Kuliner Legendaris Makin Laris Berkat QRIS, Jadah Tempe Mbah Carik 76 Tahun Kian Eksis
Putradi Pamungkas May 11, 2026 09:15 PM

 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Hanang Yuwono

TRIBUNSOLO.COM, YOGYAKARTA - Sudimah Wiro Sartono, generasi kedua Jadah Tempe Mbah Carik Kaliurang, meninggal dunia pada Selasa petang, 11 Januari 2022 lalu dalam usia 92 tahun. Meskipun legenda kuliner Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) itu telah tiada, namun warisannya berupa resep kuliner legendaris diteruskan anak cucunya.

Di tangan generasi penerus, Jadah Tempe Mbah Carik masih eksis sebagai destinasi kuliner khas DIY sampai saat ini. 

Kisah Jadah Tempe Mbah Carik bermula pada era 1950-an. Saat itu, jadah tempe hanyalah penganan sederhana masyarakat desa. Jadah dibuat dari ketan yang ditumbuk dan dicampur kelapa, menghasilkan tekstur kenyal dengan rasa gurih yang khas. Pasangannya adalah tempe atau tahu bacem bercita rasa manis, dibungkus daun pisang dan disantap bersama cabai rawit.

Adalah Sastro Dinomo, seorang carik atau perangkat desa di Kaliurang, yang pertama kali memperkenalkan jadah tempe kepada para pelancong yang datang ke kawasan wisata lereng Merapi. Dari profesinya itulah kemudian muncul sebutan “Mbah Carik”, nama yang kelak melekat kuat pada kuliner legendaris tersebut.

Konon, popularitas jadah tempe mulai melejit ketika Sri Sultan Hamengku Buwono IX mencicipinya. Sang Sultan disebut sangat menyukai makanan itu hingga kerap mengutus pengawal untuk membeli jadah tempe langsung ke Kaliurang. Dari sana, nama Jadah Tempe Mbah Carik menyebar luas dan menjadi salah satu ikon kuliner Yogyakarta yang kian populer di tangan generasi kedua, Sudimah Wiro Sartono.

Perpaduan rasa jadah tempe sederhana, tetapi justru di situlah keunikannya. Kini, resep Jadah Tempe Mbah Carik diteruskan oleh generasi keempat, Angga Kusuma Arybowo (38). Di tangan Angga yang merupakan suami dari cucu Mbah Carik, jadah tempe hadir membawa napas baru.

KULINER LEGENDARIS - Tampak depan outlet Jadah Tempe Suguhan by Mbah Carik di Jalan Kaliurang KM 7, Kayen, Sleman, DIY, pada Selasa (14/4/2026). Jadah Tempe Suguhan by Mbah Carik merupakan salah satu UMKM yang disokong BRI.
KULINER LEGENDARIS - Tampak depan outlet Jadah Tempe Suguhan by Mbah Carik di Jalan Kaliurang KM 7, Kayen, Sleman, DIY, pada Selasa (14/4/2026). Jadah Tempe Suguhan by Mbah Carik merupakan salah satu UMKM yang disokong BRI. (TribunSolo.com/Hanang Yuwono)

Mereka memperkenalkan jadah tempe kepada generasi muda melalui pendekatan yang lebih modern tanpa menghilangkan akar tradisinya. Maka lahirlah Jadah Tempe Suguhan By Mbah Carik. Lokasi outletnya ada di dua tempat, yakni Jalan Brigjen Katamso No 8 dan Jalan Kaliurang KM 7, Kayen.

"Jadi gimana caranya kita membawa kuliner ini ke anak-anak muda lewat varian lain seperti wajik, srundeng, dan kita juga punya kemasan baru. Dan kita mengangkat cerita ini ke media sosial, seperti sejarahnya, kita ceritakan kembali," kata Angga ketika ditemui TribunSolo.com di outletnya di Jalan Kaliurang pada Selasa (14/4/2026) lalu.

Saat ini, Jadah Tempe Suguhan By Mbah Carik menjual aneka produk. Seperti jadah, wajik, tempe bacem, tahu bacem, dan gembus bacem, ada jadah blondo, jadah serundeng, jadah bubuk kedelai, dan banyak lagi lainnya.

Selain itu, Angga juga memperkenalkan varian baru jadah kinako. Jadah kinako adalah jadah dengan tekstur mirip kue moci ditaburi gula putih bubuk dan kedelai.

Pandemi Jadi Titik Balik

Lantas, apa yang membuat Jadah Tempe Suguhan by Mbah Carik ini spesial dibandingkan jadah tempe-jadah tempe lainnya?

"Jadi resepnya itu sebenarnya kita enggak ada rahasia. Tetapi, yang jadi rahasia adalah ceritanya yang enggak bisa dimiliki. Bahkan kami mengajari karyawan kami resep-resepnya, tetapi yang enggak bisa dipelajari ternyata adalah ceritanya," 

Angga berujar, Jadah Tempe Mbah Carik sampai saat ini eksis karena mereka selalu menjaga tradisi dan resep yang diwariskan keluarga secara turun temurun.

Sebagai pebisnis, tantangan demi tantangan dialami, meskipun mereka menjual kuliner dengan nama besar Mbah Carik.

Hingga pada 2020, pandemi Covid-19 jadi titik balik Jadah Tempe Suguhan by Mbah Carik. Mereka harus berani improvisasi produk atau mati perlahan-lahan.

"Kita akhirnya memunculkan jadah tempe frozen dan booming. Jadi saat pandemi kita malah naik penjualannya. Akhirnya kita kirim-kirim-kirim," ucap Angga.

