TRIBUNNEWS.COM - Mantan pemain Arsenal dan Chelsea asal Inggris, Raheem Sterling dicap sebagai kegagalan terbesar dalam sejarah transfer klub Belanda, Feyenoord.
Pemain berusia 31 tahun tersebut sudah tidak seperti dulu lagi yang memiliki kecepatan, kemampuan teknis yang mumpuni, serta sentuhan akhir yang cukup mematikan sebagai seorang penyerang.
Datang dengan sambutan meriah pada pertengahan musim ini dari yang sebelumnya tanpa status, Feyenoord berharap banyak pada pemain jebolan Liverpool itu.
Tapi sayangnya, Sterling kesulitan mendapatkan tempat dan bermain reguler di bawah asuhan Robin Van Persie.
Sejak kedatangannya pada Februari 2026, Sterling hanya berada di lapangan selama 349 menit dengan tujuh penampilan sebagai pemain pengganti yang menghasilkan satu assist.
Mantan pemain timnas Belanda, Jan Everse melontarkan kritikan pedas terhadap Sterling saat berada di Rotterdam.
Tidak hanya Jan Everse, tetapi juga para penggemar Feyenoord yang kerap mengkritiknya di media sosial.
"Semuanya sudah berakhir. Saya harap saya telah membuat kesalahan dan salah menilai dia, tetapi saya rasa tidak," ucap Jan Everse kepada The Athletic dilansir Goal Internasional.
"Lihatlah komentar di internet, para penggemar sangat mengkritiknya. 'Kegagalan terbesar dalam sejarah kami', kata mereka," tambah pemain timnas Belanda era 1970an itu.
Sterling yang kini tidak lagi punya kecepatan, tidak lagi bergairah, tidak lai punya fisik yang mampu bersaing dengan lawannya.
Dia juga kesulitan ketika berhadapan satu lawan satu dengan pemain lawan.
"Jika dia melakukan tiga atau empat sprint, Anda tidak akan melihatnya selama 20 menit. Dia tidak eksplosif lagi. Dia tidak bugar," ungkapnya.
Bahkan ketika berada di lapangan, ia tampak sebagai pemain yang tak punya nyali dan berujung pada kesalahan-kesalahan individu.
"Dia sering tersandung kakinya sendiri. Dia ragu-ragu. Dia cemas agar tidak melakukan kesalahan."
"Dalam situasi satu lawan satu, dia tidak pernah bisa melewati bek lawan. Saya merasa kasihan padanya," sambung Everse.
Dengan penampilan tersebut, Feyenoord tidak akan memperpanjang kontrak Sterling.
Di sisa laga musim ini, Feyenoord menyisakan satu pertandingan melawan PEC Zwolle pada Minggu (17/5/2026) malam.
Laga tersebut tidak memiliki kepentingan, hasil menang atau kalah tidak akan berdampak pada posisi Feyenoord di klasemen Eredivisie (2).
Laga itu dapat menjadi akhir bagi Sterling mencatatkan menit bermainnya dengan Feyenoord.
Bagi Sterling, jendela transfer musim panas mendatang akan menjadi persimpangan, apakah masih ada klub yang tertarik menggunakan jasanya, atau yang lebih pelik kembali menjadi 'pengangguran' seperti yang dia rasakan di awal tahun ini.
Setelah dikembalikan Arsenal pada musim panas 2025, Sterling kembali ke Chelsea, namun ia tidak pernah mendapatkan menit bermain sebelum akhirnya dikeluarkan dari skuad pada Januari 2026.
Sterling berstatus tanpa klub karena dikeluarkan Chelsea sebelum akhirnya dipinang oleh Feyenoord.
Pemain kelahiran Kingston, Jamaikan itu harus mendapatkan klub untuk menghindari pensiun yang datangnya bisa lebih awal.
(Tribunnews.com/Sina)