Nasib Mujur Ocha, Disalahkan Juri LCC 4 Pilar MPR, Kini Ditawari Beasiswa ke Tiongkok
Noval Andriansyah May 12, 2026 07:19 PM

Tribunlampung.co.id, Jakarta - Viral karena berani membantah keputusan juri dalam Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR, nasib Josepha Alexandra atau Ocha kini berubah drastis.

Siswi SMAN 1 Pontianak itu justru mendapat tawaran beasiswa kuliah gratis ke Tiongkok setelah aksinya membela kebenaran ramai mendapat perhatian publik.

Kabar tersebut diketahui melalui unggahan video di akun Instagram Ketua Komisi II DPR RI, Muhammad Rifqinizamy Karsayuda, Selasa (12/5/2026).

Dikutip dari Tribunnews.com, dalam video itu, Rifqinizamy terlihat melakukan panggilan video dengan Ocha yang sebelumnya viral karena dianggap dirugikan dalam final LCC Empat Pilar MPR tingkat Kalimantan Barat.

Rifqinizamy yang juga alumni SMAN 1 Pontianak mengaku bangga dengan keberanian Ocha menyuarakan keberatan saat jawaban timnya dinilai salah oleh dewan juri.

Baca juga: MC Shindy Minta Maaf, Bagaimana dengan 2 Juri yang Salahkan Peserta LCC 4 Pilar MPR?

“Josepha nanti jam satu ke Jakarta ya? Difasilitasi oleh MPR ya?” tanya Rifqinizamy dalam video tersebut.

“Iya bener, Pak. Terima kasih, Pak,” jawab Ocha.

Dalam percakapan itu juga terungkap bahwa Ocha merupakan alumni SMPN 10 Pontianak dan merupakan anak kedua dari dua bersaudara.

Saat berangkat ke Jakarta, Ocha didampingi Kepala Sekolah SMAN 1 Pontianak Indah, Wakil Kepala Sekolah bidang Humas Rio, serta guru pembimbing Heni.

Rifqinizamy kemudian menyampaikan permintaan maaf atas polemik yang terjadi dalam perlombaan tersebut.

“Josepha, saya anggota DPR-MPR. Saya sekarang satu-satunya alumni SMAN 1 Pontianak yang menjadi anggota DPR dan MPR di Jakarta. Saya minta maaf, Josepha, kalau ada kesalahan dalam proses LCC kemarin,” katanya.

Ia juga menyebut MPR nantinya akan memberikan klarifikasi resmi terkait kontroversi penilaian yang sempat viral di media sosial.

Tak hanya itu, Rifqinizamy memberikan tawaran khusus kepada Ocha berupa beasiswa kuliah gratis ke Tiongkok.

“Yang ketiga, kalau Josepha berkenan, abang mau kasih beasiswa kuliah gratis ke Cina. Nanti kasih tahu orang tua kalau mau,” ujarnya.

Mendengar tawaran tersebut, Ocha langsung mengucapkan terima kasih.

“Terima kasih banyak, Pak,” kata Ocha.

Menurut Rifqinizamy, tawaran beasiswa itu merupakan bentuk apresiasi atas keberanian Ocha mempertahankan kebenaran di hadapan publik.

Ia menilai Ocha adalah contoh pelajar yang memiliki keberanian menyampaikan pendapat dan pantas mendapat dukungan.

Bahkan, Rifqinizamy menyebut setelah lulus kuliah nanti, Ocha berpeluang langsung mendapat pekerjaan di perusahaan multinasional.

Profil Josepha

Berdasarkan penelusuran Tribunnews.com, Josepha bernama lengkap Josepha Alexandra Roxa Potifera yang akrab disapa Ocha.

Dikutip dari akun Instagram resmi SMAN 1 Pontianak, dia dikenal sebagai siswi yang berprestasi.

Pada Mei 2025, ia bersama 2 temannya berhasil juara 2 lomba LCC Kebangsaan yang diselenggarakan oleh HMPPKN FKIP Untan.

