TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Uni Nasrah, warga Kelurahan Lepo-Lepo, Kecamatan Baruga, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), mengaku ketinggian banjir kali ini di luar perkiraannya.
Wanita kelahiran 1970 itu mengatakan, banjir yang merendam rumahnya mencapai sekitar 1,5 meter melebihi tinggi badannya.
Ketinggian air di tempat tinggalnya juga lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Sebagai warga yang tinggal di kawasan Kali Wanggu, Uni mengaku sudah terbiasa menghadapi banjir setiap musim hujan tiba di Kota Lulo.
Saat hujan mulai mengguyur pada Sabtu (9/5/2026) sore, genangan air setinggi mata kaki mulai masuk ke rumahnya.
Baca juga: 8.616 Warga, 2.326 Rumah, 979 Ha Sawah Terdampak Banjir di 8 Kabupaten dan Kota Sulawesi Tenggara
Melihat kondisi tersebut, dia langsung melakukan evakuasi mandiri dengan menyelamatkan surat-surat berharga serta memindahkan barang elektronik ke tempat yang lebih tinggi.
Namun hujan yang turun terus-menerus membuat debit air meningkat dengan cepat hingga merendam seluruh rumahnya.
“Di luar dari perkiraan kita, ternyata malamnya tenggelam. Lebih tinggi ini dari tahun lalu,” ujar Uni saat diwawancarai, Senin (11/5/2026).
Akibat banjir tersebut, sejumlah barang elektronik miliknya seperti kulkas dan penanak nasi ikut terendam air.
“Kita tidak siap-siap karena sudah biasa, tidak sampai segini,” katanya.
Baca juga: Pemkot Kendari Tetapkan Status Tanggap Darurat Banjir 14 Kelurahan dan 6 Kecamatan Mulai 11-17 Mei
Menurut Uni, banjir terjadi akibat hujan deras yang berlangsung terus-menerus hingga menyebabkan air dari Kali Wanggu dan Lepo-Lepo meluap.
Saat ini, dirinya bersama warga terdampak lainnya telah menerima bantuan logistik berupa mi instan, minyak goreng, biskuit, dan beras.
Pemerintah kota juga telah mendirikan posko kesehatan, dapur umum, serta menyalurkan bantuan air bersih di lokasi pengungsian.
Meski demikian, Uni menilai makanan yang dibagikan kepada warga pengungsi masih belum mencukupi kebutuhan.
Di tenda pengungsian yang ditempatinya terdapat dua kepala keluarga (KK) dengan total enam orang penghuni.
Baca juga: Banjir Lepo-Lepo Kendari Akibat Luapan Kali Wanggu Belum Surut, Warga Dapat 200 Paket Sembako
Namun, lauk yang diberikan hanya tiga butir telur rebus untuk dibagi bersama.
“Kami di sini enam orang, dua KK. Saya dikasih tiga butir telur dengan tempe dan sayur, berarti tiga telur itu kita bagi dua,” jelasnya.
Uni pun mempertanyakan penanganan bantuan dari Dinas Sosial (Dinsos) Kota Kendari.
Menurutnya, akan lebih baik jika warga diberikan bahan makanan mentah agar dapat diolah sendiri sesuai kebutuhan.
Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kota Kendari, khususnya kawasan Kali Wanggu, terjadi sejak Sabtu (9/5/2026).
Hingga Senin siang sekira pukul 14.00 Wita, genangan air mulai surut tapi ketinggiannya masih mencapai sekitar 30 sentimeter.
Uni mengatakan, proses surutnya banjir kali ini jauh lebih lama dibandingkan banjir pada 2025 lalu.
Selama dua hari berada di pengungsian, dirinya juga mengalami gangguan kesehatan berupa gatal-gatal pada bagian kaki.
Beruntung, obat-obatan telah disediakan melalui posko layanan kesehatan di sekitar lokasi banjir.
Lurah Lepo-Lepo, Ridlan, menyebutkan, ratusan warga di wilayahnya terdampak banjir.
Baca juga: Cerita Warga Anduonohu Kendari, Hanya Sempat Selamatkan Berkas Penting saat Banjir Datang Mendadak
Data sementara mencatat sebanyak 225 KK atau sekitar 685 jiwa terdampak banjir.
Mereka tersebar di delapan RT di Kelurahan Lepo-Lepo, Kecamatan Baruga.
Menurut Ridlan, titik banjir terparah berada di RT 14, RT 12, dan RT 3.
Dari total warga terdampak, sekitar 300 orang saat ini mengungsi di tenda-tenda darurat yang telah disediakan.
“Di sini ada juga kos-kosan yang terendam banjir. Jumlah pastinya mungkin RT yang lebih tahu, kira-kira sekitar lima kos,” ujar Ridlan.
Baca juga: Banjir Lorong Kampus Avicenna By Pass Kendari Rendam Pemukiman, Warga Dievakuasi Pakai Perahu Karet
Dia mengatakan, pemerintah sebenarnya telah menawarkan solusi relokasi kepada warga yang tinggal di kawasan rawan banjir.
Namun, tidak semua masyarakat bersedia dipindahkan.
Selain relokasi, perbaikan pintu air di kawasan Kali Wanggu dinilai menjadi langkah penting untuk mencegah banjir kembali terjadi.
Berdasarkan hasil peninjauan di lapangan, ditemukan sejumlah pintu air mengalami kerusakan bahkan hilang diduga dicuri.
“Kemarin kami tinjau, memang ada beberapa pintu air yang rusak, ada juga yang dicuri. Ini yang menyebabkan air masuk ke permukiman warga,” jelasnya.
Baca juga: Banjir Lumpur di Bypass Kendari Sulawesi Tenggara, Kendaraan Lintasi Jalan Brigjen M Yunus Dialihkan
Total terdapat tiga pintu air rusak dan satu lainnya hilang.
Sebagai penanganan sementara, pihak kelurahan melakukan penimbunan menggunakan pasir untuk mengurangi debit air yang masuk ke kawasan permukiman.
Sementara untuk penanganan jangka panjang, Pemkot Kendari akan berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi IV Kendari untuk perbaikan infrastruktur pengendali banjir. (*)
(TribunnewsSultra.com/Apriliana Suriyanti)