TRIBUNJOGJA.COM - Di tengah maraknya tren hobi koleksi dalam beberapa tahun terakhir, trading card game atau TCG mulai berkembang pesat di Yogyakarta. Bukan sekadar permainan kartu, TCG kini menjelma menjadi ruang komunitas, sarana nostalgia, hingga pasar koleksi bernilai tinggi yang perputaran transaksinya mencapai puluhan juta rupiah.
Fenomena itu terlihat dalam berbagai card show yang mulai rutin digelar di Yogyakarta. Jika beberapa tahun lalu toko TCG masih bisa dihitung dengan jari, kini tenant kartu koleksi semakin mudah ditemui dalam satu event. Produk yang diperdagangkan pun beragam, mulai dari Pokémon hingga One Piece Card Game.
Arga dari Xollexio TCG menyebut perkembangan komunitas Pokémon TCG di Yogyakarta meningkat tajam dalam setahun terakhir. Pertumbuhan itu terlihat dari bertambahnya pemain, kolektor, hingga seller yang mulai membuka toko maupun ikut event komunitas.
“Setahun terakhir perkembangannya terasa sekali. Pemain TCG makin banyak, kolektor meningkat, dan toko-toko juga mulai bermunculan,” ujarnya.
Menurut Arga, mayoritas pembeli datang untuk berburu kartu karakter favorit mereka. Pokémon ikonik seperti Pikachu, Charizard, Squirtle, dan Bulbasaur masih menjadi incaran utama kolektor. Faktor nostalgia juga disebut menjadi alasan kuat banyak orang kembali masuk ke dunia TCG, terutama mereka yang tumbuh bersama serial Pokémon sejak kecil.
“Yang dicari tentu kartu koleksi. Mereka berburu kartu yang memang diidam-idamkan. Pikachu pasti jadi favorit, lalu trio Kanto seperti Charizard, Squirtle, dan Bulbasaur juga selalu dicari,” katanya.
Meski identik dengan hobi mahal, pasar Pokémon TCG di Yogyakarta disebut tetap bergerak aktif. Produk booster pack dijual mulai puluhan ribu rupiah hingga menyentuh Rp1 juta per pack untuk edisi tertentu. Tidak sedikit pembeli yang rela membeli ratusan pack sekaligus demi mendapatkan kartu langka.
Selain booster pack, transaksi kartu satuan atau single card juga terus meningkat. Harga kartu bervariasi, mulai dari belasan ribu rupiah hingga puluhan juta tergantung karakter, kelangkaan, dan kondisi kartu.
Dalam dunia TCG, kualitas fisik kartu menjadi faktor penting yang menentukan nilai jual, mirip seperti kondisi mobil klasik atau barang koleksi lainnya.
Karena itu, pembeli pemula diimbau lebih berhati-hati saat mulai terjun ke hobi ini. Arga menilai reputasi toko menjadi hal penting, terutama untuk pembelian booster pack yang bersifat acak atau gacha.
“Kalau beli pack itu cari toko yang trusted. Karena kalau ada seller yang main-main, peluang dapat kartu bagus bisa lebih kecil,” katanya.
Menurutnya, pembeli juga perlu memahami kondisi kartu sebelum membeli, terutama untuk koleksi jangka panjang atau kartu yang sudah melalui proses grading seperti PSA. Lecet kecil, sudut yang tidak presisi, hingga kualitas cetakan bisa memengaruhi harga secara signifikan.
Di sisi lain, tren serupa juga terjadi pada One Piece Card Game yang mulai mendapat tempat di kalangan kolektor. Roy, pemilik Merdeka TCG asal Magelang, mengaku sengaja memperbanyak produk One Piece dalam sejumlah event karena pasar Pokémon sudah lebih ramai diisi seller lain.
Ia melihat media sosial menjadi salah satu faktor utama yang mendorong ledakan tren TCG saat ini. Komunitas yang sebelumnya tersebar kini lebih mudah terhubung, memamerkan koleksi, hingga melakukan transaksi secara daring.
“Sebetulnya pemain TCG itu sudah ada dari dulu, cuma sekarang mulai kelihatan karena media sosial,” ujarnya.
Menurut Roy, card show memiliki peran besar dalam pertumbuhan komunitas karena menjadi titik temu antara seller, pembeli, dan komunitas dalam satu ruang yang sama. Dari sana, ekosistem TCG berkembang lebih cepat, termasuk dari sisi nilai ekonomi.
Ia mengaku pernah menjual kartu One Piece edisi Oda Signature seharga Rp70 juta setelah sebelumnya dibeli Rp25 juta dan disimpan selama sekitar enam bulan. Lonjakan harga kartu seperti itu membuat sebagian kolektor mulai melihat TCG sebagai instrumen investasi alternatif.
Meski demikian, Roy menilai investasi di dunia TCG tetap membutuhkan pemahaman pasar yang kuat, mulai dari tren karakter, jumlah cetakan kartu, hingga kondisi fisik dan grade kartu.
Di balik angka transaksi yang fantastis, sebagian kolektor justru masuk ke dunia TCG karena alasan yang jauh lebih personal. Putra, warga Yogyakarta yang baru kembali aktif mengoleksi Pokémon TCG, mengaku tertarik lagi karena dorongan nostalgia masa kecil.
Setelah lama vakum, ia mulai membeli booster pack hingga kartu satuan setelah media sosialnya dipenuhi konten Pokémon TCG. Kini, ia tengah berburu kartu Bulbasaur yang menjadi salah satu karakter favoritnya, meski harga pasarnya masih dianggap terlalu tinggi.
“Awalnya buat menyenangkan anak kecil dalam diri saya,” katanya.
Dalam sekali transaksi, Putra mengaku pernah menghabiskan sekitar Rp2 juta untuk membeli belasan kartu koleksi. Baginya, kepuasan saat menemukan kartu incaran menjadi sensasi tersendiri yang sulit dijelaskan.
Di tengah tren yang terus berkembang, TCG kini bukan lagi sekadar permainan kartu anak-anak. Ia telah berubah menjadi kombinasi antara hobi, komunitas, nostalgia, dan pasar koleksi yang terus bergerak mengikuti gairah para penggemarnya.(nto)