Masih pada tahun yang sama, tepatnya pada bulan September 2025, Ocha dan tim SMAN 1 Pontianak memperoleh juara 1 LCC Empat Pilar MPR RI 2025 tingkat provinsi Kalimantan Barat.

Dia kemudian lolos Senayan untuk maju di Grand Final LCC Empat Pilar MPR RI.

Memasuki 2026, Ocha kembali dipercaya memperkuat tim untuk ikut ajang yang sama. Kali ini ia dan temannya harus puas berada di posisi juara 2.

Selain bersekolah, Ocha juga aktif berorganisasi. Dia tergabung dalam anggota Generasi Berliterasi (Gebrasi Pontianak) Pontianak.

Tujuan komunitas ini untuk Gebrasi Pontianak menambah minat literasi anak-anak dan remaja di Pontianak.

Sementara itu, tentang aksi protesnya kepada dewan juri, Ocha sudah memberi tanggapan lewat akun Instagram pribadinya.

"Funny how the replay accidentally exposed whose ‘feelings’ were actually wrong… c2 izin muncul ke permukaan," tulisnya.

Unggahan Ocha hingga Selasa (12/5/2026) sudah disukai lebih dari 600 ribu kali.

Kronologis polemik LCC

Polemik dalam LCC bermula pada sesi pertanyaan rebutan tentang mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pada Sabtu (9/5/2026)

Dalam sesi tersebut, satu peserta sebelumnya dinyatakan salah dan nilainya dikurangi. Namun pada pertanyaan yang sama, kelompok lain justru mendapat penilaian benar dan tambahan poin.

Situasi itu kemudian memicu protes dari kelompok lain hingga lomba LCC tersebut menjadi viral di media sosial.

Dalam perlombaan tersebut, peserta Grup C mendapat pengurangan nilai lima poin setelah jawaban mereka dianggap salah oleh dewan juri.

Namun, pada pertanyaan yang sama, Grup B dari SMAN 1 Sambas justru memperoleh tambahan 10 poin meski memberikan jawaban yang dinilai memiliki substansi serupa.

Adapun pertanyaan yang dipersoalkan berkaitan dengan mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

MC membacakan pertanyaan, “BPK dipilih dari dan oleh anggota, namun untuk menjadi anggota BPK keterkaitan dengan perwakilan daerah tetap dijaga. DPR dalam memilih anggota BPK diwajibkan untuk memperhatikan pertimbangan dari lembaga mana?”

Perwakilan Grup C kemudian menjawab, “Anggota-anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh presiden.”

Jawaban tersebut dinyatakan salah oleh dewan juri. Tak lama kemudian, pertanyaan yang sama diberikan kepada Grup B dari SMAN 1 Sambas dan dinyatakan benar sehingga mendapat nilai penuh.

Keputusan itu langsung diprotes peserta Grup C karena merasa jawaban yang mereka sampaikan memiliki inti yang sama.

Mereka menyampaikan keberatan karena merasa jawaban yang mereka sampaikan sama dengan jawaban Grup B.

Saat menanggapi protes tersebut, dewan juri menyebut pada jawaban awal Grup C tidak terdengar penyebutan “Dewan Perwakilan Daerah” atau DPD.

“Jadi dewan juri tadi berpendapat nggak ada itu Dewan Perwakilan Daerah,” ujar salah satu juri.

Situasi sempat memanas ketika peserta Grup C meminta pendapat penonton terkait apakah penyebutan DPD terdengar atau tidak. Namun pembawa acara menegaskan keputusan tetap berada di tangan dewan juri.

“Mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja. Nanti mungkin bisa dilihat tayangan ulangnya setelah acara selesai,” ujar MC.

Lomba tetap dilanjutkan dengan SMAN 1 Sambas keluar sebagai juara pertama dan akan mewakili Provinsi Kalimantan Barat ke tingkat nasional.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.