TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah Perindustrian dan Perdagangan (DKUKMPP) Kabupaten Bantul mencatat harga jual kedelai impor mengalami kenaikan sejak beberapa waktu terakhir.
"Dari awal bulan kemarin sampai sekarang sih, trennya agak naik. Dari Rp11.500-an per kilogram sekarang menjadi Rp11.740 per kilogram," kata Kepala DKUKMPP Bantul, Prapta Nugraha, Minggu (10/5/2026).
Kenaikan harga jual kedelai impor dimungkinkan terjadi diduga dari pengaruh geopolitik dan melemahnya nilai rupiah. Sedangkan, hampir 90-an persen kedelai yang dijual di Bantul merupakan kedelai impor.
Kedelai itu kerap digunakan untuk pembuatan produk tempe maupun tahu. Walau harga naik, Prapta mengimbau kepada masyarakat untuk tidak panic buying sebab stok kedelai mampu memenuhi permintaan pasar.
"Stoknya ada, cuma ya harapannya produsen tempe maupun kedelai bisa menyiasati dengan efisiensi produksi atau manajemen efisiensi. Jadi, diharapkan tidak menaikkan harga jual tempe, tahu, maupun produk berbahan kedelai," harapnya.
Kendati demikian, kondisi kenaikan harga kedelai ini diharapkan dapat memberikan motivasi kepada para petani untuk menanam atau memproduksi kedelai lokal.
Apalagi, kualitas produk kedelai lokal tak kalah saing. Bahkan, dari segi rasa, kedelai lokal dinilai lebih enak dibandingkan kedelai impor.
Hanya saja, harga jual kedelai impor lebih murah dibandingkan kedelai lokal. Di mana, kedelai lokal pada saat ini memiliki harga jual sekitar Rp12.000-Rp13.000 per kilogram.
"Sebenarnya, dari segi kualitas produk kedelai kita enggak salah saing. Dan kedelai kita juga ada yang dikirim untuk pabrik susu atau produk lain yang sebenarnya tidak kalah mutu," terang Prapta.
Sementara itu, salah satu penjual kendelai di Pasar Bantul, Sugi (36), menyebut harga jual kedelai impor saat ini Rp12.000 per kilogram dan harga sebelumnnya Rp11.500 per kilogram.
"Ya naik Rp500 per kilogram. Itu sudah sebulanan. Saya enggak tahu penyebab pastinya. Tapi, karena itu impor, jadi kemungkinan ya ongkos kirim naik atau dampak geopolitik," ujarnya.
Kenaikan harga jual kedelai impor ternyata mempengaruhi penjualan produk. Biasanya, pembeli yang membeli satu kilogram, kini menjadi setengah kilogram.
Satu di antara penjual tempe di Pasar Bantul, Pujiati (65), mengaku merasakan kenaikan harga jual kedelai. Ia memilih untuk menjual tempe kedelai dengan untung sedikit dibandingkan menaikkan harga jual.
"Kalau naikin harga jual, takut enggak laku. Jadi, ya udah pakai untung sedikit saja enggak apa-apa," ucapnya.
Tempe yang dijual olehnya merupakan buatan dari keluarga Pujiati dengan menggunakan lapisan daun. Harga tempe kedelai impor yang ia jual cukup beragam.
"Ini ada yang saya jual tiga bungkus tempe kecil cuma Rp1.000 dan kalau ukuran besar satu dihargai Rp500," tutupnya.(nei)