Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo
TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Rutan Kelas IIB Boyolali terus berupaya membina warga binaan agar tetap produktif selama menjalani masa pidana.
Salah satu program pembinaan yang kini dikembangkan yakni budidaya melon hidroponik di area greenhouse rutan.
Hasilnya, warga binaan tak hanya belajar bertani modern, tetapi juga diberi kesempatan memperoleh premi dari hasil penjualan melon.
Kepala Rutan Kelas IIB Boyolali, Ervans Bahrudhin Mulyanto, mengatakan program tersebut menjadi bagian dari pembinaan kemandirian bagi warga binaan pemasyarakatan.
“Harapan kami warga binaan ini dapat premi dari rutan, dikasih ke istri atau anaknya. Walaupun sedang menjalani pidana tapi masih produktif, masih bisa membantu ekonomi keluarga,” jelas Ervans.
Melon yang dibudidayakan berjenis Sweet Lavender dengan sistem hidroponik di greenhouse Rutan Kelas IIB Boyolali.
Total terdapat 124 pohon yang ditanam dengan konsep satu pohon satu buah untuk menjaga kualitas dan tingkat kemanisan buah.
Menariknya, seluruh proses budidaya dikelola langsung oleh dua warga binaan.
Mereka belajar dari nol di bawah pendampingan petugas rutan dan Dinas Pertanian Kabupaten Boyolali.
Mulai dari penyemaian, pemupukan, polinasi manual hingga perawatan harian dilakukan sendiri oleh warga binaan.
Bahkan, pengecekan pH air dilakukan rutin setiap pagi dan sore guna memastikan nutrisi tanaman tetap optimal.
“Ini sebagai bentuk nyata pemberdayaan warga binaan pemasyarakatan agar mereka tetap produktif,” tambahnya.
Program pembinaan tersebut nantinya juga dikemas menjadi wisata petik melon yang dibuka untuk masyarakat umum mulai Senin (11/5/2026) hingga Sabtu (16/5/2026), pukul 09.00 sampai 16.30 WIB.
Baca juga: Kepala Rutan Solo Temukan Cara Rehabilitas Warga Binaan Melalui Seni dan Budaya
Baca juga: Potret Warga Binaan Rutan Solo Dapat Remisi Idulfitri, 18 Perempuan Peroleh Pemotongan Masa Tahanan
Masyarakat diperbolehkan masuk dan memetik melon langsung di greenhouse dengan syarat membawa kartu identitas untuk pendataan pengunjung.
Harga melon dipatok Rp30 ribu per kilogram, lebih murah dibanding melon premium di pasaran.
Ervans berharap program itu dapat menjadi bekal keterampilan bagi warga binaan setelah bebas nanti sekaligus mengubah stigma negatif masyarakat terhadap rutan.
“Tujuannya agar mereka punya bekal saat kembali ke masyarakat,” ucapnya.
Sementara itu, salah satu warga binaan pengelola greenhouse, Jawardi, mengaku baru pertama kali belajar menanam melon hidroponik selama berada di Rutan Boyolali.
Menurutnya, merawat melon hingga masa panen memiliki tantangan tersendiri, terutama faktor cuaca dan curah hujan.
“Baru pertama kali (menanam hidroponik), sebelumnya di rumah itu bantu orang tua di ladang. Jadi ini belajar dari nol,” bebernya. (*)