Harga Minyak Dunia Sulit Turun, RI Siapkan Stimulus Baru untuk Kendaraan Listrik
Tommy Kurniawan May 12, 2026 05:11 PM

TRIBUNJAMBI.COM - Pemerintah kembali menyiapkan insentif untuk mendorong pembelian kendaraan listrik, baik mobil maupun motor, di tengah kekhawatiran lonjakan harga minyak dunia yang diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat.

Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, mengungkapkan bahwa rencana pemberian stimulus tersebut dilatarbelakangi ketidakpastian geopolitik global, terutama konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, yang dinilai berpotensi terus menekan harga energi dunia.

Menurut Purbaya, kondisi tersebut memaksa pemerintah mencari strategi jangka menengah agar ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar minyak (BBM) impor bisa dikurangi secara bertahap.

Harga Minyak Dinilai Sulit Turun

Purbaya menilai harga minyak global tidak akan kembali normal dalam waktu dekat.

Hal itu ia simpulkan setelah mempelajari perkembangan geopolitik internasional, termasuk dinamika negosiasi Amerika Serikat terhadap Iran yang menurutnya menunjukkan konflik berpotensi berlangsung lebih lama.

“Karena kita lihat harga minyak dunia sepertinya tidak akan turun. Setelah saya ke Amerika, saya pelajari bagaimana mereka mendesain pendekatan terhadap Iran. Menurut saya, itu seperti proposal untuk negara yang kalah perang, dan kemungkinan besar akan ditolak Iran,” kata Purbaya kepada wartawan di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Baca juga: Siapa Sebenarnya Dyastasita dan Indri, Juri Cerdas Cermat Kalbar yang Viral Dinonaktifkan MPR RI

Baca juga: Doa untuk Kamaruddin Simanjuntak, Pengacara Keluarga Brigadir J Hanya Terbaring di Kasur

Ia memperkirakan ketegangan tersebut akan terus berdampak terhadap kestabilan harga energi, sehingga konsumsi BBM nasional berpotensi semakin membebani anggaran negara.

“Artinya konsumsi BBM kita tetap tinggi, tapi dengan harga yang juga lebih mahal. Maka salah satu jalan keluarnya adalah mempercepat perpindahan kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik,” ujarnya.

Manfaatkan Listrik PLN yang Belum Terpakai

Selain mengurangi ketergantungan pada BBM, pemerintah juga ingin memaksimalkan pasokan listrik nasional yang selama ini belum sepenuhnya terserap.

Purbaya menyinggung adanya skema take or pay, yakni kondisi ketika pemerintah tetap membayar kapasitas listrik tertentu kepada PLN meski belum seluruhnya digunakan.

Menurutnya, pemanfaatan kendaraan listrik dapat menjadi solusi untuk menyerap kelebihan pasokan tersebut.

“Masih ada listrik PLN yang tetap dibayar tetapi belum dipakai. Kalau tidak salah, kapasitas terpakainya baru sekitar 70 persen. Berarti masih ada sekitar 30 persen yang kita bayar namun belum dimanfaatkan,” jelasnya.

Ia berharap pemanfaatan listrik berlebih itu bisa membantu menekan beban subsidi di sektor energi secara bersamaan.

“Kalau listrik yang belum terpakai itu bisa digunakan untuk kendaraan, subsidi di PLN bisa berkurang, subsidi BBM juga bisa ditekan. Itu tujuan utamanya,” tambah Purbaya.

Subsidi Motor Listrik Diusulkan Rp5 Juta per Unit

Sebagai bagian dari strategi tersebut, pemerintah tengah menyiapkan skema insentif baru untuk pembelian sepeda motor listrik.

Purbaya mengusulkan agar subsidi diberikan sebesar Rp5 juta per unit, dengan target awal mendorong penjualan hingga 6 juta motor listrik.

Namun, ia menegaskan bahwa kebijakan ini masih akan dibahas lebih lanjut bersama sejumlah kementerian terkait, termasuk Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Kementerian Perindustrian.

“Kalau usulan awal saya, kita dorong dulu penjualan enam juta motor listrik. Tapi tentu tidak sekaligus, dilakukan bertahap. Programnya sedang kami siapkan,” katanya.

Pernyataan serupa sebelumnya juga disampaikan Purbaya dalam media briefing di Jakarta pada 24 April 2026 lalu.

Saat itu ia memastikan bahwa subsidi kendaraan listrik berpotensi mulai digulirkan secara bertahap pada tahun ini.

“Iya, targetnya tahun ini. Tapi tidak semuanya sekaligus. Bertahap. Bisa sekitar Rp5 juta per motor, atau mungkin lebih, tergantung hasil pembahasan,” ujarnya.

Bagian dari Konversi 120 Juta Motor BBM

Program subsidi ini disebut sejalan dengan agenda besar pemerintah untuk mengonversi sekitar 120 juta sepeda motor berbahan bakar fosil menuju kendaraan berbasis energi listrik.

Langkah ini dinilai penting bukan hanya untuk menjaga stabilitas fiskal, tetapi juga memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian global.

Purbaya pun memprediksi konflik internasional yang memicu gejolak harga minyak kemungkinan baru akan mereda paling cepat pada September mendatang.

“Kalau skenario terbaik, mungkin September bisa mulai reda. Tapi bisa juga berlanjut lebih lama. Karena itu, dalam beberapa bulan ke depan kami ingin mulai melakukan penghematan energi dari sekarang,” tutupnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.