Kutip Hadih Maja, Safrizal Ajak Aceh Bangun Harmoni dengan Alam
Ansari Hasyim May 11, 2026 07:25 PM

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Indra Wijaya | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri, Safrizal ZA, menegaskan bahwa pembangunan Aceh harus berjalan selaras dengan alam, bukan dengan cara menaklukkannya.

Penegasan tersebut disampaikan Safrizal saat membuka lokakarya bertema “Growth with Nature” yang digelar di The Pade Hotel, Banda Aceh, Senin (11/5/2026).

Dalam paparannya, Safrizal mengingatkan kembali tragedi tsunami Aceh 2004 yang merenggut lebih dari 170 ribu jiwa. Ia juga menyinggung bencana hidrometeorologi sepanjang 2025 yang menimbulkan kerugian nasional hingga Rp68,67 triliun dan memaksa lebih dari 2,2 juta kepala keluarga mengungsi.

Menurutnya, paradigma Growth with Nature harus menjadi arah baru pembangunan Aceh ke depan. Ia menyebut Kawasan Ekosistem Leuser sebagai modal ekologis dunia dengan nilai jasa lingkungan yang diperkirakan mencapai lebih dari USD 600 juta per tahun.

Baca juga: Kunjungi Sekolah di Sabang, Kak Na Ajak Siswa Perbanyak Konsumsi Ikan

“Menjaga hutan bukan beban pembangunan, tetapi investasi jangka panjang bagi ketahanan ekonomi dan keselamatan masyarakat,” ujar Safrizal.

Safrizal juga menekankan pentingnya kearifan lokal Aceh sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan. Ia mengutip Hadih Maja yang berbunyi, “Di bineh pasi ta pula aron, di dalam neuheun ta pula bangka,” yang bermakna menanam cemara di pesisir dan mangrove di tambak sebagai upaya melindungi masyarakat dari ancaman air pasang.

Menurutnya, pranata adat seperti Mukim, Panglima Laot, Panglima Uteun, dan Keujruen Blang menjadi bukti bahwa masyarakat Aceh telah mengenal prinsip keberlanjutan jauh sebelum istilah sustainability dikenal secara global.

Safrizal menambahkan, pembangunan Aceh ke depan membutuhkan langkah-langkah konkret, mulai dari penguatan tata ruang berbasis mitigasi bencana, regulasi kawasan lindung, pengembangan solusi berbasis alam, hingga penguatan masyarakat adat dan pembiayaan hijau.

“Tidak cukup hanya sama-sama bekerja, tetapi harus bekerja sama,” tegasnya.

Lokakarya tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi arah pembangunan Aceh yang lebih berkelanjutan melalui perpaduan ilmu pengetahuan modern, tata kelola pemerintahan yang baik, dan kearifan lokal masyarakat.

Teks Foto:
BERI SAMBUTAN – Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri, Safrizal ZA, saat membuka lokakarya Growth with Nature di Banda Aceh.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.