Bisnis Minuman Kekinian Dorong UMKM Beralih ke Gula Aren dan Gula Kelapa
Content Writer May 12, 2026 08:23 PM

TRIBUNNEWS.COM - Pertumbuhan UMKM sektor makanan dan minuman (F&B) mendorong meningkatnya kebutuhan bahan baku pemanis berbasis nira, khususnya gula aren. Dalam beberapa tahun terakhir, gula aren semakin banyak digunakan oleh pelaku usaha coffee shop, minuman kekinian, hingga produsen dessert rumahan karena dianggap mampu memperkuat karakter rasa produk.

Di segmen kopi, gula aren telah menjadi salah satu komponen utama dalam menu kopi susu yang banyak dijual di berbagai daerah. Selain memberi rasa manis, gula aren juga menghasilkan aroma khas yang dinilai cocok untuk minuman berbasis espresso maupun kopi susu. Sejumlah pelaku UMKM juga memanfaatkan gula aren sebagai elemen pembeda di tengah persaingan menu yang semakin homogen.

Namun di balik tren tersebut, UMKM menghadapi tantangan utama pada aspek pasokan dan konsistensi bahan baku. Perubahan rasa, tingkat kemanisan, hingga warna gula aren dapat memengaruhi hasil akhir minuman. Kondisi ini membuat pelaku usaha harus melakukan penyesuaian resep, sementara produksi berjalan harian dan menuntut standar rasa yang sama bagi pelanggan.

Kebutuhan bahan baku yang lebih stabil mendorong UMKM mulai mencari pemasok yang mampu menyediakan gula aren dalam kualitas yang lebih seragam. Selain itu, banyak pelaku usaha kini memilih produk dalam bentuk cair atau bubuk karena lebih mudah diaplikasikan serta mempercepat proses penyajian.

Sejumlah produsen gula berbasis nira kemudian memperluas distribusi untuk menangkap kebutuhan tersebut. Salah satunya CV Jagoan Food melalui brand Palmarie yang berdiri sejak 2019 dan memproduksi gula kelapa serta gula aren dari bahan baku nira.

Palmarie memasarkan beberapa varian pemanis seperti brown sugar, gula kelapa cair, gula aren cair, hingga gula aren bubuk. Produk ini menyasar segmen UMKM kuliner, coffee shop, cafe, hingga pelaku usaha minuman kekinian yang membutuhkan pasokan bahan baku untuk produksi harian.

Baca juga: Dari Gula Aren Hingga Minuman Herbal Bikin UMKM Lokal Cuan, Omzet Tembus Rp 1 Miliar  

“UMKM sangat bergantung pada kestabilan bahan baku karena mereka harus menjaga rasa tetap sama setiap hari. Jika bahan berubah, pelaku usaha harus menyesuaikan formulasi dan itu berpengaruh pada biaya produksi,” ujar Arie Adrian, Direktur CV Jagoan Food.

Ia menyebut permintaan gula aren dari UMKM tidak hanya datang dari coffee shop, tetapi juga dari pelaku usaha dessert dan bakery. Dalam sektor tersebut, gula aren digunakan untuk membuat saus karamel, topping, hingga campuran adonan kue yang membutuhkan aroma khas.

Selain aspek kebutuhan pasar, rantai pasok gula aren juga berkaitan dengan keterlibatan petani lokal sebagai pemasok bahan baku nira. Produksi gula berbasis nira kerap dipengaruhi faktor musim dan cuaca yang berdampak pada volume produksi. Karena itu, produsen dinilai perlu memperkuat sistem pengolahan agar pasokan tetap berjalan meski permintaan meningkat.

Dalam konteks UMKM, penggunaan gula aren juga dipengaruhi perubahan strategi bisnis. Banyak pelaku usaha kini lebih fokus pada menu yang memiliki identitas rasa kuat untuk mempertahankan pelanggan. Di tengah persaingan minuman siap saji, pemanis berbasis nira dipandang sebagai salah satu elemen yang dapat membangun karakter produk.

Dengan tren pertumbuhan UMKM F&B yang masih berlangsung, kebutuhan gula aren dan gula kelapa diperkirakan terus meningkat. Pelaku industri melihat bahwa palm sugar akan tetap menjadi komoditas penting, terutama karena telah melekat pada tren kopi susu dan minuman kekinian yang masih menjadi pasar utama di Indonesia.

Baca juga: Mendes Yandri Lepas Ekspor Gula Aren ke Tiga Negara dari Desa Temon Pacitan

  

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.