TRIBUN-MEDAN.com - Inilah sosok Rosa Sofi meninggal jelang wisuda.
Rosa Sofi kecelakaan saat mau donorkan darah ke teman.
Ia pun diwakilkan sang ibu saat wisuda.
Baca juga: MENGEJUTKAN Pengakuan Pria Ini Ngaku Sudah Tiga Kali Berhubungan Intim dengan Oknum Polwan Brigpol I
Rosa Sofi Andriani tak sempat menghadiri wisuda yang sudah ia nantikan.
Namun ia diwakili oleh sang ibu menerima ijazah kelulusan.
Rosa meninggal ketika sedang melakukan aksi mulia untuk teman dekatnya.
Dinginnya malam pada akhir Februari 2026 itu tak menyurutkan langkah Rosa Sofi Andriani.
Baca juga: AWALNYA Sangar Tendang Ambulans dan Ancam Sopir, Kini Pria Ini Nangis-Nangis Minta Maaf ke Polisi
Demi menyelamatkan nyawa sahabatnya, Rosa rela membelah dinginnya malam Yogyakarta.
Ia berniat menemui pendonor darah untuk temannya.
Di penghujung Februari 2026 lalu, teman Rosa membutuhkan bantuan darah.
Meski malam semakin pekat, gadis yang akrab disapa Ocha tetap berkendara mengupayakan bantuan untuk temannya.
Theresia Anik Susilowati, ibunda Ocha, sempat berkomunikasi dengan putrinya sebelum berpulang.
Di saat temannya membutuhkan pertolongan, Ocha dengan sigap menjumpai pendonor darah.
Anik sempat mengingatkan Ocha agar tidak berpergian karena hari sudah malam.
Namun dikarenakan ingin membantu sahabat, Ocha bersikeras menemui pendonor.
Sang ibu yang tak bisa lagi mencegah pun memberikan izinnya.
Baca juga: Dorong Percepatan Legalisasi Sumur Masyarakat, Wagub Tekankan Pentingnya Pemangkasan Birokrasi
“Saya sudah bilang, dek sudah malam, saya bilang begitu. Tetapi dia bilang, aku harus nemuin relawan dengan keluarganya, lalu saya bilang ya sudah, hati-hati, kemudian dia berangkat, dan jatuh,” tutur Anik mengenang detik-detik terakhir sebelum Ocha berpulang.
Di tengah perjalanan mengupayakan keselamatan temannya, Ocha justru mengalami kecelakaan tunggal.
Nyawanya tak tertolong ketika sepeda motor yang ia kendarai mengalami kecelakaan tunggal.
Aspal jalanan yang pekat justru menjadi saksi akhir perjalanan hidup pemudi itu.
Takdir sudah digariskan, Ocha tak perlu berlama-lama terpisah dari temannya.
Teman Ocha yang dibantunya juga telah berpulang.
Baca juga: AWALNYA Sangar Tendang Ambulans dan Ancam Sopir, Kini Pria Ini Nangis-Nangis Minta Maaf ke Polisi
Mereka berdua kini sudah berada dalam ketenangan abadi, meninggalkan kenangan tentang sebuah ketulusan yang paripurna.
Ibu Wakili Wisuda
Kesedihan menyeruak di momen wisuda UPN "Veteran" Yogyakarta.
Tiga bulan setelah kepergiannya, Ocha seharusnya memakai toga dan menerima ijazah kelulusannya.
Namun pada Sabtu (9/5/2026) kemarin, justru ibunda Ocha lah yang hadir mewakilinya.
Suasana di Auditorium WR. Supratman mendadak hari.
Saat nama Rosa Sofi Andriani, S.Kom, dipanggil, justru sang ibu lah yang melangkah dengan tatapan kosong namun tegar.
Theresia Anik Susilowati menggantikan putri tunggalnya menerima ijazah yang telah diperjuangkan selama empat tahun terakhir.
Langkahnya begitu pelan menuju ke podium teringat harusnya ini menjadi momen bahagia putrinya.
Baca juga: Kanwil Ditjen Imigrasi Sumut Gelar Rapat TIMPORA 2026 Perkuat Pengawasan Orang Asing
Mengenakan kebaya hitam sebagai simbol duka yang mendalam, Anik tetap menggenggam erat foto putrinya saat menghadiri wisuda dan menyelesaikan seluruh prosesi untuk mewakili Rosa yang wafat pada 26 Februari 2026 akibat kecelakaan tunggal.
Almarhumah Rosa, yang akrab disapa Ocha, dikenal sebagai mahasiswi Program Studi Sistem Informasi Fakultas Teknik Industri UPN “Veteran” Yogyakarta yang memiliki karakter kuat dan penuh ketekunan.
Ia berhasil menuntaskan studinya tepat waktu, bahkan tercatat sebagai lulusan tercepat di angkatannya dengan IPK membanggakan sebesar 3,49.
Bagi Anik, pencapaian tersebut lahir dari disiplin yang tidak pernah goyah, sebagaimana ia mengenang, “Ocha itu anaknya memiliki tekad yang kuat, jika ada sesuatu yang harus dikerjakan, maka harus tuntas walaupun sampai malam, jadi harus selesai,” kenang Anik dengan nada lirih.
Kepergian Ocha, putri semata wayang Andreas Parikesit dan Theresia Anik Susilowati, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga sekaligus sivitas akademika kampus.
Sebelum rangkaian pidato wisuda dimulai, Rektor UPN “Veteran” Yogyakarta Prof. Dr. Mohamad Irhas Effendi, M.Si., mengajak seluruh hadirin berdiri untuk memberikan penghormatan dan doa bersama.
“Semoga amal ibadah ananda Rosa Sofi Andriani, S.Kom., diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa, semua kesalahannya diampuni, dan mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Dan semoga orang tua serta keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Mari kita doakan almarhumah Saudari Rosa Sofi Andriani,” ucap Irhas.
Momen haru tersebut menjadi bagian tak terlupakan dalam Wisuda Periode IV Tahun Akademik 2025/2026 UPN “Veteran” Yogyakarta yang meluluskan 594 wisudawan.
Dari jumlah tersebut, 55 merupakan lulusan magister dan 539 sarjana, dengan 352 wisudawan atau sekitar 59,26 persen berhasil meraih predikat cum laude serta IPK tertinggi mencapai 4,00 untuk magister dan 3,98 untuk sarjana.
Di balik gemerlap capaian akademik itu, kisah Rosa menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya tentang angka dan prestasi, melainkan juga tentang nilai kehidupan, pengabdian, dan kasih sayang yang abadi.
(*/ Tribun-medan.com)