SURYA.co.id | SURABAYA - Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) komitmen memperkuat peran perguruan tinggi sebagai pusat peradaban melalui gelaran Rector’s Expressions (REx) Chapter 3 dalam rangkaian Festival Kebangsaan GEMA KAMPUS ke-7 di Universitas Negeri Surabaya (UNesa), Sabtu (9/5/2026).
Forum ini mempertemukan para rektor perguruan tinggi negeri, akademisi, peneliti, serta pemangku kepentingan strategis untuk merumuskan arah kebijakan pendidikan tinggi yang lebih berakar pada identitas bangsa sekaligus responsif terhadap dinamika global. tema yang diangkat “Sejarah dan Budaya sebagai Rute Peradaban dan Energi Potensial Bangsa,”
Wakil Rektor UNESA Bidang Perencanaan, Pengembangan, Kerja Sama, dan Teknologi Informasi dan Komunikasi, Dwi Cahyo Kartiko, menuturkan REx jadi ruang strategis bagi pimpinan perguruan tinggi untuk bertukar gagasan dan solusi dalam menghadapi tantangan pembangunan sumber daya manusia.
"Forum ini diharapkan dapat melahirkan strategi konkret yang berdampak langsung bagi kemajuan pendidikan tinggi dan pembangunan nasional," sebut Dwi Cahyo Kartiko dalam sambutannya.
Ketua MRPTNI, Eduart Wolok, menegaskan pentingnya menjadikan sejarah dan budaya sebagai pijakan utama dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Menurut Eduart Wolok, kekayaan dan keberagaman Indonesia harus dipahami sebagai kekuatan strategis yang tercermin alam kolaborasi antar perguruan tinggi. Ia mendorong penguatan sinergi antara perguruan tinggi dan embaga riset nasional untuk mempercepat pencapaian tujuan pembangunan bangsa.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Arif Satria, mengatakan Indonesia merupakan titik tengah peradaban dunia yang memiliki kekayaan sejarah panjang dan posisi geostrategis yang sangat penting. Sejarah tidak boleh dipandang sekadar sebagai catatan masa lalu, melainkan sebagai fondasi epistemik, sumber identitas kebangsaan, instrumen diplomasi budaya, modal geostrategis serta rute peradaban untuk membangun masa depan bangsa.
“Sejarah harus menjadi inspirasi dalam membangun pengetahuan dan kepercayaan diri bangsa. Tanpa pemahaman yang kuat terhadap jati diri, sulit bagi Indonesia untuk tampil sebagai kekuatan global,” ucap Arif Satria.
Arif Satria menyoroti pentingnya penguatan perspektif internal dalamstudi sejarah dan kebudayaan, serta mendorong pengembangan riset multi disiplin berbasis data yang mampu merekonstruksi perjalanan panjang peradaban Nusantara. Dalam konteks tersebut, ia secara khusus merekomendasikan perguruan tinggi untuk mengembangkan riset mengenai rute peradaban Nusantara di berbagai bidang strategis—mulai dari sosial, budaya, politik hingga hukum—melalui pendekatan lintas disiplin yang terintegrasi.
Ditambahkan Arif Satria , BRIN siap memfasilitasi dukungan pendanaan bagi riset-riset tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem riset nasional yang berbasis pada kekayaan sejarah dan budaya Indonesia.
Pandangan kritis turut disampaikan oleh sejarawan Hilmar Farid, yang menyoroti pentingnya menghidupkan kembali perspektif Indonesia sebagai negara arkipelagis. Ia menilai bahwa selama ini cara pandang terhadap pembangunan masih didominasi perspektif daratan, sehingga mengabaikan potensi besar yang dimiliki Indonesia sebagai bangsa maritim.
“Peradaban Nusantara dibangun di atas jaringan, bukan kemurnian. Laut bukan pemisah, melainkan penghubung. Cara membaca Indonesia harus bergeser dari pendekatan kolonial-ekstraktif menuju perspektif arkipelagis yang lebih sesuai dengan karakter bangsa,” tegas Arif Satria.
Muhammad Najib Azca menegaskan, Indonesia memiliki posisi strategis tidak hanya secara geopolitik, tetapi juga sebagai episentrum spiritual dan intelektual. Ia mendorong penguatan riset berbasis budaya maritim, digitalisasi aset kebudayaan, serta integrasi pengetahuan modern dengan kearifan lokal dalam sistem pendidikan tinggi.
“Kampus harus menjadi pusat peradaban yang mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan modern dengan warisan budaya Nusantara. Sejarah tidak boleh berhenti sebagai nostalgia, tetapi harus menjadi blueprint masa depan,” jelas Najib.
Diskusi interaktif yang melibatkan para rektor dan pemangku kepentingan juga menyoroti berbagai tantangan strategis, mulai dari minimnya rekonstruksi sejarah dalam kebijakan pembangunan hingga perlunya penguatan literasi kebudayaan yang lebih inklusif dan tidak bias regional. Para peserta sepakat bahwa penguatan sejarah dan budaya harus menjadi bagian integral dari transformasi pendidikan tinggi di Indonesia.
Dalam perspektif yang lebih luas, penguatan literasi sejarah dan budaya melalui forum ini juga dinilai memiliki kontribusi penting terhadap stabilitas, keamanan, dan ketahanan nasional. Pemahaman yang kuat terhadap jati diri bangsa diyakini mampu memperkuat kohesisosial, mencegah disorientasi identitas di tengah arus globalisasi, serta menjadi fondasi dalam menjaga persatuan Indonesia.
Rector’s Expressions (REx) Chapter 3 menjadi bagian penting dari upaya MRPTNI dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berakar kuat pada nilai-nilai peradaban bangsa.
Forum ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi strategis yang konkret bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan pendidikan tinggi berbasis sejarah dan budaya, memperkuat kolaborasi antar perguruan tinggi, serta mendorong lahirnya generasi Indonesia yang berdaya saing global tanpa kehilangan jati diri kebangsaannya. (Ary Julianto/Tim Humas Unesa)