Ahli Veteriner Sumsel Desak Penanganan Hantavirus Lewat Pendekatan One Health
Yandi Triansyah May 12, 2026 03:27 PM

SRIPOKU.COM, PALEMBANG – Munculnya ancaman penyakit Hantavirus menjadi peringatan serius mengenai pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dan sanitasi lingkungan. 

Penyakit zoonosis ini menular ke manusia melalui paparan urine, air liur, maupun kotoran tikus yang mengering dan terhirup, yang dalam kondisi berat dapat memicu gangguan pernapasan serius hingga kematian.

Pejabat Otoritas Veteriner Provinsi Sumatera Selatan, Dr. drh. Jafrizal MM, menegaskan bahwa merebaknya populasi tikus (rodensia) pembawa penyakit merupakan indikator adanya persoalan tata kelola lingkungan yang belum optimal. 

Tikus berkembang pesat pada area dengan sanitasi buruk, seperti tumpukan sampah, saluran air kotor, hingga gudang pangan terbuka.

"Hantavirus tidak boleh dipahami semata sebagai persoalan medis manusia, melainkan persoalan ekosistem yang membutuhkan keterlibatan seluruh sektor melalui pendekatan One Health," ujar drh. Jafrizal, Selasa (12/5/2026).

Menurutnya, dalam perspektif kedokteran hewan, meningkatnya populasi rodensia tidak pernah terjadi tanpa sebab.

Tikus berkembang pesat ketika lingkungan menyediakan ruang hidup ideal, seperti tumpukan sampah, sanitasi buruk, saluran air yang kotor, gudang pangan terbuka, serta lemahnya pengelolaan kebersihan lingkungan.

"Karena itu, keberadaan tikus sejatinya menjadi indikator adanya persoalan tata kelola lingkungan yang belum optimal," katanya. 

Dokter hewan memandang zoonosis sebagai hasil interaksi antara manusia, hewan, dan lingkungan. 

Ketika keseimbangan tersebut terganggu, maka risiko penularan penyakit akan meningkat.

Hantavirus menjadi contoh nyata bagaimana buruknya sanitasi dan lemahnya pengendalian lingkungan dapat berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat.

"Rodensia juga diketahui berperan dalam penyebaran berbagai penyakit lain seperti leptospirosis, salmonellosis, hingga infeksi berbahaya lainnya," katanya. 

Menurutnya, dalam penanganannya tidak bisa sektoral. Penanganan Hantavirus tidak dapat dibebankan hanya kepada satu institusi.

Dibutuhkan kerja lintas sektor dan tanggung jawab kolektif pemerintah daerah.

"Dinas Kesehatan memiliki peran utama dalam surveilans penyakit, deteksi dini kasus, edukasi masyarakat, penanganan pasien, hingga pelaporan epidemiologi. Kewaspadaan dini menjadi sangat penting agar kasus tidak berkembang menjadi kejadian luar biasa," katanya. 

Sementara itu, menurutnya sektor veteriner memiliki peran penting yang sering kali terlupakan dalam penanganan zoonosis. Dokter hewan memiliki kompetensi dalam investigasi epidemiologi berbasis hewan, pengawasan penyakit zoonotik, edukasi kesehatan masyarakat veteriner, pengendalian faktor risiko hewan pembawa penyakit, hingga penerapan biosekuriti lingkungan.

Pendekatan veteriner tidak hanya berfokus pada ternak, tetapi juga pada interaksi hewan liar dengan lingkungan manusia.

Di sisi lain, Dinas Lingkungan Hidup berperan penting dalam pengelolaan sampah, drainase, limbah, dan kebersihan kawasan publik yang menjadi faktor utama berkembangnya rodensia.

Pemerintah kabupaten/kota hingga desa juga disebut sebagai ujung tombak perubahan perilaku masyarakat melalui edukasi hidup bersih, gotong royong kebersihan lingkungan, serta pengendalian sarang tikus secara berkelanjutan.

"Dunia kini semakin menyadari bahwa penyakit zoonosis tidak dapat ditangani secara sektoral. Pendekatan One Health menjadi kebutuhan mutlak melalui kolaborasi tenaga kesehatan manusia, dokter hewan, ahli lingkungan, akademisi, pemerintah, dan masyarakat," katanya. 

Konsep ini menempatkan kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan sebagai satu kesatuan yang saling berkaitan.

“Hantavirus memberi pelajaran bahwa ancaman kesehatan sering kali lahir dari persoalan kecil yang diabaikan dalam waktu lama,” kata dokter Jafrizal. 

Menurutnya, untuk mencegah ancaman Hantavirus sejak dini, terdapat sejumlah langkah strategis yang perlu dilakukan pemerintah daerah dan masyarakat.

Pertama, penguatan surveilans zoonosis melalui sistem pemantauan penyakit berbasis lingkungan dan hewan, terutama di wilayah padat penduduk, pasar tradisional, gudang pangan, dan kawasan kumuh.

Kedua, pengendalian populasi rodensia secara berkelanjutan, tidak hanya menggunakan racun sesaat, tetapi melalui sanitasi lingkungan, pengelolaan limbah, penutupan akses sarang, dan pengamanan penyimpanan pangan.

Ketiga, edukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Masyarakat perlu memahami bahwa membiarkan sampah menumpuk, menyimpan makanan terbuka, dan lingkungan yang kotor merupakan faktor utama berkembangnya tikus pembawa penyakit.

Keempat, peningkatan biosekuriti lingkungan di area gudang, pasar, peternakan, dan tempat penyimpanan bahan pangan untuk mencegah kontaminasi rodensia.

Kelima, koordinasi lintas sektor agar setiap kejadian zoonosis dapat segera dikomunikasikan antarinstansi sehingga respons cepat dapat dilakukan sebelum kasus meluas.

Menurut dokter Jafrizal, kesalahan terbesar dalam penanganan zoonosis adalah sikap reaktif setelah muncul korban. Padahal, pencegahan selalu lebih murah dibanding penanganan wabah.

Ia menegaskan bahwa wabah tidak muncul secara tiba-tiba. 

Alam biasanya telah memberikan tanda melalui perubahan lingkungan, meningkatnya populasi hewan pembawa penyakit, serta menurunnya kualitas sanitasi.

Karena itu, Hantavirus harus menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bahwa kesehatan manusia sangat bergantung pada bagaimana lingkungan dijaga dan bagaimana hubungan manusia dengan hewan di sekitarnya dikelola dengan baik.

"Hantavirus bukan sekadar ancaman kesehatan, melainkan cermin bagaimana manusia memperlakukan lingkungannya sendiri. Ketika sanitasi diabaikan, sampah tidak terkelola, dan populasi rodensia dibiarkan berkembang, maka risiko penyakit akan selalu mengintai," katanya. 

Melalui pendekatan One Health, sinergi lintas sektor, penguatan peran dokter hewan, serta keterlibatan aktif masyarakat, ancaman Hantavirus dapat diantisipasi sejak dini.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.