Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Feronike Rumere
TRIBUN-PAPUA.COM, MIMIKA – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kabupaten Mimika mengungkap sejumlah faktor yang menyebabkan hujan masih sering terjadi di wilayah Mimika meskipun sudah memasuki periode angin Timur.
Forecaster BMKG Mimika, Dwi Christanto menjelaskan, curah hujan di Mimika pada Mei 2026 masih dipengaruhi kondisi atmosfer dan suhu permukaan laut yang cukup tinggi.
Menurutnya, pola curah hujan di Mimika mengalami gradasi sejak awal tahun dan diperkirakan mencapai puncaknya pada Juli mendatang sebelum mulai menurun.
Baca juga: DPR Papua Tengah Desak Pusat Ubah Aturan Tambang Rakyat Demi Warga Lokal
“Untuk bulan Mei ini sebenarnya masih dalam gradasi dari Januari dan Februari. Puncaknya diperkirakan terjadi di bulan Juli baru kemudian turun,” ujar Dwi saat ditemui Tribun-Papua.com kemarin.
Ia menjelaskan, suhu permukaan laut di wilayah Timika saat ini berada di kisaran 29 hingga 31 derajat Celsius. Kondisi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan jumlah uap air di atmosfer yang memicu terbentuknya awan hujan.
“Kalau suhu permukaan laut di atas 29 derajat Celsius, potensi penambahan uap air cukup besar,” kata Dwi.
Selain itu, hujan di Mimika juga dipengaruhi pertemuan antara angin laut dan angin gunung yang biasanya terjadi pada malam hingga dini hari.
Baca juga: Minyak Tanah Mahal di Wamena Hingga 25 Ribu/Liter, Uang Sayur hingga Jajan Anak Ikut Terpangkas
Menurut Dwi, kondisi tersebut memicu tumbukan dua massa udara sehingga menimbulkan hujan pada pagi hari, terutama di wilayah pesisir.
“Biasanya hujan terjadi dini hari sekitar pukul 04.00 hingga 06.00 WIT karena ada pertemuan angin laut dan angin gunung,” jelasnya.
Sementara pada siang hingga sore hari, angin laut dari arah tenggara cenderung lebih kuat sehingga memicu pertumbuhan awan konvektif atau awan petir, khususnya di wilayah pegunungan.
Ia menyebut kondisi tersebut dipengaruhi angin timuran yang berasal dari Australia dan membawa perubahan arah angin di wilayah Papua.
Baca juga: Perang Suku dan Uang Perdamaian: Luka Sosial di Tanah Papua Pegunungan
“Angin dari Australia masuk ke Timika lalu mengalami pembelokan. Kalau angin berubah arah atau berbelok, biasanya ada potensi pertumbuhan awan,” ujarnya.
BMKG juga mencatat adanya pengaruh tekanan rendah dan siklon tropis di sebelah utara Papua yang turut memengaruhi pergerakan angin di wilayah Mimika.
Terkait kondisi perairan, Dwi mengatakan tinggi gelombang di perairan Timika tergolong rendah hingga sedang.
“Untuk wilayah perairan Timika tinggi gelombang berkisar 0,5 hingga 1,25 meter, sedangkan di perairan bagian tengah bisa mencapai 1,25 hingga 2,5 meter,” katanya.
BMKG terus mengimbau masyarakat agar rutin memantau perkembangan cuaca melalui informasi resmi yang disampaikan setiap hari melalui media sosial dan grup pesan singkat.
Baca juga: TSE Group Merajut Karakter Generasi Papua di Momentum Hardiknas
“Kami terus memperbarui informasi cuaca setiap hari supaya masyarakat bisa tetap waspada terhadap perubahan cuaca di Timika,” tuturnya.
Meski cuaca kerap berubah, aktivitas penerbangan di Timika hingga kini masih berjalan lancar. Namun BMKG tetap mengingatkan adanya potensi gangguan apabila terjadi penurunan jarak pandang atau angin kencang.(*)