TRIBUNMANADO.CO.ID - Pelita, renungan Pria Kaum Bapa (P/KB) Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) dalam sepekan mulai 10 - 16 Mei 2026.
Pembacaan alkitab terdapat pada 1 Korintus 1:18-2:5.
Tema perenungan adalah Iman Kamu Jangan Bergantung Pada Hikmat Manusia, Tapi Pada Kekuatan Allah.
Khotbah:
Sahabat-sahabat Pria/Kaum Bapa yang dikasihi dan diberkati Tuhan,
Yesus pernah berkata "Berbahagialah mereka yang tidak melihat Aku namun percaya" (Yohanes 20:29).
Ini menekankan iman yang sejati karena percaya kepada firman Allah dan percaya akan salib (dan kebangkitan) Kristus, bukan berdasarkan pada penglihatan mata.
Sebab itu dalam kitab Ibrani dikatakan "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat" (Ibrani 11:1).
Pria/Kaum Bapa yang dikasihi Tuhan,
Jemaat Korintus terbentuk oleh pelayanan Injil dari rasul Paulus. Dalam perjalanan misi kedua, ia tiba di Korintus setelah
meninggalkan Atena sekitar tahun 50-52 Masehi.
Paulus tinggal di Korintus selama 1 tahun 6 bulan (Kisah Para Rasul 18:11).
Korintus adalah kota pelabuhan penting di Yunani dalam kekuasaan Romawi sebagai pusat perdagangan, budaya dan
filsafat.
Masyarakatnya majemuk terdiri dari Yahudi, Yunani dan Romawi.
Dikenal sebagai kota duniawi dengan tradisi penyembahan berhala: dewi Afrodite. Jemaat di Korintus terancam dengan gaya hidup yang bertentangan dengan cara hidup baru sebagai penganut ajaran Kristus.
Terkait konteks historis perikop ini, Paulus menuliskan suratnya kepada jemaat yang sedang terancam terpecah dalam
kelompok-kelompok yang bernama golongan Paulus, Apolos, Kefas/Petrus dan Kristus.
Masing-masing kelompok mengklaim kebenaran yang dipegangnya bergantung pada kemampuan manusia seperti kepandaian, kefasihan, ketokohan.
Pusat iman Kristen adalah salib Kristus. bukan pada kemampuan retorika yang diagung-agungkan oleh manusia.
Pria/Kaum Bapa yang dikasihi Tuhan,
Banyak orang dunia (non Yahudi) berusaha mencari hikmat atau kekuatan dari dunia dan orang Yahudi mencari
tanda (kehadiran sosok penguasa dunia secara politis), namun Allah memberikan Kristus yang tersalib yang dianggap hina dan bodoh oleh sebagian orang. Kenyataannya Allah justru membuat yang dianggap hina itu adalah kemuliaan dan yang dianggap lemah adalah kekuatan.
Kuasa Allah bekerja melalui apa yang dianggap hina dan lemah. Tidak banyak orang yang berhikmat, berkuasa, terpandang dipanggil dan menjadi percaya.
Allah memilih yang bodoh dan lemah untuk membuat mereka yang berhikmat dan kuat menjadi malu.
Firman ini mengajarkan kita sebagai manusia jangan sekali-kali memegahkan diri atau menyombongkan diri: apalagi
bersikap angkuh dan merendahkan orang lain.
Ingatlah kalau kita bermegah itu karena kemegahan Tuhan yang memberikan keselamatan, kekuatan dan hikmat.
Bermegah di sini untuk kebesaran nama Tuhan bukan untuk meninggikan diri sendiri.
Lagipula kekuatan dan hikmat kita adalah anugerah Allah untuk pekerjaan pelayanan di dalam dunia melalui berbagai profesi atau peran kita demi kemuliaan nama-Nya.
Meski ia melayani dalam kelemahan, takut dan gentar tapi Roh Allah yang senantiasa menuntunnya.
Ia tidak bergantung dan terpengaruh dengan penilaian orang dalam pelayanannya tetapi ia memiliki keyakinan penuh akan kekuatan roh Allah membimbingnya.
Mari kita sebagai P/KB dalam melaksanakan tugas pelayanan kita jangan pernah bergantung dan terpengaruh
dengan kata orang asalkan kita melayani dengan baik dan benar bahkan dengan tulus.
Apapun yang kita perbuat, perbuatlah dengan segenap hati seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.
Dalam segala hal, mari kita meminta hikmat Tuhan, tekun berdoa dan belajar firman serta memohon agar Roh Kudus
selalu memberi kita pertolongan dan penghiburan di dunia yang penuh dengan cobaan dan tantangan silih berganti. Amin.
Pertanyaan untuk PA:
1. Apa yang saudara pahami tentang hikmat Tuhan dan hikmat manusia menurut bacaan Alkitab saat ini?
2. Bagaimana cara agar P/KB memiliki hikmat Tuhan dan menghindari agar tidak dikuasai oleh hikmat dunia? Berikan
contoh-contoh praktis hidup bergantung pada kekuatan Allah.
Sumber: Komisi P/KB Sinode GMIM edisi April-Mei 2026