Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Laporan Climate Entrepreneurship Ecosystem Mapping in Eastern Indonesia menemukan para pelaku wirausaha di Indonesia Timur mulai mengembangkan berbagai solusi lokal yang menjanjikan untuk menghadapi perubahan iklim.
Laporan tersebut, disusun sebagai bagian dari program KINETIK NEX Entrepreneurs’ Program, sebuah program inkubasi bisnis bagi startup iklim.
Meski begitu, laporan tersebut juga menyoroti bahwa pelaku usaha masih menghadapi tantangan besar untuk bertumbuh dan berkembang.
Menurut, Program Manager Christabel Putik dan Analis Kebijakan Attur Mehta dari KINETIK menjelaskan, laporan ini memetakan peluang dan tantangan yang dihadapi bisnis berbasis solusi iklim di Kupang, Ambon, dan Makassar.
Baca juga: Wirausaha Iklim Harus Jadi Motor Transformasi Ekonomi Hijau NTT
Temuan laporan, kata dia, menunjukkan bahwa perubahan iklim telah mulai berdampak nyata terhadap ekonomi daerah, sekaligus mendorong meningkatnya kebutuhan akan solusi praktis di sektor energi bersih, perikanan, pengelolaan sampah, dan air bersih.
Di berbagai wilayah Indonesia Timur, para entrepreneur mulai menghadirkan solusi iklim berbasis lokal, mulai dari sistem air tenaga surya di Nusa Tenggara Timur, proyek ekonomi sirkular berbasis sampah di Makassar, hingga mesin pembuat es tenaga surya untuk sektor perikanan di Maluku.
"Inovasi-inovasi ini berpotensi membantu daerah mencapai target adaptasi dan mitigasi perubahan iklim," papar keduanya dalam
Diseminasi Hasil Pemetaan Ekosistem Kewirausahaan Iklim di Indonesia Timur, Dialog Pemangku Kepentingan Lokal dan Kunjungan Lapangan di Hotel Aston Kupang, Selasa (12/5/2026).
Namun di balik perkembangan tersebut, bisnis iklim masih menghadapi tantangan besar untuk berkembang dalam skala lebih luas.
Akses pembiayaan menjadi salah satu hambatan terbesar, terutama bagi bisnis yang sedang bertransisi dari tahap pilot project menuju operasional komersial awal.
Dengan masih terbatasnya akses modal ventura di luar pusat ekonomi di Pulau Jawa, pinjaman usaha konvensional masih menjadi opsi pembiayaan utama. Sayangnya, bisnis berbasis solusi iklim juga kerap menghadapi kendala dalam mengakses pembiayaan tersebut.
Laporan ini juga menyoroti bahwa sebagian besar program pendampingan usaha yang tersedia saat ini masih dirancang untuk UMKM secara umum, sehingga belum sepenuhnya menjawab kebutuhan spesifik bisnis iklim.
“Indonesia Timur tidak kekurangan inovasi. Yang dibutuhkan sekarang adalah dukungan yang lebih kuat agar solusi-solusi iklim ini dapat berkembang dalam skala yang lebih besar,” ujar Direktur KINETIK, John Brownlee menambahkan.
Untuk memperkuat pertumbuhan kewirausahaan iklim di Indonesia Timur, laporan, KINETIK NEX memberi rekomendasi terhadap hal itu. Mereka meminta dukungan teknis dan komersial yang lebih sesuai dengan kebutuhan bisnis di sektor iklim.
Selain itu, dukungan yang lebih kuat untuk membantu bisnis di sektor iklim mengakses pembiayaan, sekaligus memperluas opsi pendanaan yang tersedia .
"Peningkatan koordinasi antara pemerintah, universitas, investor, pelaku usaha, dan organisasi pendukung," katanya.
Rekomendasi lainnya adalah pemanfaatan pengadaan pemerintah dan kemitraan secara lebih strategis untuk mendukung produk dan layanan hijau lokal.
KINETIK NEX juga menyarankan adanya
pendekatan yang lebih inklusif agar perempuan dan kelompok yang kurang terlayani dapat berpartisipasi penuh dalam kewirausahaan iklim.
“Perubahan iklim bukan lagi sekedar isu lingkungan, melainkan tantangan ekonomi dan sosial yang sangat nyata bagi kita di Indonesia, khususnya di Nusa Tenggara Timur,” kata Staf Ahli Gubernur NTT Bidang Perekonomian, Dr. Lery Rupidara saat membuka kegiatan itu.
Berkaca dari itu, inisiatif oleh KINETIK NEX hadir sebagai jembatan penting. Mewakili Pemerintah Provinsi NTT, Lery mengapresiasi bentuk kerja sama Australia-Indonesia yang diimplementasikan melalui KINETIK NEX.
Kolaborasi itu untuk membuka sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru melalui ekosistem kewirausahaan iklim.
Direktur New Energy Nexus Indonesia, Diyanto Imam menambahkan, bisnis iklim menjadi pengungkit ekonomi.
Menurut dia, fokus selanjutnya adalah membantu agar solusi-solusi tersebut bisa bertumbuh.
“Bisnis berbasis solusi iklim dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus membantu menjawab tantangan iklim di Indonesia Timur,” ujarnya. (fan)