SURYA.CO.ID, SURABAYA – SMP Muhammadiyah 2 Surabaya menghadirkan konsep berbeda dalam pelaksanaan Festival Penilaian Akhir Semester (PAS).
Sebanyak 186 siswa kelas VII turun langsung ke ruang publik untuk menggelar kampanye perdamaian sebagai bagian dari pembelajaran berbasis proyek lintas mata pelajaran.
Kegiatan yang berlangsung di kawasan Jalan Tunjungan Surabaya, Minggu (10/5/2026), itu menjadi bentuk implementasi pembelajaran mendalam yang tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga menyentuh realitas sosial di tengah masyarakat.
Baca juga: SMP Muhammadiyah 2 Surabaya Berangkatkan 4 Guru Umrah di Momen Hari Guru Nasional 2025
Dalam aksi tersebut, para siswa membawa poster, banner, dan menyampaikan orasi damai kepada masyarakat.
Mereka mengangkat tema “Aksi Perdamaian Berkarakter” dengan pesan utama tentang pentingnya menjaga perdamaian dunia dan kepedulian terhadap dampak perang bagi kehidupan manusia maupun lingkungan.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Hubungan Masyarakat SMP Muhammadiyah 2 Surabaya, Yunan Imannu mengungkapkan, isu yang diangkat dalam kampanye ini adalah dampak sinar ultraviolet (UV) akibat peperangan.
"Para siswa menyampaikan, konflik tidak hanya menyebabkan kerusakan sosial dan kemanusiaan, tetapi juga berdampak terhadap lingkungan dan kesehatan," ujarnya kepada SURYA.co.id.
Berbagai poster berisi pesan perdamaian dibawa para siswa.
Di antaranya bertuliskan “Satu Dunia Satu Harapan Perdamaian”, “Harmoni adalah Kekuatan”, hingga “Biarkan Cinta Memimpin, Bukan Kebencian Memudar”.
Dikatakannya, kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran rumpun yang mengintegrasikan enam mata pelajaran, yakni Bahasa Indonesia, IPS, IPA, Seni Budaya, PJOK, dan Tapak Suci.
Menurutnya, melalui proyek kolaboratif seperti ini siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga diajak membangun kepedulian sosial dan keberanian menyampaikan gagasan di ruang publik.
“Melalui kegiatan ini, siswa belajar menyampaikan gagasan, membangun kepedulian sosial, serta mengasah keberanian untuk tampil di ruang publik. Ini bukan hanya penilaian akhir semester, tetapi pendidikan karakter dalam bentuk nyata,” ujarnya.
Sementara itu, koordinator lapangan kegiatan, Susilo Puguh, menjelaskan seluruh siswa terlibat aktif sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan kegiatan.
Mulai dari menentukan tema kampanye, membuat poster, menyusun pesan damai, hingga praktik penyampaian orasi dilakukan secara bersama-sama sebagai bagian dari pembelajaran berbasis proyek.
“Kegiatan ini melatih kerja sama, tanggung jawab, keberanian, dan kedisiplinan. Semua siswa punya peran masing-masing dalam menyukseskan aksi kampanye ini,” katanya.
Dalam modul pembelajaran rumpun, kegiatan tersebut dirancang untuk membentuk dimensi profil lulusan yang mencakup penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, dan kepedulian sosial.
Setiap mata pelajaran memiliki kontribusi masing-masing.
"Bahasa Indonesia menguatkan kemampuan menyusun teks ulasan, IPA membahas manfaat sinar matahari dan risiko paparan UV, IPS membangun kesadaran sosial, Seni Budaya memperkuat ekspresi visual dan vokal, sedangkan PJOK dan Tapak Suci membentuk kesiapan fisik dan mental siswa," urainya.