Korban KDRT di Mojokerto Kini Trauma Usai Badut Bunuh Mertua, Menuntut Nyawa Dibayar Nyawa
Talitha Daren May 12, 2026 01:38 PM

TRIBUNTRENDS.COM - Perempuan berinisial SW (36), korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Kabupaten Mojokerto, masih mengalami trauma berat setelah peristiwa tragis yang menimpa keluarganya.

Dalam kejadian tersebut, ibu kandung korban, Siti Arofah (54), tewas diduga dibunuh oleh menantunya sendiri yang berinisial S alias Tuan (42).

Tidak hanya itu, pelaku juga diduga berusaha menghabisi nyawa istrinya dengan melakukan penganiayaan yang menyebabkan luka sayatan di leher serta lebam di wajah korban.

Peristiwa berdarah itu terjadi di rumah kontrakan yang baru sembilan bulan ditempati keluarga tersebut di Desa Sumbergirang, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, pada Rabu (6/5/2026).

Kondisi SW hingga kini masih dalam tahap pemulihan usai menjalani perawatan medis di RSUD Dr Wahidin Sudirohusodo Kota Mojokerto.

Saat ditemui di rumah duka pada Senin (11/5/2026), korban tampak pucat dengan bekas luka yang masih terlihat jelas di tubuhnya.

Trauma mendalam yang dialami korban juga menjadi perhatian pemerintah desa setempat.

Kepala Desa Sumbergirang, Siswahyudi, mengatakan pihak desa terus memberikan pendampingan kepada keluarga korban pasca kejadian tersebut. 

Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak menghakimi korban melalui media sosial karena kondisi psikologis korban masih sangat terguncang.

Saat ini, kasus dugaan KDRT dan pembunuhan tersebut masih dalam penanganan aparat kepolisian.

Baca juga: Badut Mojokerto Aniaya Istri dan Bunuh Mertua, Keluarga Ungkap Konflik Panjang, Cucu Diajak Ngamen

Kades Sumbergirang: Hentikan Menghakimi Korban di Media Sosial

Saat ditemui di rumah duka, pada Senin (11/5/2026) korban SW tampak pucat dengan bekas luka yang masih terlihat jelas.

Korban menjalani proses pemulihan akibat luka KDRT, sepulang dari perawatan di RSUD Dr Wahidin Sudirohusodo Kota Mojokerto. 

Kepala Desa Sumbergirang, Siswahyudi mengatakan, Pemdes melakukan pendampingan terhadap keluarga korban.

"Kondisinya (Korban SW) sudah membaik, karena itu oleh pihak rumah sakit sudah diperbolehkan pulang,

Nanti tinggal kontrol karena luka memar di wajah masih perlu pemulihan," ujar Siswahyudi saat ditemui di rumah duka korban, Senin.

Menurutnya, korban SW sudah bisa diajak berkomunikasi namun masih belum pulih total membutuhkan beberapa hari kedepan untuk penyembuhan.

"Kalau trauma masih, (Korban) menuntut nyawa dibayar nyawa tapi justru pendampingan dari saya jangan seperti itu kita serahkan proses hukum ke Kepolisian," jelasnya.

Baca juga: Pesta Narkoba Usai Habisi Nenek di Pekanbaru, Kini Pelaku Pembunuhan Tak Bisa Jalan Usai Ditembak

KASUS PEMBUNUHAN - Kronologi Badut di Mojokerto Diduga Bunuh Mertua, Bermula dari Paket COD hingga Tangan Pelaku Berlumuran Darah.
KASUS PEMBUNUHAN - Kronologi Badut di Mojokerto Diduga Bunuh Mertua, Bermula dari Paket COD hingga Tangan Pelaku Berlumuran Darah. (SURYAMALANG.COM/Mohammad Romadoni/Grid.ID)

Tudingan Sepihak dari Tersangka S

Siswahyudi menyayangkan, tudingan sepihak dari tersangka S berdampak tidak baik bagi keluarga korban.

Diperparah komentar di media sosial yang tidak berimbang seolah menyudutkan korban dan keluarganya.

"Salah satunya adalah seolah-olah menghakimi bahwa saudari SW ini hanya perselingkuhan, padahal kita tidak tahu kebenarannya. Kita tidak punya hak untuk menceritakan di media sosial, itu ranah Kepolisian agar tidak menjadi asumsi liar," ungkap Kades.

Ia berharap, masyarakat lebih bijak dalam menanggapi suatu peristiwa dan jangan sampai menghakimi korban. 
 
Tindakan itu berdampak terhadap penyembuhan psikis korban dan keluarganya, apalagi yang bersangkutan memiliki anak kecil.

"Harapan kami jangan memberikan statement yang liar, biarlah proses hukum berjalan semestinya," jelasnya.

Siswahyudi menyebut, dirinya tidak ingin komentar negatif di media sosial akan memperkeruh kondisi masyarakat di kampungnya.

Tersangka dan korban merupakan warga asli dari Desa Sumbergirang, jangan sampai kejadian ini menjadi pemicu permusuhan dan lainnya.

"Saya tidak ingin warga saya terpicu oleh hal-hal seperti itu, karena bagaimana pelaku dan korban adalah warga. Hari ini tujuh harinya almarhumah, saya menjaga kondusifitas kampung kami," pungkasnya.

Baca juga: Kasus Kekerasan Bocah SD di Mojokerto, Inge Marita Tersangka dan Punya Rekam Jejak

Ilustrasi pembunuhan
Ilustrasi pembunuhan (Via Kompas.com)

Korban Dikenal Pekerja Keras

Sebelumnya, Adik Ipar Korban, berinisial SA (52) mengungkapkan, pihak keluarga begitu terpukul sepeninggal korban yang dikenal sebagai sosok perempuan pekerja keras dan tulang punggung keluarga.

"Pastinya kami sangat kehilangan, terutama anak ketiga almarhumah (SMP kelas 3)," tandasnya, saat ditemui di rumah duka.

almarhumah merupakan sosok pekerja keras yang menjadi tulang punggung keluarga sejak suaminya wafat pada 2024 silam. 

"Kami sangat kehilangan, terutama anak bungsu almarhumah (Kelas 3 SMP," ujar SA saat ditemui di rumah duka, Senin (11/5/2026).

Pihak keluarga juga merasa perlu meluruskan tudingan pelaku yang menyudutkan korban terkait pengakuan pelaku yang pernah diusir dan keluarga membeberkan alasan dibaliknya. 

Korban terpaksa mengusir tersangka, lantaran diduga hendak melakukan perbuatan tidak lazim terhadap anak perempuannya.

Perselisihan dengan ibu mertua juga persoalan cucu, atau anak dari korban SW yang dinilai manfaatkan oleh tersangka S untuk berjualan balon serta mainan anak-anak dan mengamen berkostum badut. 

(TribunTrends.com/TribunMojokerto.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.