.