Rekrutmen Nakes RSUD Koesnadi Bondowoso Dipersoalkan, Nilai Ujian Baru Dikeluarkan Setelah Viral
Haorrahman May 11, 2026 07:43 PM

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Bondowoso - Proses rekrutmen tenaga kesehatan (nakes) non-ASN di RSUD dr. Koesnadi Bondowoso menjadi perhatian. Setelah sebelumnya dokter spesialis internal rumah sakit mempertanyakan transparansi seleksi, kini peserta rekrutmen juga mulai buka suara terkait mekanisme penilaian dan sistem penerimaan, khususnya pada formasi perawat.

Sejumlah peserta menilai proses seleksi belum sepenuhnya transparan karena nilai ujian tidak langsung diumumkan sejak awal tahapan seleksi berlangsung.

Salah seorang peserta berinisial L mengungkapkan, nilai peserta baru diumumkan, Jumat (9/5/2026) sore, bertepatan setelah video pernyataan dokter spesialis RSUD dr. Koesnadi, Yusdeni Lanasakti, viral di media sosial.

Baca juga: Diduga ada Titipan, Rekrutmen Perawat RSUD Koesnadi Bondowoso Disorot, Nilai Tes Tak Dipublikasikan

“Baru keluar kemarin pas pengumuman kelulusan. Baru dikeluarkan. Baru viral baru dikeluarkan,” ujar L.

Tidak Ada Sistem Gugur

Menurut L, proses seleksi terdiri dari empat tahapan, yakni administrasi, tes tulis, uji keterampilan (skill test), dan wawancara. Namun, selama tiga tahap awal, seluruh peserta disebut tetap diloloskan tanpa ada penyaringan berdasarkan nilai.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan dari peserta mengenai parameter kelulusan pada setiap tahapan.

“Ketiga tahap itu tidak ada nilai yang keluar. Yang ikut tes tetap itu saja. Mungkin yang digugurkan hanya yang tidak datang saja. Tak transparannya di situ,” katanya.

Baca juga: Listrik Padam, RSUD dr Koesnadi Bondowoso Pastikan Pasien Gunakan Alat Bantu Aman

Ia menjelaskan, peserta sebenarnya sempat mengetahui hasil tes tulis sesaat setelah ujian berbasis komputer selesai dilakukan. Akan tetapi, nilai hanya muncul di layar komputer rumah sakit dan tidak dapat diakses kembali oleh peserta sebagai dokumentasi pribadi.

Saat proses seleksi berlangsung, para peserta mengaku belum mempermasalahkan kondisi tersebut karena masih fokus mengikuti tahapan berikutnya. Namun setelah pengumuman akhir diterbitkan, sebagian peserta mulai mempertanyakan konsistensi nilai yang muncul dalam dokumen pengumuman.

“Ada yang awalnya nilainya sekitar 30, tapi di pengumuman jadi 88. Kami bingung mau protes ke mana,” ungkapnya.

Dugaan Titipan

Di tengah polemik yang berkembang, L mengaku mulai banyak peserta lain yang berbicara mengenai dugaan praktik “uang masuk” atau titipan agar dapat diterima sebagai perawat.

Nilai yang disebut-sebut beredar bervariasi, mulai Rp 50 juta hingga Rp 100 juta.

Namun, L mengaku tidak menanggapi tawaran tersebut karena kondisi ekonomi keluarganya tidak memungkinkan.

“Itu sudah bukan rahasia umum lagi,” ujarnya.

Baca juga: Hingga Mei 2026, Ada 57 Kasus Kekerasan Anak dan Perempuan di Bondowoso

Mekanisme Seleksi

Dokter spesialis RSUD dr. Koesnadi, Yusdeni Lanasakti, sebelumnya juga mempertanyakan sistem seleksi yang meloloskan seluruh peserta pada setiap tahapan.

Menurutnya, jika seluruh peserta dinyatakan lolos di tiap tahap, maka fungsi penilaian sebagai dasar penyaringan menjadi tidak jelas.

“Kalau nilai keluar dan lulus semua, artinya kan nilainya bagus semua,” kata Yusdeni.

Berdasarkan dokumen pengumuman yang beredar, terdapat dua file PDF terkait hasil seleksi. Dokumen pertama berisi pengumuman tes kompetensi dengan dua kategori formasi perawat, yakni perawat ahli sebanyak 122 peserta dan perawat terampil sebanyak 96 peserta.

Namun, berbeda dengan formasi lain, dokumen tersebut tidak mencantumkan rincian nilai peserta perawat, baik nilai kompetensi, afirmasi, maupun total nilai.

Sementara pada dokumen kedua berupa pengumuman kelulusan final, hanya nilai peserta yang dinyatakan lolos yang dicantumkan. Sedangkan nilai peserta yang tidak lolos tetap tidak ditampilkan.

Baca juga: Polda Jatim Temukan 7 Senjata Api Dinas Tak Layak Pakai di Polres Bondowoso

Tanggapan RSUD Koesnadi


Direktur RSUD dr. Koesnadi Bondowoso, dr. Yus Priatna, menegaskan proses rekrutmen dilakukan secara transparan dan akuntabel.

Menurutnya, keputusan tidak menampilkan seluruh nilai peserta merupakan kebijakan panitia untuk mempercepat proses administrasi pengumuman.

Ia menjelaskan bahwa seluruh ujian dilakukan menggunakan sistem Computer Assisted Test (CAT), sehingga peserta sebenarnya dapat langsung mengetahui nilainya setelah menyelesaikan ujian.

“Begitu dia selesai mengerjakan, pesertanya sendiri tahu nilainya,” ujar Yus, Senin (11/5/2026).

Terkait dugaan perubahan nilai, Yus mempertanyakan kemungkinan manipulasi karena sistem yang digunakan berbasis komputer.

Ia juga menjelaskan alasan panitia tidak menerapkan sistem gugur pada tahapan awal seleksi. Menurutnya, rumah sakit ingin mendapatkan kandidat terbaik dengan mempertimbangkan seluruh komponen penilaian, termasuk wawancara, skill test, dan psikotes.

“Kalau kita gunakan sistem gugur, takutnya nanti yang kita terima yang tidak terbaik,” katanya.

Yus membantah keras adanya praktik titipan dalam rekrutmen tersebut.

“Tidak ada titipan,” tegasnya.

Siap Diaudit

RSUD dr. Koesnadi, lanjut Yus, siap apabila proses rekrutmen diaudit oleh Inspektorat untuk memastikan seluruh tahapan berjalan sesuai aturan.

Ia juga menyatakan rekrutmen ulang dapat dilakukan apabila ditemukan pelanggaran berdasarkan hasil pemeriksaan resmi.

“Kalau tidak terbukti, tidak bisa dibatalkan. Nanti bisa berhadapan dengan mereka yang sudah lulus,” ujarnya.

Terkait kritik yang disampaikan dokter Yusdeni Lanasakti, Yus menilai hal itu kemungkinan terjadi karena kurangnya komunikasi dengan panitia seleksi.

“Belum tabayyun mungkin ke panitia,” katanya.

Menurut Yus, pihak legislatif, termasuk Komisi IV DPRD Bondowoso dan Ketua DPRD, juga telah meminta penjelasan terkait proses rekrutmen tersebut dengan penekanan pada aspek transparansi.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.