KULINER LEGENDARIS - Angga Kusuma Arybowo (38) pemilik Jadah Tempe Suguhan by Mbah Carik di Jalan Kaliurang KM 7, Kayen, Sleman, DIY, pada Selasa (14/4/2026) menjelaskan aneka menu. Jadah Tempe Suguhan by Mbah Carik merupakan salah satu UMKM yang disokong BRI.
KULINER LEGENDARIS - Angga Kusuma Arybowo (38) pemilik Jadah Tempe Suguhan by Mbah Carik di Jalan Kaliurang KM 7, Kayen, Sleman, DIY, pada Selasa (14/4/2026) menjelaskan aneka menu. Jadah Tempe Suguhan by Mbah Carik merupakan salah satu UMKM yang disokong BRI. (TribunSolo.com/Hanang Yuwono)

Ketika banyak pesanan, justru memunculkan masalah baru. Yaitu tidak maksimalnya kapasitas produksi karena keterbatasan alat.

"Saat itu kita pakai mesin yang sederhana sekali. Kapasitasnya cuma sehari baru bisa 50 plastik. Sekarang sudah 200-300 pun enggak masalah," ungkap dia.

Permasalahan itu pun membuat Angga memikirkan langkah mitigasi. Mau tidak mau, dia harus berinvestasi di alat. Kebetulan, ketika itu Jadah Tempe Suguhan by Mbah Carik juga baru saja memindahkan outletnya dari Jalan Palagan ke Jalan Kaliurang.

"Kita saat itu membutuhkan suntikan dana, untuk beli ini beli itu demi efisiensi," terang dia.

Pilih Kerja Sama dengan BRI

Angga lalu putuskan mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Bank Rakyat Indonesia (BRI). Awal kredit pinjaman pertama adalah Rp100 juta.

"Jadi, kami memilih KUR BRI Rp100 juta. Lalu sudah berjalan tiga tahun tanpa kendala. Dari BRI sendiri sering mengajak kami untuk ikut pameran di Jakarta," terang Angga.

Angga menjelaskan, Jadah Tempe Suguhan by Mbah Carik juga kerap jadi kudapan ketika kunjungan pejabat negara ke DIY. Di samping itu, kelebihan bekerja sama dengan BRI karena bank pelat merah ini memayungi para pelaku usaha lewat komunitas. Dari komunitas itu, masing-masing anggota mendapatkan perkakas berjualan secara cuma-cuma.

Dia menyebut KUR BRI bermanfaat untuk meningkatkan jumlah produksi, membeli peralatan, hingga merenovasi rumah produksi.

"Kita beli alat menumbuk jadah dan juga peningkatan rumah produksi agar tersandarisasi," ucap Angga.

KULINER LEGENDARIS - Antrean pembeli di outlet Jadah Tempe Suguhan by Mbah Carik di Jalan Kaliurang KM 7, Kayen, Sleman, DIY, pada Selasa (14/4/2026). Jadah Tempe Suguhan by Mbah Carik merupakan salah satu UMKM yang disokong BRI.
KULINER LEGENDARIS - Antrean pembeli di outlet Jadah Tempe Suguhan by Mbah Carik di Jalan Kaliurang KM 7, Kayen, Sleman, DIY, pada Selasa (14/4/2026). Jadah Tempe Suguhan by Mbah Carik merupakan salah satu UMKM yang disokong BRI. (TribunSolo.com/Hanang Yuwono)

Adapun alasan Angga memilih BRI karena menilai bank tersebut merakyat dan pro UMKM. Dan yang pasti adalah persyaratannya lebih mudah. Proses pengajuan juga dikatakannya cepat, kurang dari satu bulan.

"Syaratnya juga mudah dan tidak ribet. Selain itu, BRI kan paling dekat. ATM-nya ada di mana-mana, kantor cabangnya ada di mana-mana. Fleksibilitas kita lebih mudah," kata dia.

Selain KUR, Jadah Tempe Suguhan by Mbah Carik juga menggunakan QRIS BRI untuk metode pembayan cashless. Hal ini, kata Angga cukup berpengaruh signifikan terhadap transaksi di Jadah Tempe Suguhan by Mbah Carik. 

"Penggunaan QRIS itu ternyata tidak hanya digunakan anak muda saja ya. Justru, sekarang ibu-ibu sekarang sudah menggunakan QRIS. Bahkan mostly, 80 persen transaksi di kami sudah menggunakan QRIS. Bahkan banyak ibu-ibu dan pembeli yang tanya sekarang 'bisa pakai QRIS enggak?'," ungkapnya.

Dengan QRIS BRI, Angga mengakui jika berpengaruh terhadap omzet Jadah Tempe Suguhan by Mbah Carik.

"Misalnya, hanya bawa uang cash Rp50 ribu tapi mau beli macem-macem. Dengan adanya QRIS bisa meningkatkan penjualan. Seperti contohnya : oh sekalian beli ini pak. QRIS itu memudahkan pembelian," kata Angga.

Sebagai pelaku UMKM yang disokong BRI, Angga pun membeberkan harapannya.

"Harapan kami BRI selalu bersama UMKM. Karena UMKM itu penopang ekonomi, sehingga kehadiran BRI itu menjadi penampung aspirasi kami. UMKM itu tidak hanya membutuhkan modal, tapi membutuhkan juga pendampingan penjualan, pendampingan kapasitas usaha. BRI pun sebetulnya sudah melakukannya lewat Rumah BUMN," pungkas Angga. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.