BANJARMASINPOST.CO.ID - Meningkatnya jual beli rekening mendapat perhatian Bank Kalsel. Bank milik pemerintah daerah di Kalsel ini pun terus meningkatkan edukasi kepada masyarakat dan nasabah agar lebih berhati-hati dalam menjaga data pribadi dan rekening perbankannya.
Direktur Utama Bank Kalsel, Fachrudin, Senin (11/5), menyatakan jual beli, peminjaman, penyewaan atau penggunaan rekening oleh pihak lain berpotensi disalahgunakan untuk aktivitas ilegal. Dia pun mengimbau nasabah agar tidak tergiur iming-iming uang atau keuntungan tertentu untuk menyerahkan rekening kepada pihak lain.
Rekening bank merupakan identitas keuangan pribadi sehingga setiap transaksi dapat berdampak langsung kepada pemiliknya.
Bank Kalsel pun melakukan edukasi kepada nasabah secara berkelanjutan melalui berbagai kanal layanan, baik secara langsung di kantor cabang, media sosial resmi, website, maupun melalui petugas yang berinteraksi langsung dengan nasabah.
“Risiko dari penyalahgunaan rekening sangat besar, karena apabila rekening tersebut digunakan untuk aktivitas ilegal, maka permasalahan hukum dapat kembali kepada pemilik rekening yang namanya tercatat secara resmi pada bank,” ujar Fachrudin.
Baca juga: Rekening Aspal di Kalsel Dihargai Hingga Jutaan, Jual Beli Akun Dompet Digital Marak di Media Sosial
Lebih lanjut, Fachrudin mengingatkan rekening yang diperjualbelikan atau dipinjamkan kepada pihak lain rawan digunakan sebagai penipuan, transaksi kejahatan, judi online, pencucian uang, pendanaan terorisme, maupun tindak pidana lainnya.
Hal ini dapat menimbulkan risiko serius bagi nasabah, baik dari sisi hukum, reputasi, maupun akses terhadap layanan perbankan.
Bank Kalsel juga aktif melakukan pemantauan terhadap transaksi yang mencurigakan sesuai prinsip kehati-hatian, Know Your Customer, serta ketentuan perbankan yang berlaku.
Apabila ditemukan indikasi penyalahgunaan, Bank Kalsel akan melakukan langkah penanganan sesuai prosedur internal, termasuk berkoordinasi dengan pihak berwenang apabila diperlukan.
Fachrudin pun mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan kepada kantor Bank Kalsel terdekat atau melalui layanan resmi Bank Kalsel apabila mengetahui adanya ajakan, penawaran, atau praktik jual beli rekening.
Fenomena jual beli rekening aspal atau asli tapi palsu dan akun dompet digital premium ternyata bukan hal baru di dunia internet. Praktik ini disebut sudah berlangsung sejak lama. Namun kini aktivitas tersebut semakin mudah ditemukan karena maraknya media sosial hingga aplikasi percakapan instan.
Seorang mantan pengguna yang pernah terlibat dalam forum jual beli akun digital mengungkapkan, mayoritas pembeli akun dompet digital premium justru berasal dari kalangan anak muda yang belum memiliki identitas resmi seperti KTP.
“Kalau dulu mainnya forum-forum internet. Sekarang pindah ke Telegram atau grup Facebook karena lebih gampang,” ujarnya kepada BPost, identitasnya dirahasiakan, Senin.
Ia mengatakan, akun yang paling banyak dicari biasanya adalah akun e-wallet premium seperti DANA, OVO, atau GoPay yang sudah terverifikasi. Menurutnya, akun premium banyak diminati karena dapat digunakan untuk transaksi dengan limit lebih besar, serta bisa transfer bank dan tarik tunai.
“Kebanyakan pembelinya itu masih belum punya KTP. Jadi mereka beli akun premium supaya bisa transaksi lebih bebas,” katanya.
Ia menyebut harga akun digital bervariasi tergantung jenis layanan, kelengkapan data, hingga fasilitas yang tersedia dalam akun tersebut. “Kalau rekening bank yang aktif biasanya lebih mahal,” ujarnya.
Meski pernah terlibat di dalamnya, pria asal Banjarmasin Tengah ini sudah tidak lagi berkecimpung dalam praktik jual beli akun digital. Ia menilai risiko hukumnya saat ini semakin besar.
“Sekarang orang sudah mulai takut karena banyak kasus rekening dipakai penipuan, investasi bodong, sampai judi online,” katanya.
Ia juga menegaskan praktik tersebut sebenarnya cukup berbahaya, terutama jika akun yang diperjualbelikan digunakan untuk tindak pidana tanpa sepengetahuan pemilik identitas asli.
“Kadang pembeli cuma mikir buat transaksi game atau jual beli online aja. Tapi kita nggak pernah tahu akun itu nantinya dipakai buat apa,” ujarnya. (dea/sul)