Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Arsitek senior asal Bali, Nyoman Popo Priyatna Danes atau yang lebih dikenal sebagai Popo Danes, menjadi salah satu sosok penting yang berhasil membawa nilai-nilai budaya Bali ke panggung arsitektur internasional. Saat ini berada di Jepang melihat berbagai karya arsitektur Jepang.
"Baru Kali ini saya bisa santai di Jepang. Memang indah sekali semua karya arsitektur di Jepang memadukan budaya mereka sendiri dengan teknologi maju saat ini," papar Pop khusus kepada Tribunnews.com kemarin (10/5/2026).
Melalui karya-karyanya, ia tidak hanya membangun resort dan bangunan mewah, tetapi juga menjaga filosofi tradisional Bali agar tetap hidup di tengah modernisasi global.
Popo Danes dikenal konsisten memegang filosofi budaya Bali dalam setiap rancangan arsitekturnya.
Ia menegaskan bahwa budaya Bali yang sangat kuat menjadi landasan utama dalam berkarya.
Salah satu prinsip yang selalu dipegangnya adalah menolak pembangunan di kawasan subak yang masih produktif, karena sistem irigasi tradisional tersebut merupakan bagian penting dari budaya Bali yang mencerminkan konsep keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas atau Tri Hita Karana.
Sebaliknya, Popo memilih mengembangkan kawasan tebing tandus menjadi lanskap arsitektur yang menawan.
Baca juga: Sinergi Dua Arsitek Pendidikan untuk Masa Depan NU dan Indonesia
Konsep desainnya kemudian banyak ditiru oleh arsitek lain, khususnya di kawasan wisata Ubud. Keberhasilannya memadukan eksotisme Bali dengan kebutuhan industri pariwisata internasional membuat karya-karyanya dikenal luas hingga mancanegara.
Dalam dunia arsitektur, Popo Danes menaruh perhatian besar pada empat aspek utama, yakni arsitektur tropis, budaya, pariwisata, dan konsep ramah lingkungan (eco-friendly).
Ia juga dikenal menggunakan material lokal dan bahan bekas layak pakai sebagai bagian dari kepeduliannya terhadap lingkungan.
Meski modern, karya-karyanya tetap mempertahankan ornamen serta nilai tradisional Bali.
Prestasi internasional pun berhasil diraih Popo Danes. Salah satu karyanya, Ubud Hanging Gardens, memperoleh penghargaan ASEAN Energy Award 2008 untuk kategori bangunan tropis hemat energi.
Selain itu, Natura Resort Ubud masuk dalam Selected Projects pada buku “Bioclimatic Facade” karya Dr. Ken Yeang.
Firma arsiteknya juga pernah masuk tiga besar arsitek pilihan dalam seminar bergengsi “Somfy Living Architecture” di Venesia, Italia.
Tidak hanya fokus pada dunia profesional, Popo Danes juga aktif menanamkan kecintaan terhadap arsitektur kepada generasi muda.
Melalui kegiatan “Architect for Kids 2025”, ia mengajak anak-anak usia 5–12 tahun menjadi “Arsitek Penyelamat Kota” dengan mengenalkan konsep keberlanjutan lingkungan melalui permainan edukatif dan aktivitas kreatif.
Kegiatan tersebut bertujuan menumbuhkan kesadaran sejak dini mengenai pentingnya menjaga lingkungan dan membangun kota yang berkelanjutan.
Bagi Popo Danes, arsitektur bukan sekadar membangun gedung, tetapi juga menjaga identitas budaya dan keseimbangan alam.
Filosofi inilah yang menjadikan karya-karyanya tidak hanya indah secara visual, tetapi juga memiliki nilai budaya dan spiritual yang kuat."
Termasuk saat Popo mendesain resort di India dan berbagai negara lainnya.
Beberapa catatan diberikan pula oleh Popo.
Penghargaan Bioclimatic Facade dari Somfy pada tahun 2008 di Biennale di Architecture, Venice, bersama alm Bobby Manosa dari Philippines dan Vo Trong Nghia dari Vietnam
Kegiatan Architecture For Kids kami lakukan rutin semenjak tahun 2002 setiap liburan anak sekolah SD.
Kegiatan ini pernah menarik perhatian seorang Arsitek muda Jepang, dipresentasikan, dan akhirnya acara yang sama diselenggarakan di Biro Arsitek Toyo Ito.
Diskusi beasiswa dan loker di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com