Laporan Wartawan TribunJatim.com, Fikri Firmansyah
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA – Wacana pemerintah terkait program studi yang dinilai kurang relevan dengan kebutuhan masa depan dan dunia industri menjadi perhatian perguruan tinggi di Indonesia.
Namun, alih-alih menutup program studi, kampus kini didorong melakukan pengembangan dan penyesuaian agar tetap adaptif terhadap perkembangan zaman.
Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Prof Brian Yuliarto yang menegaskan bahwa program studi yang dianggap kurang relevan bukan untuk ditutup, melainkan dikembangkan agar selaras dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Baca juga: Peminat UPN Veteran Jatim Melonjak 50 Persen: Kedokteran dan Bisnis Digital Jadi Primadona SNBP 2026
Menanggapi hal itu, Wakil Rektor I Bidang Akademik UPN Veteran Jawa Timur, Prof. Euis Nurul Hidayah, S.T.,M.T.,Ph.D mengatakan bahwa pada dasarnya seluruh program studi dikembangkan berdasarkan kebutuhan pengguna lulusan dan tantangan dunia kerja.
“Program studi dikembangkan berdasarkan kebutuhan pengguna lulusan, yang digambarkan dalam bentuk profil profesional mandiri pada program studi, kemudian diterjemahkan dalam kurikulum melalui capaian pembelajaran lulusan,” ujarnya kepada Tribun Jatim Network, Sabtu (9/5/26).
Menurutnya, ketika sebuah program studi dinilai kurang relevan, maka langkah yang perlu dilakukan adalah evaluasi dan pengembangan secara menyeluruh, mulai dari kurikulum hingga kualitas sumber daya manusia pengajarnya.
“Jika program studi dinilai kurang relevan, perlu ditinjau kembali kurikulumnya, mungkin perlu pengembangan dan penyegaran dosen atau SDM, serta melakukan tracer study secara cermat agar ada data yang jelas terkait profil lulusan,” katanya.
Prof Euis menjelaskan, seluruh program studi di UPN Veteran Jawa Timur telah melakukan peninjauan kurikulum secara berkala. Pembaruan dilakukan menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, hingga isu yang berkembang di dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
“Setidaknya ada perbaikan berkelanjutan pada materi, modul, metode, dan proses pembelajaran yang diselaraskan dengan perkembangan keilmuan dan isu-isu di lapangan,” jelasnya.
Dalam mengukur relevansi sebuah program studi, kampus menggunakan sejumlah indikator penting, seperti tingkat penyerapan lulusan di dunia kerja, kesesuaian pekerjaan dengan kompetensi lulusan, hingga waktu tunggu mendapatkan pekerjaan.
Selain itu, pihak kampus juga memperhatikan umpan balik dari pengguna lulusan terhadap lulusan yang dihasilkan.
“Indikator yang digunakan antara lain jumlah lulusan yang bekerja sesuai profil profesional mandiri program studi, jumlah lulusan yang bekerja, berwirausaha maupun studi lanjut, serta feedback dari pengguna lulusan,” ungkapnya.
Meski muncul kekhawatiran terkait program studi yang dianggap kurang relevan, Prof Euis menyebut animo masyarakat terhadap program studi di UPN Veteran Jawa Timur secara umum masih cukup baik.
“Sejauh ini rata-rata peminat atau animo pada program studi cenderung meningkat, walaupun ada beberapa program studi yang fluktuatif,” ujarnya.
Ia menambahkan, belum terjadi penurunan signifikan jumlah pendaftar di lingkungan kampus tersebut. Namun, menurutnya masih banyak calon mahasiswa yang belum memahami prospek karier dari sejumlah program studi tertentu.
“Calon mahasiswa belum mengenal atau belum mendapatkan informasi lebih lengkap terkait hal yang dipelajari maupun potensi pengembangan karier, sehingga cenderung memilih program studi yang lebih dikenal,” katanya.
Untuk menjaga daya saing program studi, UPN Veteran Jawa Timur juga terus melakukan berbagai inovasi pembelajaran. Salah satunya dengan melibatkan praktisi industri dalam proses pengajaran hingga modernisasi fasilitas pembelajaran.
“Program studi melakukan inovasi pembelajaran dengan melibatkan praktisi mengajar, meningkatkan kompetensi dosen, melakukan kolaborasi dengan stakeholder, serta modernisasi sarana dan prasarana pembelajaran,” jelas Prof Euis.
Keterlibatan dunia industri dalam penyusunan kurikulum juga menjadi bagian penting dalam pengembangan program studi di kampus tersebut.
“Program studi wajib melibatkan dunia usaha, dunia industri, alumni, dan asosiasi keilmuan dalam melakukan peninjauan dan redesain kurikulum secara periodik,” tuturnya.
Di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), UPN Veteran Jawa Timur mulai mengintegrasikan teknologi tersebut dalam proses pembelajaran.
“Saat ini program studi telah mengimplementasikan kecerdasan buatan dan teknologi digital dalam proses pembelajaran, misalnya penggunaan AI untuk cek plagiasi karya sivitas akademika,” ujarnya.
Selain itu, kampus juga menerapkan berbagai strategi untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa agar siap menghadapi kebutuhan pasar kerja di masa depan, seperti project based learning, pengalaman belajar di luar kampus, hingga sertifikasi kompetensi.
Euis menilai, ke depan kebutuhan program studi akan semakin spesifik mengikuti perkembangan zaman yang berlangsung sangat cepat.
Baca juga: Peminat UPN Veteran Jatim Melonjak 50 Persen: Kedokteran dan Bisnis Digital Jadi Primadona SNBP 2026
“Perkembangan zaman sangat dinamis dan cepat, sehingga kebutuhan program studi akan menjadi lebih spesifik dan meningkat,” katanya.
Ia pun mengingatkan calon mahasiswa agar memilih program studi berdasarkan kebutuhan dan prospek masa depan, bukan sekadar mengikuti tren.
“Memilih program studi karena kebutuhan atau need, bukan sekadar keinginan atau want, sehingga calon mahasiswa harus mengetahui profil profesional mandiri dan peranannya dalam perkembangan keilmuan,” ungkapnya.
Prof Euis juga menegaskan bahwa proses pendidikan di Perguruan Tinggi tidak cukup hanya diukur dari keterserapan pada dunia industri saja, melainkan juga harus memberikan bekal kuat pada kemampuan kognitif, critical thingking termasuk kemampuan dalam menyelesaikan masalah yang terjadi, dan membangun nilai-nilai, moral serta adab.
“Namun yang paling penting adalah dengan menguatkan kemampuan kognitif, critical thingking, problem solving, serta membangun nilai-nilai, moral terlebih pada penguatan adab untuk membentuk SDM yang berbudi pekerti sebagai penerus bangsa ini, dan itu yang kami lakukan melalui penguatan karakter nilai-nilai bela negara,” pungkasnya.