Manusia Buku
Abdul Azis Alimuddin May 12, 2026 01:21 AM

Manusia Buku: Catatan Menyambut Hari Buku Nasional
Oleh: Bachtiar Adnan Kusuma
Deklarator Nasional Asosiasi Penulis Profesional Indonesia Pusat

TRIBUN-TIMUR.COM - Siapakah yang paling berbahagia menyambut Hari Buku Nasional (HBN), pada 17 Mei 2026 setiap tahun? Jawabannya adalah penulis.

Selain Tanggal 17 Mei diperingati sebagai Hari Buku Nasional (HBN), juga hari pertamakali penulis mengikrarkan diri memilih Buku sebagai pilhan hidupnya yaitu pada 17 Mei 1995 ditandai dengan penulis menggagas salah satu lembaga penerbitan buku di Makassar dan Jakarta.

Menariknya karena di Hari Buku Nasional juga hari pertamakali penulis meminang istri tercinta dan Ulang Tahun perkawinan kami berdua dengan istri Ani Kaimuddin Mahmud( Alumni Ponpes DDI Mangkoso, 1998-1995).

Lalu, siapakah Manusia Buku itu?

Manusia buku adalah pribadi atau tokoh yang memiliki kepedulian tinggi atas tumbuhnya ekosistem perbukuan di Indonesia.

Sebagian besar mereka selain memiliki kepedulian tinggi atas tumbuhnya budaya membaca dan budaya menulis di tanah air, ia juga telah menjadi figur sentral yang patut diguguh dan ditiru atas perhatiannya bagi khasanah perbukuan Indonesia.

Mah, penulis jujur mengakui, Indonesia tak bisa dipungkiri sebagai bangsa yang belum gemar membaca dan masih saja berada di nomor urut sepatu jika dibandingkan minat baca negara-negara lainnya.

Sebagai bangsa yang jumlah penduduknya terbesar keempat di dunia, kita masih berada di urutan 12 dari 102 negara yang di surveri majalah Ceo Word dari 6,5 juta responden.

Posisi kebiasaan dan kemampuan membaca masih didominasi negara-negara maju seperti Amerika Serikat berada di posisi pertama dengan membaca 17 judul buku pertahun dengan durasi membaca 357 jam.

Sementara Indonesia hanya membaca 6 sampai 7 judul buku dengan durasi membaca 129 jam pertahun.

Karena itu, benarlah apa yang dikemukakan seniman Austria, Franz Kafka bahwa buku harus menjadi kampak untuk menghancurkan lautan beku dalam diri manusia.

Adapun lautan beku yang dimaksud Franz adalah kebodohan manusia.

Kebodohan manusia hanya mampu dihancurkan dengan membaca buku.

Bukankah hanya dengan membaca buku bisa menghancurkan kebodohan manusia?

Berikutnya, mengapa minat baca rendah, apalagi kemampuan menulis kita?

Minat baca rendah karena adanya efek domino.

Misalnya saja, anak-anak akan lebih gemar menonton dan main game daripada membaca buku.

Ironisnya lagi, mereka lebih memilih mall atau main game di HP daripada menghabiskan waktunya membaca buku di perpustakaan.

Anak-anak kita nyaris waktunya habis di depan game sekitar 30-35 jam dalam sepekan.

Artinya, setahun anak-anak kita main game di depan laptop atau HP sekira 1.600 jam.

Padahal buku adalah gudangnya ilmu pengetahuan.

Dan, perpustakaan gudangnya buku.

Perpustakaan adalah “maha gudangnya” ilmu.

Kendatipun, kita seksamai bersama bahwa kondisi perpustakaan sekarang belum mampu menarik pelatuk animo anak-anak kita untuk berburu buku dan berburu menulis.

Darurat Figur Tokoh yang Pro Buku

Berkiblat pada pernyataan Dauzan Farouk bahwa senjata melawan kebodohan adalah buku.

Selain buku jendela dunia karena hanya dengan buku, maka berbagai ilmu pengetahuan ada di dalamnya.

Buku adalah jantungnya pendidikan.

Namun, ironisnya, Indonesia dengan jumlah penduduknya terbesar 288.315.899 juta jiwa hanya mampu menerbitkan buku baru pertahun sekira 128.814 tercatat di ISBN.

Dari angka-angka ini menunjukkan trend industri perbukuan kita masih cukup dinamis, namun tantangannya minat baca dan minat menulis serta distribusi masih kurang menggembirakan.

