Impor Bahan Baku dan Penolong di DIY Turun
Yoseph Hary W May 10, 2026 10:14 PM

 

Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Nilai impor DIY pada Maret 2026 mencapai US$9,29 juta. Secara tahunan terjadi penurunan sebesar 36,34 persen dibanding Maret 2025. Pada Maret 2025, nilai impor DIY sebesar US$14,60 juta.

Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, Endang Tri Wahyuningsih mengatakan andil utama nilai impor disumbang oleh bahan baku penolong yang berkontribusi 90,69 persen pada total impor DIY.

Andil bahan baku penolong

“Penurunan nilai impor secara tahunan utamanya disebabkan oleh turunnya impor bahan baku dan penolong. Nilai impor bahan baku penolong turun 36,54 persen pada Maret 2026 (yoy),” katanya, Minggu (10/5/2026).

Endang menerangkan ada tiga komoditas unggulan impor bahan baku dan penolong yakni kain rajutan, kereta api, trem, dan bagiannya, serta filamen buatan.

Komoditas kain rajutan memberikan andil 24,64 persen pada impor bahan baku dan penolong. Namun, pada Maret 2026 impor komoditas ini turun sebesar 46,99 persen dari US$4,32 juta pada Maret 2025 menjadi US$2,29 juta pada Maret 2026.

Sementara kereta api, trem, dan bagiannya memberikan andil 17,78 persen, dan pada Maret 2026 mengalami kenaikan impor sebesar 177,72 persen. Pada Maret 2025, nilai impor sebesar US$0,59 juta dan meningkat menjadi US$1,65 juta pada Maret 2026.

Kemudian komoditas filamen buatan memberikan kontribusi 9,27 persen pada impor bahan baku penolong. Pada Maret 2026, nilai komoditas ini turun 1,81 persen dari US$0,85 juta pada 2025 menjadi US$0,86.

“Kereta api, trem, dan bagiannya seluruhnya kita impor dari Amerika Serikat. Kemudian filamen buatan paling banyak kita impor dari Taiwan, Korea Selatan, dan Tiongkok,” terangnya.

Ia menjelaskan secara kumulatif nilai impor DIY mengalami penurunan 20,77 persen. Pada Januari hingga Maret 2026, nilai impor DIY sebesar US$38,01 juta, sementara pada Maret 2025 nilai impornya mencapai US$47,97 juta.

Penurunan impor disumbang oleh impor bahan baku dan penolong yang berkontribusi sebesar 89,10 persen.

“Menurut penggunaannya, barang konsumsi turun 19,81 persen, bahan baku penolong turun 20,16 persen, dan barang modal turun 34,97 persen. Barang modal turun cukup besar, ini karena turunnya mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya. Utamanya memang dari Amerika Serikat, Hong Kong, dan Tiongkok” jelasnya.

Negara asal impor

Pada triwulan I 2026, Tiongkok menjadi negara asal impor terbesar, disusul Hong Kong, Amerika Serikat, Taiwan, Korea Selatan, dan negara lainnya. 

Komoditas yang diimpor dari Tiongkok antara lain kain rajutan, kain tekstil dilapisi atau dilaminasi, dan kapas.

Sementara komoditas yang diimpor dari Hong Kong adalah kain rajutan, kain kempa, benang khusus, dan benang pintal, serta kain tenunan khusus.

Sedangkan komoditas yang diimpor dari Amerika Serikat adalah kereta api, trem, dan bagiannya, kemudian mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, dan kain tekstil dilapisi atau dilaminasi. (maw)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.