Wisata goa Jepang di Klungkung, Bali dianggap angker oleh warga setempat. Destinasi ini pun mulai ditinggalkan pengunjung.
Objek wisata sejarah Goa Jepang yang berlokasi di Desa Banjarangkan, Klungkung, Bali makin ditinggalkan oleh pengunjung. Destinasi yang berada di pinggir jalan raya Banjarangkan (arah Klungkung menuju Gianyar) ini malah jadi terkesan angker, karena tidak ada yang mengelola.
Sebuah papan nama bertuliskan 'Cagar Budaya Goa Jepang' menjadi penanda dan mungkin sekaligus menjadi satu-satunya penyambut tamu di destinasi itu. Penanda lainnya adalah sebuah patung gajah di pintu masuk rest area.
Terdapat dua goa yang katanya tidak termasuk dalam daftar cagar budaya. Rest area dan dua goa itulah yang sudah sekitar 1,5 tahun dikelola Desa Adat Koripan Tengah, Kecamatan Banjarangkan.
Di dalam rest area tersebut, terdapat sebuah kedai dengan stand banner bertuliskan 'Shree Luwih Resto, BUPDA Desa Adat Koripan Tengah, Tutup-Close'. Area tersebut memanjang ke samping.
Ada tempat bermain anak, gazebo, spot foto, fasilitas umum seperti toilet, sampai tempat mengisi daya kendaraan listrik milik PLN. Sayangnya, tempat yang nampak potensial itu seperti ruang mati.
Wakil Bendesa Adat Koripan Tengah, Jero Patajuh Wayan Ardana, tengah meninjau ladang penghasilan desa adatnya yang tengah mati suri. Ia menerangkan sudah gulung tikar karena tak sanggup bayar karyawan.
"Sepi. Tidak ada yang datang. Sempat bertahan satu tahun. Tapi sekarang sudah tidak bisa lagi," terang Ardana.
Awalnya Desa Adat Koripan Tengah meminta pada Dinas Pariwisata Klungkung untuk mengelola lokasi tersebut. Permintaan itu mereka layangkan dengan harapan bisa melahirkan ladang penghasilan untuk desa adat.
Sayangnya, karena dilepas begitu saja, desa adat sebagai pengelola tanpa kepastian anggaran (investasi) dengan cepat gulung tikar.
Kondisi Goa Jepang di Klungkung, Bali
|
Jangankan desa adat, kata Ardana, dulunya ada juga pihak ketiga yang mengelola lokasi tersebut. Mereka bahkan membangun fasilitas yang masih terlihat sampai sekarang.
"Tapi gulung tikar juga. Nggak kuat karena memang pengunjungnya sepi," jelasnya.
Ardana juga mengungkapkan jika pemerintah kabupaten seperti tidak menaruh perhatian pada destinasi tersebut. Termasuk cagar budaya Goa Jepang. Selama ini tidak pernah ada petugas yang secara berkala datang membersihkan lokasi. Apalagi untuk datang menjaganya setiap hari.
"Kondisinya ya begini. Sudah beberapa kali longsor juga di sana. Trotoar yang kotor, kita dari desa adat yang gotong royong membersihkannya," ungkap Ardana.
Kawasan ini sebenarnya memiliki sejarah panjang dalam dunia pariwisata. Lokasi ini dikatakan juga sempat menjadi rumah bagi Museum Patung Sukanta Wahyu. Namun, setelah pematung meninggal dunia, museum tersebut ikut meredup.
Kini, wisatawan mancanegara yang melintas biasanya hanya sekadar lewat untuk mencari tempat makan. Namun, karena suasana yang sunyi dan kesan tidak terawat, minat mereka untuk mampir pun hilang.
"Kadang ada saja satu dua yang datang melihat-lihat," ujarnya.
Tanpa adanya anggaran rutin, pihak Desa Adat Koripan berharap ada campur tangan pihak ketiga untuk membangkitkan kembali kawasan ini. Sebelumnya, sistem setoran fee dari pihak ketiga sempat berjalan, tapi tidak bertahan lama karena kurangnya minat investor.
"Sekarang kami berharap ada pihak ketiga yang mau mengelola. Waktu itu Dinas Pariwisata menjadi leading sector-nya," jelas Ardana
Dianggap Angker oleh Warga Setempat
Seorang warga Klungkung yang kebetulan sedang berada di lokasi memberikan keterangan yang ia ketahui mengenai lokasi tersebut. Pria yang akrab disapa Mangku itu menuturkan jika dalam kepercayaan sebagian masyarakat Klungkung, usaha atau apapun yang dibangun di atas bekas jalan biasanya akan sepi pengunjung.
"Ini dulu jalan yang sudah ada sejak zaman Belanda. Kemudian ditutup setelah ada jembatan baru," terangnya.
Tak heran jika lokasi tersebut terkesan angker, bahkan saat siang hari. Namun di luar itu, Mangku juga meyakini jika pengelolaan yang kurang baik menjadi penyebab sepinya pengunjung.






