Macron Dikritik Setelah Tegur Peserta KTT Afrika Secara Terbuka di Nairobi
Tiara Shelavie May 12, 2026 02:23 PM

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Prancis Emmanuel Macron memicu gelombang kritik setelah ia menyela sebuah sesi yang berfokus pada anak muda di Africa Forward Summit di Nairobi pada Senin (11/5/2026), dengan menegur peserta secara terbuka karena berbicara saat pembicara sedang menyampaikan materi dan menyebut gangguan itu sebagai “kurangnya rasa hormat total”.

Mengutip Fox News, video dari acara tersebut menunjukkan Macron bangkit dari kursinya dan berjalan ke atas panggung selama sesi “Africa Forward: Creation in Motion”, yang menghadirkan seniman dan pengusaha muda untuk berbicara tentang budaya dan inovasi.

“Permisi, semuanya. Hei, hei, hei,” kata Macron kepada audiens.

“Maaf, teman-teman. Tapi tidak mungkin berbicara soal budaya, menghadirkan orang-orang yang sangat inspiratif datang ke sini untuk berbicara di tengah kebisingan seperti ini.”

“Ini adalah bentuk kurangnya rasa hormat total,” lanjutnya.

“Saya sarankan jika kalian ingin berbicara secara pribadi atau membahas hal lain, ada ruang bilateral atau kalian bisa keluar. Jika ingin tetap di sini, kita mendengarkan para pembicara dan mengikuti aturan yang sama.”

Pernyataan spontan Macron itu langsung menuai kritik di media sosial.

Baca juga: Tiba di Istana Élysée Presiden Prabowo Disambut Presiden Prancis Macron

Mantan anggota parlemen Zimbabwe, Fadzayi Mahere, mengkritik pemimpin Prancis tersebut di platform X.

“Dengan hormat @EmmanuelMacron, saya tidak percaya tindakan Anda sopan atau pantas datang ke benua kami lalu berbicara kepada orang-orang seperti ini. Mereka bukan anak-anak Anda. Jangan bersikap merendahkan. Bayangkan jika tamu negara melakukan hal yang sama di negara Anda? Apakah itu akan diterima? Saya rasa tidak,” tulisnya.

Postingan lain dari pengacara Kenya-Kanada dengan 3,1 juta pengikut juga menyatakan:

“Warga Afrika tidak membutuhkan izin dari @EmmanuelMacron untuk berbicara di Afrika,” kata Dr. Miguna Miguna, yang pada Januari mengumumkan pencalonannya untuk pemilihan presiden Kenya 2027.

Laporan yang diterbitkan Modern Ghana pada Senin menyebut insiden tersebut memiliki ironi simbolis, karena Macron datang ke Kenya untuk mempromosikan apa yang digambarkan Paris sebagai kemitraan yang lebih setara dan penuh hormat dengan negara-negara Afrika, menjauh dari model pascakolonial yang selama ini dikritik sebagai paternalistik.

Insiden terjadi dalam Africa Forward Summit di Nairobi, yang dihadiri lebih dari 30 pemimpin Afrika, eksekutif bisnis, dan pengusaha muda untuk membahas pembangunan ekonomi, inovasi, dan kerja sama Afrika-Eropa.

Media Kenya, Standard Media, melaporkan insiden itu “memberi bayangan yang tidak biasa” terhadap jalannya konferensi. Beberapa kelompok masyarakat sipil bahkan menyebut konferensi dua hari tersebut sebagai “rekayasa ulang imperialisme”.

Momen ini menyoroti tantangan yang dihadapi Macron ketika Prancis berupaya mendefinisikan ulang hubungannya dengan Afrika setelah bertahun-tahun menghadapi ketegangan politik dan penarikan militer dari sejumlah negara Afrika Barat.

Sebelumnya pada hari yang sama, Macron mengatakan kepada mahasiswa di University of Nairobi bahwa “Afrika sedang berhasil” dan menilai benua itu membutuhkan investasi untuk memperkuat kedaulatan, bukan ketergantungan pada bantuan pembangunan.

Macron belakangan semakin menekankan kemitraan dengan anak muda Afrika, pengusaha, dan pemimpin budaya, ketika Prancis menyesuaikan strateginya di Afrika di tengah meningkatnya persaingan pengaruh dari Rusia, China, dan Turki.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.