BANJARMASINPOST.CO.ID - Sambil mengayuh jukung, Muhammad Nafari Hamdi (Ali) menarik jala yang ditebarnya di sungai Kota Banjarmasin. Nelayan ini berharap ikan
tawes, patin, kelabau, nila, tapah atau udang terjaring jalanya. Namun nyatanya, Ali justru menemukan banyak Ikan Sapu-sapu atau Hypostomus plecostomus.
Belakangan ini ikan asal Amerika tersebut ramai menjadi perbincangan lantaran perkembangannya yang invasif.
Di Jakarta bahkan dilakukan pemusnahan besar-besaran lantaran populasinya sudah tidak terkendali. Kehadiran sapu-sapu juga mengganggu keseimbangan ekosistem mulai dari mengurangi jumlah ikan lokal hingga kerusakan alam.
Dalam sehari, tangkapan ikan lokal Ali menyusut bahkan hingga 50 persen. “Saya malah bisa mendapat sapu-sapu hingga 50 kilogram,” terangnya.
Baca juga: Melimpah di Sungai, Stok Ikan Sapu-sapu di Toko-toko Akuarium di Banjarmasin Justru Kosong
Baca juga: Heboh Pengeroyokan di Sungai Malang HSU, Polisi: Berawal dari Salah Paham
Kondisi ini lantas menggugah niatan Ali bersama rekan nelayan untuk aktif melakukan perburuan sapu-sapu. “Sebisa mungkin kami musnahkan,” imbuhnya.
Apalagi permukaan tubuh sapu-sapu yang keras dan tajam sering kali mengakibatkan jala rusak.
Maraknya sapu-sapu di sungai, bertolak belakang dengan stok di sejumlah toko akuarium di Banjarmasin. Ikan ini sebelumnya digunakan untuk membersihkan akuarium.
Kosongnya stok dialami toko akuarium di Jalan Veteran. Dari pantauan, Senin (11/5), dalam satu akuarium kaca berukuran sedang hanya terdapat dua sapu-sapu berwarna hitam berukuran sedang.
Sementara di akuarium kaca lainnya hanya ada satu sapu-sapu kecil berwarna kuning pucat. “Harganya Rp 5.000 per ekor, baik besar maupun kecil,” kata Syarif, pengelola toko.
Pemilik toko akuarium di Jalan Pramuka, Melki, juga mengaku stok Ikan sapu-sapunya kosong beberapa waktu terakhir.
Sedang pehobi ikan hias, Jaka, menuturkan tidak semua pecinta hias menggunakan sapu-sapu untuk pembersihan akuarium, termasuk dirinya. Hal inikarena sapu-sapu kurang estetik. “Aku lebih suka membersihkan kaca akuarium secara manual,” ujarnya.
Menanggapi persoalan yang ditimbulkan sapu-sapu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Banjarmasin, Yuliansyah Effendi, mengungkapkan ikan sapu-sapu memiliki sifat invasif yang merugikan.
Oleh sebab itu perlu partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga ekosistem sungai dari sapu-sapu. “Kami mengimbau kepada masyarakat, ketika mendapat sapu-sapu, tolong segera dimusnahkan. Jangan dilepas kembali ke sungai,” tegasnya.
Dipaparkannya, salah satu perilaku paling merusak dari sapu-sapu adalah mengonsumsi telur ikan lain. Kondisi semakin diperparah karena sapu-sapu tidak memiliki musuh atau predator alami di perairan lokal.
“Karena memiliki sifat adaptif, terutama mampu bertahan di berbagai kualitas air sungai, dampak jangka panjang bisa berisiko menghilangkan keragaman hayati sungai Banjarmasin,” pungkasnya.
Sementara habitat sapu-sapu tidak terlalu banyak di aliran irigasi Riam Kanan. Kepala Seksi Pengelolaan dan Pembudidayaan DKPP Banjar, Apriyan Mindar Waspodo, Sabtu (9/5), mengatakan ikan ini banyak terdapat di sungai dan rawa. Untuk dikabupaten Banjar ikan sapu sapu ini habitatnya belum banyak. “Kalau untuk usaha budidaya sebaiknya diasingkan dari sapu-sapu,” imbaunya.
Begitu pula keterangan Kepala Balai Penerapan Mutu Hasil Perikanan Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanlut) Kalsel, Khairuddin menjelaskan belum ada laporan kabupaten kota ke Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi tentang maraknya ikan sapu sapu di sungai sungai.
“Biasanya ikan sapu sapu akan berkembang dengan baik pada sungai sungai tercemar dan di selokan,” ujarnya singkat. (das/naa/lis)