Dinkes Semarang Bongkar Fakta Bahaya Hantavirus bagi Manusia: Bisa Sebabkan Kematian
deni setiawan May 12, 2026 09:56 PM

 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Dinkes Kota Semarang membongkar sebuah fakta tentang bahaya penyakit Hantavirus bagi manusia. 

Ternyata, penyakit tersebut bisa berdampak serius bagi penderitanya bagi mereka yang menyepelekan gejala-gejala awal yang ditimbulkan. 

Salah satunya adalah berdampak atau bisa menyebabkan kematian.

Karenanya, Dinkes mengingatkan masyarakat khususnya di Kota Semarang untuk mewaspadai gejala Hantavirus.

Baca juga: Penyebab Kebakaran di Pabrik Sriboga Flour Mill Semarang: Ada Gesekan Conveyor Karet

• Sosok Kiai Abi Jamroh Menurut Warga Tahunan Jepara, Tak Sangka Cabuli Santrinya

Hantavirus adalah penyakit yang ditularkan melalui tikus dan celurut serta dapat menyerang paru-paru hingga ginjal.

Kepala Dinkes Kota Semarang, M Abdul Hakam mengatakan, gejala awal Hantavirus kerap menyerupai demam biasa sehingga sering tidak disadari masyarakat.

“Segera ke fasilitas kesehatan jika mengalami demam tinggi mendadak, nyeri otot, terutama kesulitan bernapas setelah melakukan bersih-bersih area yang terkontaminasi tikus,” kata Hakam seperti dilansir dari Kompas.com, Selasa (12/5/2026).

Dia menjelaskan, Hantavirus dapat menyebabkan dua kondisi serius, yakni Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) dan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS).

Pada kasus HPS, infeksi dapat membuat paru-paru terisi cairan sehingga penderitanya mengalami sesak napas hingga gagal fungsi paru.

Sementara HFRS merupakan penyakit yang menyerang ginjal dan berpotensi mematikan.

Menurut Hakam, penularan virus dapat terjadi melalui paparan urine, air liur, maupun kotoran tikus yang mengontaminasi lingkungan sekitar rumah.

Karena itu, Dinkes Kota Semarang mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kebersihan lingkungan guna mencegah berkembangnya tikus dan celurut.

“Tutupi semua celah kecil di rumah, simpan makanan dalam wadah tertutup rapat, serta singkirkan tumpukan sampah maupun barang rongsokan yang bisa menjadi sarang tikus,” ujarnya.

30 Persen Tikus Bawa Bakteri Leptospirosis

Menurut Hakam, hingga pertengahan 2026 belum ada laporan kasus Hantavirus dari rumah sakit maupun puskesmas di Kota Semarang. 

“Alhamdulillah sampai detik ini belum ada temuan kasus Hantavirus, baik di rumah sakit maupun puskesmas di Kota Semarang,” katanya.

Meski demikian, Dinkes menemukan tingginya kandungan bakteri Leptospira pada tikus hasil uji petik tahun 2025.  

Dari hasil pemeriksaan tersebut, sekira 30 persen tikus dan celurut terdeteksi membawa bakteri penyebab Leptospirosis.

Baca juga: Tipu-tipu Kiai Abi Jamroh Cabuli Santrinya di Jepara, Modus Nikah Siri Modal Rp100 Ribu

• Dukun Cabul Sukolilo Pati Pakai Ritual Threesome Setubuhi Korban, Modus Biar Dapat Momongan

“Ini yang kemudian sejak 2025 kami sampaikan kepada masyarakat agar melakukan PTP atau pemberantasan tikus permukiman supaya kasus Leptospirosis bisa dikendalikan,” jelasnya. 

Dia menuturkan, lonjakan kasus Leptospirosis pada 2026 diduga dipengaruhi faktor iklim, suhu, kelembapan, kondisi lingkungan, hingga perilaku hidup bersih masyarakat.

“Kalau suhu, kelembapan, lingkungan, dan perilaku hidup sehat masyarakat tidak baik, maka risiko terpapar Leptospirosis menjadi sangat tinggi,” ungkapnya.

Untuk menekan risiko penularan, Dinkes Kota Semarang terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat melalui program Gembira Ria, yakni Gerakan Buka Jendela dan Pintu Rumah, membersihkan rumah, serta aktivitas fisik minimal 60 menit setiap hari.

“Kalau sinar matahari bisa masuk, udara keluar masuk, rumah dibersihkan, maka tikus tidak akan nyaman berkembang di lingkungan rumah,” katanya.

Selain itu, masyarakat juga diminta memasang perangkap tikus tertutup sebagai bagian dari PTP.

Warga diimbau tidak menggunakan perangkap lem karena dapat membuat tikus stres dan buang air kecil sembarangan sehingga meningkatkan risiko penularan penyakit.

“Kalau pakai lem, tikus akan gelisah dan bisa kencing di mana-mana. Maka lebih baik menggunakan perangkap tertutup,” ujarnya. (*)

Sumber Kompas.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.