Madu Pelawan Khas Bangka jadi Primadona Dilirik Pasar Nasional hingga Internasional
Hendra May 11, 2026 07:28 PM

BANGKAPOS.COM,BANGKA — Di antara beragam jenis madu yang dihasilkan dari hutan Bangka Belitung, madu pelawan menjadi primadona.

Madu langka dengan cita rasa pahit yang khas ini tidak hanya diminati masyarakat lokal, tetapi juga dikenal luas hingga berbagai daerah di Indonesia Hingga madu Trigona dinilai memiliki potensi besar untuk menembus pasar internasional.

Juragan Madu Bangka menjelaskan madu pelawan dipasarkan sebagai produk premium khas Bangka. Pemilik usaha tersebut, Widi Prayogo, mengatakan madu pelawan merupakan identitas daerah yang memiliki keunikan tersendiri.

“Madu pelawan ini sangat terkenal. Kalau orang bicara madu pelawan, orang langsung ingat Bangka,” kata Widi kepada Bangkapos.com Senin(11/5/2026).

Menurutnya, madu pelawan dihasilkan dari nektar bunga pohon pelawan, tanaman endemik yang banyak tumbuh di Pulau Bangka. Madu ini diproduksi oleh lebah liar yang bersarang di hutan.

Ciri khas utama madu pelawan terletak pada rasanya. Saat pertama kali dikonsumsi, madu ini memberikan sensasi pahit yang cukup kuat.

Namun setelah diminum air putih, rasa pahit itu akan hilang dan berubah menjadi sensasi manis yang lembut di tenggorokan.

“Rasanya pahit di awal, tapi setelah minum air putih pahitnya hilang dan terasa manis. Itu yang membuat madu pelawan berbeda dengan madu lainnya,” ujar Widi.

Selain rasanya yang unik, madu pelawan juga tergolong sangat langka. Pohon pelawan hanya berbunga sekitar dua kali dalam setahun, dengan masa mekar yang relatif singkat.

“Bunganya hanya bertahan sekitar dua minggu. Kalau cuaca tidak mendukung, bunga bisa gugur sebelum sempat diambil nektarnya oleh lebah,” katanya.

Karena faktor tersebut, produksi madu pelawan tidak selalu tersedia dalam jumlah besar. Bahkan dalam beberapa musim, hasil panen bisa sangat terbatas.

“Setahun belum tentu panennya melimpah. Semua tergantung kondisi cuaca dan keberhasilan lebah mengambil nektar,” jelasnya.

Kelangkaan itu membuat harga madu pelawan lebih tinggi dibandingkan madu biasa. Di Juragan Madu Bangka, produk madu liar dijual mulai Rp84.000 untuk kemasan terkecil, sementara madu pelawan umumnya dibanderol lebih tinggi karena stoknya terbatas dan kualitasnya sangat eksklusif.

“Madu pelawan termasuk produk premium karena jumlahnya sedikit dan permintaannya cukup tinggi rata rata di harga Rp600 ke atas,” kata Widi.

Permintaan madu pelawan datang dari berbagai daerah seperti Jakarta, Balikpapan, Sulawesi, hingga sejumlah kota lain di Indonesia. Banyak pelanggan yang melakukan pembelian secara rutin.

“Ada yang pesan setiap bulan, ada juga yang dua sampai tiga kali setahun paling jauh balikpapan, langganan di Jabodetabek,” katanya.

Produk madu pelawan, madu hutan, dan madu kelulut tidak hanya dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga pernah mendukung pengiriman ke Malaysia serta menjajaki pasar Turki.

Pemilik Juragan Madu Bangka, Widi Prayogo, mengatakan seluruh produk madunya diproses dengan standar kualitas yang telah memenuhi persyaratan ekspor.

Untuk menjaga kualitas, seluruh madu diproses menggunakan teknologi dehumidifier agar kadar air turun menjadi 17–18 persen tanpa melalui proses pemanasan. Dengan metode tersebut, nutrisi alami madu tetap terjaga dan memenuhi standar kualitas ekspor.

“Produk kami sudah export quality. Kadar airnya kami turunkan hingga 17 sampai 18 persen menggunakan dehumidifier tanpa dipanaskan, sehingga kualitas dan nutrisinya tetap terjaga,” kata Widi.

Ia menjelaskan kadar air madu yang baru dipanen di Bangka Belitung umumnya masih cukup tinggi, yakni sekitar 28 hingga 29 persen. Karena itu, madu harus melalui proses pengurangan kadar air agar memenuhi standar kualitas internasional.

“Dengan alat dehumidifier, kadar air kami turunkan hingga 17–18 persen. Untuk pasar Asia, standar kadar air maksimal 19 persen,” ujarnya.

Meski belum mengekspor secara langsung, Juragan Madu Bangka pernah mendukung pengiriman madu kelulut atau trigona ke Malaysia selama hampir dua tahun.

“Waktu itu kami mengirim madu kelulut sekitar 300 kilogram per bulan. Pada periode tertentu bahkan bisa mencapai 500 kilogram per bulan,” ujarnya.

Madu tersebut digunakan pembeli di Malaysia sebagai suplemen alami. Namun kerja sama itu akhirnya dihentikan setelah pembeli meminta harga yang lebih rendah sehingga tidak lagi menguntungkan.

“Daripada menjual dengan harga yang tidak jauh berbeda dari pasar lokal, kami memutuskan fokus dulu ke pasar Indonesia,” katanya.

Selain Malaysia, Juragan Madu Bangka juga sempat menjalin komunikasi dengan pembeli dari Turki. Widi tiga kali mengirim sampel madu ke Ankara untuk diuji laboratorium.

“Buyer dari Turki tertarik menggunakan madu kami sebagai food supplement untuk peternakan sapi perah di Jerman,” ujarnya.

Namun kerja sama tersebut belum berlanjut karena pembeli menginginkan komposisi nutrisi yang konsisten pada setiap pengiriman, sementara madu Bangka memiliki karakter alami yang berubah sesuai sumber nektar dan musim bunga.

“Di situlah tantangannya. Madu kami berasal dari berbagai bunga seperti bakau, pelawan, rempudung, dan kayu batu. Jadi rasa dan kandungannya bisa berbeda-beda. Justru itu keunikan madu alami,” jelas Widi.

Menurut Widi, beberapa tahun lalu permintaan madu sempat melonjak tajam saat pandemi COVID-19 karena banyak masyarakat mengonsumsi madu untuk menjaga daya tahan tubuh.

“Waktu pandemi, omset kotor kami sempat mencapai Rp180 juta per bulan. Tapi itu hanya berlangsung beberapa waktu. Sekarang rata-rata omzet toko berada di kisaran Rp20 juta hingga Rp40 juta per bulan,” katanya.

harga mulai dari Rp84.000 untuk kemasan terkecil. Harga tersebut berlaku untuk madu berkualitas premium yang telah melalui proses pengolahan sesuai standar ekspor hingga Rp800.000.

“Harga kemasan paling kecil mulai Rp84.000. Ini sudah export quality kemudian di harga Rp800.00 an ada madu Pelawan yang khas dan langka di Bangka Belitung,” ujar Widi.

Widi optimistis madu pelawan akan terus menjadi produk unggulan yang mengangkat nama Bangka Belitung.

“Madu pelawan adalah produk khas yang tidak dimiliki banyak daerah. Kalau kualitasnya dijaga dan pemasarannya diperluas, madu ini bisa menjadi kebanggaan Bangka hingga ke mancanegara,” tutupnya. (Bangkapos.com/Erlangga)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.