'Yang Lain Boleh Hilang Asal Kau Jangan', Tangis Haru Penonton di Yogyakarta Merawat Kenangan
Yoseph Hary W May 10, 2026 10:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM - Kehilangan memori tentang sosok-sosok tersayang menjadi salah satu ketakutan terdalam manusia. Resonansi emosi inilah yang berhasil ditangkap dan menyentuh hati ribuan penikmat sinema di berbagai penjuru Tanah Air pada akhir pekan ini. 

Sebelum tayang reguler di bioskop, drama keluarga bertajuk Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan bahkan telah memicu antrean penonton, tak terkecuali di Yogyakarta, yang seolah tak sabar merengkuh kembali kenangan masa kecil mereka.

Nonton prarilis

Merespons antusiasme publik yang meluap sejak acara gala premiere, rumah produksi Rapi Films, Screenplay Films, dan Vortera Studios mengambil langkah strategis dengan menggelar program penayangan spesial bertajuk ”Nonton Duluan”.

Kesempatan bagi para penggemar ini dibuka serentak di 40 kota dari Sabang hingga Merauke, mendahului rilis resminya.

Berlangsung selama dua hari pada Sabtu (9/5/2026) dan Minggu (10/5/2026), program prarilis ini menjadi wujud apresiasi bagi masyarakat yang ingin mengikuti lebih awal perjalanan emosional karakter Yuke dan Kesha. Di berbagai jaringan bioskop seperti XXI, CGV, hingga Cinepolis, tiket penayangan dilaporkan ludes terjual (sold out).

Diarahkan oleh sutradara Kuntz Agus dengan naskah garapan Alim Sudio, film ini mengangkat tema caregiving dan rapuhnya memori sebuah keluarga. Cerita berpusat pada perjuangan Kesha (diperankan Yasmin Napper), seorang mahasiswi film yang harus berhadapan dengan realitas menyakitkan tatkala ibundanya, Yuke (Lulu Tobing), perlahan kehilangan ingatan akibat penyakit Alzheimer. Penonton diajak untuk menghargai setiap detik kebersamaan dengan orang tercinta sebelum waktu merenggutnya.

Ketertarikan mengeksekusi film ini rupanya datang dari kedekatan personal sang sutradara dengan tema yang diangkat. Kuntz Agus mengaku langsung berminat setelah menerima sinopsis dari Sunil Samtani, mengingat saat itu ia juga tengah mengembangkan cerita bertema hilangnya ingatan (memory loss) dan hubungan keluarga.

Menurut Kuntz, naskah tersebut menyimpan kehangatan emosional yang kuat di balik konflik yang ada. Cerita itu dinilai berhasil menampilkan hubungan yang saling membutuhkan ketika dihadapkan pada masalah besar.

“Cerita ini menghadirkan kehangatan dan keterikatan keluarga saat menghadapi situasi sulit. Saya merasa proyek ini sangat menarik untuk dieksekusi bersama seluruh pemain,” ujar Kuntz Agus.

Untuk menciptakan kedalaman emosi, Kuntz memberikan ruang improvisasi bagi para pemeran—yang juga didukung oleh Ibnu Jamil, Shofia Shireen, dan Jordan Omar—agar karakter terasa lebih hidup dan alami di layar. Kedekatan para pemain bahkan telah dibangun melalui grup percakapan sebelum syuting dimulai, membuat energi kekeluargaan terasa makin meyakinkan.

Memantik tangis haru 

Kisah keluarga Yuke dan Kesha terbukti sukses memantik tangis haru di dalam studio. Banyak penonton mengaku keluar dari pintu bioskop dengan pandangan baru mengenai betapa mahalnya harga sebuah memori. Salah satu penonton, Nadia, mahasiswi asal Sleman, DI Yogyakarta, mengungkapkan bahwa film tersebut memproyeksikan kenangan pribadinya secara langsung.

“Rasanya habis nonton film ini aku mau peluk mama papa seerat mungkin. Aku jadi teringat kenangan-kenangan indah masa kecilku, ketika mama siapin bekal, berantem-berantem sama adik, semoga kenangan ini nggak akan pernah hilang,” sebut Nadia seusai penayangan, Minggu (10/5/2026).

Bagi masyarakat yang belum berkesempatan mengikuti agenda ”Nonton Duluan” di 40 kota tersebut, kehangatan memori keluarga Yuke dapat disaksikan serentak pada penayangan reguler mulai Rabu, 13 Mei 2026. Tiket dapat dipesan melalui platform daring seperti M-TIX, TIX ID, Cinepolis, dan CGV. Mengutip kampanye dari film tersebut, ”Yang Lain Boleh Hilang, Kesempatan Ini Jangan,” publik diajak bersiap menyiapkan tisu dan merayakan arti kenangan bersama keluarga.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.