Kondisi Menyedihkan Desa Limbur Kotabaru Kalsel yang Belum Berlistrik, Medan ke Lokasi Tak Mudah
Edi Nugroho May 11, 2026 11:52 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, KOTABARU -  Kondisi menyedihkan Desa Limbur Kotabaru yang belum teraliri listrik, medan ke lokasi tak mudah

Sejumlah desa di Kabupaten Kotabaru Provinsi Kalimantan Selatan masih belum teraliri listrik PLN.

Satu di antaranya Desa Limbur, Kecamatan Hampang yang berbatasan langsung dengan Sejumlah desa Kabupaten tetangga, seperti Tanah Bumbu dan Hulu Sungai Selatan.

Diungkapkan Sekdes Limbur, Mudir Munir, sejak 1983 desa terbentuk, listrik belum bisa dinikmati masyarakatnya yang terdiri sekitar 154 Kepala Keluarga (KK).

Baca juga: Biang Kerok Akses Nasional Penghubung Kecamatan Lokpaikat dan Piani Tapin Kalsel Kembali Banjir

Baca juga: Buron Usai Gagal Setubuhi Anak Tiri, Buruh Diringkus Satreskrim Polresta Banjarmasin

Hingga saat ini, kebanyakan warganya hanya mengandalkan genset dan tenaga surya untuk bisa memenuhi keperluan listrik sehari-hari. 

"Survei sudah beberapa kali, termasuk dari PLN semoga rencana tahun ini benar-benar terwujud listrik masuk kampung kami," ujarnya.

Guna menyambut itu, Mudir juga mengatakan masyarakat sepakat untuk menghibahkan sebagian tanah maupun pohon-pohon yang terkena pemasangan tiang listrik untuk ditebang dan digunakan semestinya.

Sebagai pemukiman yang di pelosok di pegunungan Meratus, pihakanya juga tak menampik kendala tersebut jadi faktor penghambat lambannya listrik masuk.

Selain listrik, jaringan telepon, internet dan infrastruktur jalan juga saat ini masih sangat terbatas, meski sudah bisa disamabangi dengan kendaraan roda empat. 

"Mobil bisa sampai ke desa, cuman yang double gardan atau sejenisnya saat cuaca panas," sebut Mudir.

Untuk mencapai Desa limbur juga tidak mudah, dengan jarak berkisar 35 km dari pusat Kecamatan Hampang bisa memakan waktu sekira 2 jam perjalanan.

Sementara itu, beberapa waktu lalu Wakil Bupati Kotabaru, Syari Mukhlis juga terus berkomitmen mendorong masuknya listrke sejumlah desa yang belum teraliri. Termasuk Desa Limbur

"Untuk Desa Limbur susdah masuk dalam tahap pengajuan melalui anggaran APBN di pemerintah pusat. Rasio desa berlistrik di Kotabaru saat ini telah mencapai sekitar 97,52 persen," katanya. 

Pihaknya pun menargetkan paling lambat 2028 seluruh wilayah sudah 100 persen teraliri listrik. 

Energi Alternatif: Pengertian dan Macamnya

Selama ini manusia memanfaatkan bahan bakar fosil untuk kebutuhan sehari-hari. Bahan bakar fosil terbentuk dari tumbuhan dan hewan yang mati jutaan tahun lalu.

Bahan bakar foil berupa batu bara, minya bumi, dan gas alam. Dilansir dari Encyclopaedia Britannica (2015), di awal abad 21, sekitar 80 persen energi yang ada di dunia dihasilkan dari bahan bakar fosil. 

Bahan bakar fosil adalah energi yang tak terbarukan. Artinya, jumlahnya terbatas dan suatu saat bakal habis.

Oleh karena itu, para ilmuwan mulai mencari sumber energi lainnya untuk dikembangkan sebelum bahan bakar fosil habis.

Energi ini disebut energi alternatif. Berikut macam-macam bentuk energi alternatif:

Matahari

Semua kehidupan di bumi bergantung pada sinar matahari. Tak hanya tumbuhan yang berfotosintesis, manusia pun bisa menghasilkan energi dari matahari.

Energi matahari diserap di Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Kini, banyak juga rumah yang mengandalkan matahari sebagai sumber listriknya dengan memasang panel surya.

Energi matahari tersedia di seluruh wilayah. Kekurangannya, energi ini hanya bisa didapatkan ketika langit cerah.

Pemanfaatan sinar matahari sebagai pembangkit listrik sangat cocok diterapkan di Indonesia. keadaan tersebut disebabkan oleh posisi Indonesia yang berada di garis khatulistiwa. Intensitas matahari cukup kuat. Matahari bersinar sepanjang hari dari pagi hingga sore.
Panas bumi

Panas bumi atau geotermal juga bisa dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik.

Panas dari dalam bumi menghasilkan uap yang kencang. Uap ini diolah di Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB).

Angin

PLTB Sidrap memiliki 30 turbin kincir angin, masing-masing setinggi 80 m, dengan baling-baling sepanjang 57 m. Setiap turbin menghasilkan listrik 2.5 MW, sehingga total kapasitas 75MW.

Angin adalah udara yang bergerak. Pergerakannya ini bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi.

Di Belanda, kincir angin digunakan sebagai alat untuk menghasilkan listrik. Di Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB), digunakan turbin.

Air

Seperti halnya angin, air juga bisa menggerakkan kincir atau turbin air.

Di Indonesia yang merupakan negara kepulauan, air yang mengalir juga banyak ditemukan. Contohnya air terjun yang diolah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

Selain air terjun, ada juga arus sungai, ombak, dan pasang surut laut yang mampu menghasilkan listrik.

(Banjarmasinpost.co.id/MuhammadTabri/kompas.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.