Setelah 12 Jam Rumah Terendam, Banjir Mulai Surut di Lhoksukon, Tanggul Jebol Belum Diperbaiki  
Muhammad Hadi May 11, 2026 07:25 PM

 Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Jafaruddin I Aceh Utara

SERAMBINEWS.COM,LHOKSUKON – Banjir yang merendam sejumlah gampong di Kecamatan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara, mulai surut pada Senin (11/5/2026) pagi setelah sebelumnya menggenangi pemukiman warga selama sekitar 12 jam.

Warga kini mulai membersihkan rumah dan lumpur sisa banjir sambil tetap waspada terhadap kemungkinan luapan susulan.

Banjir mulai merendam Gampong Kumbang LT pada Minggu (10/5/2026) sekitar pukul 20.00 WIB akibat meluapnya Krueng Peuto setelah hujan deras mengguyur wilayah Aceh Utara. 

Air baru mulai surut pada Senin pagi sekitar pukul 08.00 WIB.

Keuchik Kumbang LT, Zulkhairi, kepada Serambinews.com, Senin (11/5/2026), mengatakan ketinggian air di dalam rumah warga mencapai 30 hingga 50 sentimeter. 

Selain rumah penduduk, air juga merendam jalan desa dan area persawahan masyarakat.

“Air masuk ke rumah warga sejak tadi malam. Alhamdulillah pagi ini mulai surut dan warga sudah mulai membersihkan rumah masing-masing,” kata Zulkhairi.

Baca juga: Banjir Bandang Rusak 26 Rumah

Menurutnya, banjir yang terus berulang diperparah oleh kondisi tanggul Krueng Peuto yang telah jebol sejak tahun 2023. 

Kondisi tersebut kembali rusak parah saat banjir besar pada akhir November 2025 lalu.

“Sekarang sudah ada empat titik tanggul jebol dengan panjang keseluruhan sekitar 500 meter. Tahun 2026 ini saja sudah tiga kali banjir,” ujarnya.

Ia menyebut masyarakat mulai trauma, karena banjir terjadi hampir setiap tahun tanpa adanya penanganan serius dan permanen dari pihak terkait.

“Kalau memang mau mengatasi banjir, harus dibangun tanggul permanen seperti di perbatasan desa kami dengan desa tetangga yang dibangun tahun 2007. Sampai sekarang kondisinya masih bagus,” katanya.

Selain pembangunan tanggul permanen, Zulkhairi juga menyoroti pentingnya menjaga kawasan hutan di daerah hulu sungai agar bencana banjir tidak terus berulang.

“Selain itu yang paling penting adalah menjaga hutan. Kalau cuma dibangun tanggul darurat tidak akan bertahan lama. Hutan juga harus dijaga,” tegasnya.

Baca juga: Haji Uma Tinjau Persoalan Penerapan Desil Dalam Layanan JKA di RSUD Cut Meutia Aceh Utara

Ia menambahkan, sejumlah pihak termasuk Wakil Menteri PUPR sebelumnya juga telah meninjau kondisi tanggul yang rusak. Namun hingga kini, perbaikan permanen belum terealisasi.

Luapan air dari kawasan Kumbang LT turut merendam sejumlah desa tetangga, di antaranya Meunasah Meuria, Meunasah Buket, Dayah LT, Krueng LT, dan Geulumpang.

Air mulai naik sejak minggu malam

Seorang warga Lhoksukon, Sabil, mengatakan air mulai naik sejak Minggu malam setelah hujan deras turun selama beberapa jam.

Meski kondisi air berangsur normal, warga masih terus memantau debit sungai untuk mengantisipasi banjir susulan jika hujan kembali mengguyur kawasan hulu Krueng Peuto.

“Saat ini kami bersama warga lainnya terus memantau kondisi debit air guna mengantisipasi luapan susulan di kawasan rawan banjir tersebut,” pungkasnya.(*)

Baca juga: Harga Emas di Banda Aceh Tak ‘Berkutik’ Lagi Hari Ini, 11 Mei 2026 Tetap Dijual Segini Per Mayam

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.