Inovasi Kandang Berpindah di Beltim, Asror Sulap Limbah Jadi Pupuk Organik
Asmadi Pandapotan Siregar May 11, 2026 03:24 PM

POSBELITUNG.CO, BELITUNG -- Di tengah mahalnya harga pupuk kimia, seorang petani di Kecamatan Dendang, Kabupaten Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung, memilih mencari solusi dari sesuatu yang selama ini kerap dianggap limbah.

Asror, petani lokal asal Dendang, mengembangkan metode budidaya kandang ayam berpindah untuk menghasilkan pupuk organik alami yang diyakini mampu memperbaiki kesuburan tanah sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.

Di lahan miliknya, Minggu (10/5/2026), tampak petak-petak tanah hitam yang gembur di antara hamparan tanah kering. Petak tersebut merupakan bekas lokasi kandang ayam modifikasi milik Asror yang dipindahkan setiap dua minggu sekali.

Sementara itu, bekas petak kandang yang ditinggalkan tidak dibiarkan begitu saja. Di sana tertinggal campuran kohe, arang sekam, abu boiler, dan serbuk gergaji yang telah menyatu secara alami selama dua pekan.

Bagi mata orang awam, campuran tersebut mungkin hanya dianggap limbah yang kotor. Namun petani, itulah resep rahasia yang sangat dibutuhkan tanaman karena kandungan unsur haranya yang lengkap, termasuk NPK (Nitrogen, Fosfor, dan Kalium).

"Inilah solusinya. Setelah kandang dipindah, kotoran dan campuran sisa ini sudah siap kita olah untuk ditanami sayuran atau tanaman lainnya," ujar Asror.

Inovasi ini Asror ini lahir karena desakan pekerjaan. Ia melihat kenyataan pahit di lapangan, dimana harga pupuk sedang meroket tinggi karena situasi global dan konflik internasional.

KANDANG BERPINDAH - Pembudidaya asal Kecamatan Dendang, Belitung Timur, Asror di atas petakan tanah bekas kandang ayam berpindah miliknya, Minggu (10/5/2026). Memanfaatkan campuran kotoran hewan, arang sekam, dan abu boiler, Asror menciptakan formula pupuk organik mandiri yang mampu memperbaiki kualitas tanah terdegradasi sekaligus menjadi solusi di tengah melambungnya harga pupuk kimia.
KANDANG BERPINDAH - Pembudidaya asal Kecamatan Dendang, Belitung Timur, Asror di atas petakan tanah bekas kandang ayam berpindah miliknya, Minggu (10/5/2026). Memanfaatkan campuran kotoran hewan, arang sekam, dan abu boiler, Asror menciptakan formula pupuk organik mandiri yang mampu memperbaiki kualitas tanah terdegradasi sekaligus menjadi solusi di tengah melambungnya harga pupuk kimia. (Posbelitung.co/ Kautsar Fakhri Nugraha/Kautsar Fakhri Nugraha)

Asror mengatakan kenaikan harga pupuk yang bahkan mencapai dua kali lipat tentu menjadi beban yang mencekik para petani lokal. Bergantung sepenuhnya pada kimia bukan lagi pilihan yang bijak, apalagi jika melihat kondisi tanah yang semakin tidak subur.

"Pupuk kimia kalau berlebihan itu justru jadi penyebab lahan terdegradasi. Tanah jadi mati," ucapnya.

Sebaliknya, penanaman menggunakan pupuk alami dari limbah kandang justru semakin baik jika jumlahnya melimpah. Semakin banyak diaplikasikan, semakin bagus kualitas tanahnya.

Adapun Asror menjelaskan bahwa penyebab dari kondisi tanah yang tidak subur adalah karena sejarah pulau Belitong yang lekat akan galian timah. Lahan-lahan ini seringkali menyimpan kandungan logam yang tinggi dan juga membuat struktur tanah rusak.

Di sinilah peran abu boiler dan arang sekam dalam campuran pupuk Asror menjadi sangat penting. Berdasarkan berbagai jurnal penelitian yang ia pelajari, material tersebut memiliki kemampuan untuk mengikat logam.

"Arang sekam dan abu boiler ini bisa mengikat logam. Artinya, ini bisa jadi penanganan untuk lahan bekas tambang agar bisa produktif kembali," ungkapnya.

Asror membayangkan sebuah masa depan di mana petani di Belitong tidak lagi mengeluh soal harga pupuk. Caranya tentu saja melakukan apa yang telah dijalankan Asror, ternak di dalam kebun.

"Cukup ternak ayam nanti di kebun kita, sudah dapat NPK-nya secara gratis. Kita tidak perlu lagi bergantung penuh pada kimia," ujarnya.

KANDANG BERPINDAH - Pembudidaya asal Kecamatan Dendang, Belitung Timur, Asror di atas petakan tanah bekas kandang ayam berpindah miliknya, Minggu (10/5/2026). Memanfaatkan campuran kotoran hewan, arang sekam, dan abu boiler, Asror menciptakan formula pupuk organik mandiri yang mampu memperbaiki kualitas tanah terdegradasi sekaligus menjadi solusi di tengah melambungnya harga pupuk kimia.
KANDANG BERPINDAH - Pembudidaya asal Kecamatan Dendang, Belitung Timur, Asror di atas petakan tanah bekas kandang ayam berpindah miliknya, Minggu (10/5/2026). Memanfaatkan campuran kotoran hewan, arang sekam, dan abu boiler, Asror menciptakan formula pupuk organik mandiri yang mampu memperbaiki kualitas tanah terdegradasi sekaligus menjadi solusi di tengah melambungnya harga pupuk kimia. (Posbelitung.co/ Kautsar Fakhri Nugraha/Kautsar Fakhri Nugraha)

Asror juga menganggap penerapan metode ini di lahan sawit yang saat ini sedang ramai di Belitong sangat memungkinkan. Kotoran ayam yang dihasilkan secara rutin akan menjadi asupan gizi langsung bagi pohon-pohon sawit, sekaligus memperbaiki struktur tanah yang biasanya padat di area perkebunan.

Asror percaya bahwa alam Belitong sebenarnya sudah menyediakan segalanya. Hanya saja, orang-orang sering kali terlalu malas untuk mengolah apa yang dianggap kotor, padahal berguna.

Meski inovasi Asror ini baru menggaung di tingkat lokal, namun pesan yang dibawanya sangat universal. Ia mengatakan kemandirian pangan harus dimulai dari diri sendiri.

Asror seolah ingin mengatakan bahwa tidak ada tanah yang benar-benar mati selama ada kemauan untuk berusaha merawatnya.

"Ke depan, metode berbasis limbah organik ini harus diterapkan lebih luas. Ini bukan sekadar tentang tani, tapi tentang menjaga masa depan tanah kita," ucapnya.

Apa yang dilakukan Asror adalah sebuah pengingat bahwa di balik masalah besar, solusinya mungkin ada tepat di bawah kaki kita. Dalam hal ini, Asror mendapatkan solusi dalam wujud limbah yang selama ini orang-orang abaikan.

Bekas-bekas kandang berpindah milik Asror membuktikan bahkan kotoran hewan pun bisa berubah menjadi berkah jika dikelola sesuai ilmu dan rasa kepedulian. (Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.