Pakatuan Wo Pakalawiren, Renungan Lansia GMIM, Iman Kamu Jangan Bergantung Pada Hikmat Manusia
Chintya Rantung May 10, 2026 08:22 PM

TRIBUNMANADO.CO.ID - Pakatuan Wo Pakalawiren, renungan lansia Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) dalam sepekan mulai 10-16 Mei 2026.

Pembacaan alkitab terdapat pada 1 Korintus 1:18-2:5.

Tema perenungan adalah Iman Kamu Jangan Bergantung Pada Hikmat Manusia Tetapi Pada Kekuatan Allah.

Khotbah:

Ibu, Bapak Lansia yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus, 

Pernahkah kita melihat pohon tua yang besar? 

Batangnya mungkin sudah tidak seindah dulu. Ada bagian yang lapuk. Ada ranting yang patah.

Bahkan mungkin tidak lagi berbuah sebanyak masa mudanya. Namun, ketika badai datang, justru pohon tua itu tetap berdiri teguh karena akarnya sudah sangat dalam.

Ia sudah melewati banyak musim: Musim hujan, musim kemarau, angin kencang, bahkan badai.

Semua itu membuat akarnya semakin kuat mencengkram tanah. 

Demikian juga dengan kehidupan Ibu Bapak Lansia. Mungkin secara fisik kita melemah.

Mungkin kita tidak lagi tampil di depan, tetapi akar iman kita sudah dalam.

Kita telah melewati masa kekurangan, masa perjuangan membesarkan anak, masa kehilangan orang yang dikasihi dan semua itu membuat iman kita berakar.

Iman yang teguh. Iman yang tidak bergantung pada hikmat manusia melainkan pada kekuatan Tuhan Allah. 

Ibu, Bapak Lansia yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus, 

Tema ibadah kita di minggu ini adalah: Iman Kamu Jangan Bergantung pada Hikmat Manusia, tetapi pada Kekuatan Allah. 
Tema ini diangkat berdasarkan I Korintus 1:18-2:5.

Dalam bagian Alkitab ini, Paulus menuliskan tentang: Pertama, pasal 1:18-25, tentang Salib adalah kekuatan 
Tuhan Allah.

Hal ini tidak seperti kebenaraan lain yang dapat ditemukan oleh hikmat manusia. Malahan hikmat manusia 
dapat mengaburkan kebenaran Salib Yesus Kristus. 

Pemahaman tentang Salib, terbagi dalam dua kelompok yaitu, mereka yang menerimanya, tetapi dalam perjalanan menuju kebinasaan dan mereka yang menerimanya sebagai kekuatan Tuhan Allah. 

Salib merupakan penggenapan nubuat nabi Yesaya, bahwa Tuhan Allah membalikkan hikmat dunia 
(Yesaya 29:14).

Pesan Salib jelas, bahwa penderitaan merupakan salah satu misteri manusia yang terbesar.

Karena itu, dengan hikmat dunia sekolompok orang melihat Salib sebagai batu sandungan.

Baik orang Yahudi yang mengharapkan tandatanda, maupun orang Yunani yang mencari hikmat.

Bagi kedua kelompok ini, Salib membutakan mereka sehingga tidak dapat melihat apa yang dialami. Paulus menggambarkan, "Kami bodoh oleh karena Kristus, tetapi kamu arif dalam Kristus.

Walaupun dianggap kebodohan oleh manusia. 

Kedua, pasal 1:26-31, Paulus menantang anggota jemaat di Korintus untuk merenungkan sejarah mereka sendiri. 

Mereka hidup dalam dunia yang mengunggulkan orang berhikmat, berpengaruh, terpandang, tetapi jemaat Korintus 
tidak termasuk di antara mereka ini.

Dan mereka dipanggil Tuhan Allah bukan karena mereka layak, walaupun kenyataannya mereka dicemooh oleh dunia, dianggap tidak layak dan tidak jujur oleh orang-orang yang menganggap diri saleh.

Karena ada gejala mereka mungkin akan tergoda oleh keinginan untuk diterima dunia, maka Paulus mengingatkan 
saudara-saudaranya dalam iman, bahwa Tuhan Allah telah memulai dalam diri mereka dengan menyatakan yang kuat 
kebodohan, kebanggaan yang angkuh di hadapan Tuhan Allah.

Paulus menegaskan bahwa Tuhan Allah yang memberi kehidupan, hikmat, kebenaran, kesucian dan penebusan, 
menghendaki bahwa semua itu menjadi milik semua orang percaya pada Yesus Kristus. 

Ia tidak mengandalkan kata-kata yang indah (TB Edisi 2: muluk) atau argumentasi yang memikat. Bagi PauIus, iman dibangun atas kekuatan Tuhan Allah.

Itulah sebabnya, ia mengingatkan jemaat Korintus supaya iman mereka jangan bergantung pada hikmat manusia tetapi pada kekuatan Tuhan Allah.

Ibu, Bapak Lansia yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus, 

Firman Tuhan hari ini mengajarkan kita bahwa bahwa ketika kita ada pada karya Yesus Kristus di Salib". Apa yang tampak 
lemah, justru menjadi sarana kuasa Tuhan Allah dinyatakan. 

Tuhan Allah memilih yang lemah, supaya tidak ada seorang dunia mungkin berkata, "Nilai seseorang ada pada kekuatan 
dan prestasinya", Tuhan Allah menunjukkan bahwa nilal hidup pun yang memegahkan diri.

Di masa Lanjut Usia, mungkin kita merasa: tubuh tidak sekuat dulu, daya ingat tidak setajam dulu, peran di gereja atau keluarga berubah, tetapi justru di situlah Tuhan Allah bekerja.

Keterbatasan bukan penghalang bagi kuasa Tuhan Allah. Iman kita tidak tergantung pada kemampuan fisik atau intelektual.

Walau tubuh melemah, kuasa Tuhan Allah tidak pernah melemah. Hidup yang sederhana, doa yang tekun dan kesetiaan, semua itu berharga di hadapan Tuhan Allah.

Firman Tuhan hari ini mengajarkan kita bahwa sebagaimana Paulus tidak datang dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan bukti kuasa Roh, maka iman orang percaya tidak boleh berdiri di atas kepintaran 
manusia, metode atau strategi, tokoh rohani tertentu, melainkan berdiri di atas kuasa Tuhan Allah. 

Sebagai Lansia, kita juga diingatkan untuk terus mewariskan teladan iman yang teguh kepada anak cucu. Iman 
yang tidak bergantung pada hikmat manusia, melainkan pada kekuatan Tuhan Allah. Amin. 

Sumber: Bidang Ajaran dan Tata Gereja Sinode GMIM edisi April-Mei 2026

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.