TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Semen Padang FC mulai menata ulang arah klub untuk menghadapi musim depan usai terdegradasi ke Liga 2 Pegadaian Championship musim 2025/2026.
Perombakan besar dipastikan dilakukan, termasuk di level manajemen hingga penguatan fasilitas tim.
Penasehat Semen Padang FC, Andre Rosiade, mengungkapkan bahwa hasil evaluasi bersama memutuskan akan ada pembagian tugas antara manajemen lama dan manajemen baru dalam proses pembenahan klub.
“Hasil diskusi kita, nanti akan ditunjuk manajemen baru yang mengurus tim musim depan. Sementara manajemen lama ditugaskan menyelesaikan permasalahan musim ini, termasuk kewajiban kepada pemain dan aset-aset di Stadion Haji Agus Salim,” ujar Andre Rosiade kepada wartawan di Kantor BPJN Sumbar, Senin (11/5/2026).
Ia menjelaskan, manajemen baru nantinya akan fokus mengelola tim secara lebih profesional, sementara pembenahan fasilitas latihan juga menjadi prioritas dalam satu tahun ke depan.
Baca juga: Semen Padang Butuh Rp27 Miliar untuk Championship, Penasehat: Rp10 Miliar dari Pemegang Saham
“Manajemen baru akan mengelola tim ini secara profesional. Selain itu kita juga akan meningkatkan fasilitas latihan agar tim punya infrastruktur yang lebih baik,” lanjutnya.
Andre juga menyoroti kondisi finansial klub yang selama ini dinilai belum ideal untuk menopang kebutuhan kompetisi BRI Super League. Menurutnya, struktur pendanaan Semen Padang FC perlu pembenahan serius.
Ia menyebutkan, kontribusi dari pemilik klub, PT Semen Padang, hanya sekitar Rp15 miliar, sementara dirinya sebagai penasehat bersama pihak lain mampu mengupayakan tambahan hampir Rp20 miliar.
Namun, jumlah tersebut masih belum mencukupi kebutuhan tim.
“Kalau bicara realistis, untuk Liga 1 kita butuh sekitar Rp27 miliar. Sementara pendapatan dari tiket, sponsor, dan lainnya masih belum menutup kebutuhan,” ungkapnya.
Andre juga membeberkan kondisi pemasukan pertandingan kandang yang kerap mengalami defisit. Dengan kebutuhan operasional mencapai Rp211 juta per laga, pendapatan dari tiket disebut belum mampu menutup biaya tersebut.
Baca juga: Nasib Semen Padang: Degradasi ke Championship dan Kehilangan Homebase Sementara
“Setiap kandang kita selalu boncos. Pemasukan dari tiket belum cukup, meski ada tambahan dari sponsor dan hak siar,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Semen Padang FC tidak bisa terus bergantung pada satu sumber pendanaan. Evaluasi menyeluruh pun dilakukan, termasuk opsi bantuan dari induk perusahaan Semen Indonesia Group (SIG).
Namun, ia menyebutkan bahwa bantuan dari SIG tetap harus melalui mekanisme persetujuan pemegang saham, sehingga tidak bisa diberikan secara langsung.
“SIG juga tidak bisa sembarangan memberikan bantuan karena harus persetujuan pemegang saham,” katanya.
Dari hasil komunikasi yang telah dilakukan, Andre menyampaikan kabar bahwa sudah ada persetujuan awal untuk dukungan sebesar Rp10 miliar bagi musim depan. Namun, angka tersebut masih jauh dari kebutuhan ideal klub.
“Sudah ada green light untuk bantuan Rp10 miliar. Tapi kita masih harus mencari sekitar Rp17 miliar lagi untuk kebutuhan musim depan,” tutupnya.
Dengan kondisi tersebut, Semen Padang FC kini dituntut untuk segera menyiapkan strategi baru, baik dari sisi manajemen, finansial, maupun penguatan tim demi menghadapi kompetisi Liga 2 musim depan.(*)