Karena itu, dibutuhkan figur tokoh dan orang tua yang memiliki kepedulian dan perhatian besar terhadap tumbuhnya minat baca dan minat menulis.

Mengapa orang tua sulit memilihkan bacaan anaknya?

Pertama, orang tua kurang pengalaman tentang sebuah buku-buku baru.

Kedua, kurangnya pengalaman membaca bagi orang tua.

Ketiga, kurangnya kesungguhan dalam mengerjakan kedua faktor di atas.

Selain kita butuh figur tokoh nasional seperti Buya Hamka, K.H. Ali Yafie, Tan Malaka, Soekarno, Muhammad Hatta, dan tokoh-tokoh ulama dunia Islam seperti Ibnu Sina, Yosep Alkindi, Alfarabi, Ibnu Batutah dan Al-Khawariz serta tokoh-tokoh Lokal yang memiliki kebudayaan membaca dan menulis tinggi.

Misalnya saja, Bupati Maros A.S.Chaidir Syam, Pengusaha dan Ulama Masrur Makmur, Pimpinan Pondok Pesantren Ilmul Yaqin Tompobulu Maros K.H.Amirullah Amri, Tokoh Nasional H.M.Amir Uskara, Pengusaha Nasional Umrah dan Haji Faisal Ibrahim Surur, da’i kondang Ashar Tamanggong.

Kendatipun Buya Hamka telah wafat pada 14 Juli 1981, ia tetap dikenang dan tak pernah hilang di pusaran pembaca Indonesia.

Buya Hamka telah menulis 120 judul buku dan salah satu mahakaryanya bertajuk Tafsir Al-Azhar terdiri dari 9 jilid dengan 5.867 halaman.

Selain Buya Hamka menulis sejumlah buku sastra, fiqhi, tasauf dan sosial di antaranya; Tasauf Moderen, Di Bawah Lindungan Kabah dan Ayahku.

Apa yang menarik dari Buya Hamka.

Ia telah mendedikasikan waktunya hanya membaca dan menulis buku.

Atas konsistensinya, Buya Hamka diberi gelar Doktor Honoris Causa dan gelar Profesor.

Atas jasa-jasa kemampuan membaca dan menulisnya, Buya Hamka diberi gelar Pahlawan Nasional.

K.H. Ali Yafie, ketua Majelis Ulama Indonesia, menegaskan kalau membaca adalah pertanyaan yang pertamakali dipertanyakan malaikat ketika manusia berada di alam kubur.

Makanya, tulis K.H. Ali Yafie, perintah membaca adalah salah satu ayat di dalam Al-Quran yang
diturukan Allah swt kepada Rasulullah Muhammad saw pada bulan Ramadhan.

Demikian pula ulama kenamaan Islam Ibnu Sina yang digelar bapak kedokteran Islam, menulis 279 buku.

Salah satu karya bukunya berjudul” Ass’yifa”.

Yosep Alkindi menulis 70 judul buku, Al-Khawaris yang pertamakali mengembangkan perpustakaan di masa kepemimpinan Harun Arrasyid, Ibnu Batutah, seoramng pengelana dunia Islam yang telah menjelajahi 44 negara dengan durasi waktu 120.700 jam dengan waktu perjalanan 30 tahun.

Buku karya Ibnu Batutah berjudul” Rihlah Ibnu Batutah”.

Akhirnya, penulis dan kita semua menyadari bahwa untuk membentuk budaya membaca dan menulis, kita butuh figur tokoh-tokoh seperti yang penulis sebutkan.

Terima kasiih kepada Dr.H.A.S. Chaidir Syam, S.IP.M.H. yang telah memberikan contoh menjadi birokrat menulis Indonesia.

Terima kasih kepada Dr.K.H. Masrur Makmur, M.Pd.I. atas dedikasinya menulis dan membukukan pikiran-pikirannya.

Terima kasih kepada Dr.K.H. Amirullah Amri, M.A. Dr. H.M. Amir Uskara, M.M., Prof.Dr.K.H. H.M. Faried Wadjedy,M.A. H.Faisal Ibrahim Surur, Lc.M.Si., Dr.H.Ashar Tamanggong, M.A. Yudhistira Sukataya, Hj. Salmawati Paris dan tokoh-tokoh lainnya yang telah menjadi figur dan contoh yang memiliki perhatian terhhadap dunia perbukuan di Indonesia maupun di Sulawesi Selatan.

Selamat hari Buku Nasional 17 Mei 2026.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.