TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG- Ketua Forum Orang Tua Siswa (Fortusis) Jawa Barat, Dwi Subawanto mendukung rencana pembentukan Sekolah Manusia Unggul (Maung) yang akan mulai menerima siswa baru pada tahun ajaran 2026/2027.
Dwi menegaskan, sekolah tersebut harus memiliki kejelasan soal kurikulum dan keunggulan apa yang ingin dibangun.
Menurut Dwi, sekolah unggulan tidak boleh hanya dimaknai sebagai sekolah favorit seperti konsep lama yang identik dengan sekolah mahal dan eksklusif.
Dwi mencontohkan model RSBI yang dulu pernah diterapkan di sejumlah sekolah negeri favorit di Kota Bandung.
“Kalau sekolah maung diartikan sekolah favorit, saya tidak setuju. Dulu ada RSBI dan itu sudah dihapuskan. Jadi unggul itu harus jelas unggul di apa,” ujar Dwi, Senin (11/5/2026).
Dwi menilai, konsep manusia unggul harus diarahkan pada pembentukan karakter, etos kerja, hingga kemampuan bersaing di tingkat global. Menurutnya, Jawa Barat memiliki banyak nilai budaya dan karakter lokal yang bisa dijadikan kekuatan utama dalam pendidikan.
Baca juga: Geger Pemkab Kuningan Borong iPhone Ratusan Juta, Kadiskominfo Beri Penjelasan
Dwi mencontohkan bagaimana Jepang dan Korea mampu mempertahankan adat istiadat dan nilai budaya mereka di tengah perkembangan globalisasi. Hal itu, kata dia, membuat masyarakat di negara tersebut memiliki karakter kuat dan tidak mudah terpengaruh budaya asing.
“Jawa Barat ini punya bibit unggul. Tinggal nilai-nilai substansinya digali dan diangkat. Harus ada sosiolog yang mencoba menggali itu supaya jadi pijakan pendidikan,” katanya.
Dwi mengatakan, sekolah Maung seharusnya tidak hanya mencetak siswa pintar secara akademik, tetapi juga memiliki karakter dan kesiapan menghadapi persaingan internasional.
Dwi juga menilai saat ini kemampuan tenaga kerja Indonesia masih tertinggal dibanding negara lain, termasuk Vietnam, terutama dalam etos kerja dan keterampilan teknologi.
Dwi berharap kurikulum sekolah Maung mampu menjawab kebutuhan global, mulai dari penguatan karakter, kemampuan bahasa, keterampilan kerja, hingga wawasan internasional.
“Sekarang persaingan sudah global. Bukan hanya Bandung atau Jawa Barat. Jadi harus jelas unggulnya di mana, apakah attitude, etos kerja, atau skill-nya,”ucapnya.
Dwi juga menyoroti pentingnya sekolah memiliki ciri khas berbasis potensi daerah Jawa Barat yang dapat dijual hingga ke tingkat internasional. Menurutnya, keunggulan lokal itu harus menjadi identitas utama sekolah manusia unggul.
Baca juga: Petugas Lapas Kelas IIA Karawang Gagalkan Aksi Kiriman Narkoba Bermodus Lempar dari Luar Tembok
“Pak Gubernur harus mencari ciri khas Jawa Barat itu apa yang bisa dijual ke internasional dan diterapkan di kurikulum sekolah maung,” katanya.
Dwi menambahkan, kecerdasan akademik semata tidak cukup dijadikan ukuran sekolah unggulan. Sebab, menurut dia, faktor ekonomi dan lingkungan juga sangat mempengaruhi kualitas siswa.
“Kalau hanya pintar, sekolah sekarang juga banyak. Tapi harus dilihat bagaimana membentuk manusia unggul secara utuh,” ucapnya. (*)