Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI melalui Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Andi Saguni, menegaskan hantavirus yang ditemukan di kapal pesiar MV Hondius dengan kasus yang ada di Indonesia. Meskipun keduanya disebabkan oleh virus Hanta, terdapat perbedaan mendasar pada jenis strain, gejala, hingga tingkat keparahannya.
Andi Saguni menjelaskan bahwa kasus di kapal pesiar MV Hondius merupakan tipe HPS (Hantavirus Pulmonary Syndrome) dengan strain Andes Virus yang lazim ditemukan di benua Amerika.
"Tipe HPS ini belum dilaporkan di Indonesia, baik pada manusia maupun tikus. Yang terjadi di Indonesia adalah tipe HFRS (Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome), sekali lagi berbeda dengan tipe yang terjadi di kapal pesiar Hondius," kata Andi Saguni dalam konferensi pers, Senin (11/5/2026).
Perbedaan paling mencolok terletak pada gejala klinisnya. Pada tipe HFRS, selain demam dan nyeri badan, gejala yang paling khas adalah ikterik atau jondis (tubuh menguning).
Sementara HPS yang ditemukan di MV Hondius, gejala utamanya adalah gangguan pernapasan berat (severe acute respiratory illness) dan tidak ada gejala tubuh menguning.
Selain itu, tikus pembawanya pun berbeda. Di Indonesia, virus disebarkan oleh Rattus norvegicus atau tikus got dengan strain Seoul Virus. Sementara Andes Virus di Amerika disebarkan oleh tikus liar jenis Oligoryzomys longicaudatus.
Di sisi lain, dunia internasional sedang menyoroti klaster Andes Virus di kapal pesiar MV Hondius yang membawa 149 orang. Hingga 10 Mei 2026, dilaporkan terdapat 6 kasus konfirmasi dan 3 kematian. Dengan angka kematian (Case Fatality Rate) mencapai 37,5 persen virus tipe HPS ini jauh lebih fatal dibandingkan tipe yang ada di Indonesia.
Meskipun risiko penyebaran global dinilai rendah oleh WHO, Kemenkes tetap mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan agar terhindar dari paparan ekskresi (kotoran dan urine) tikus yang menjadi faktor risiko utama penularan.





