Warga Kalipancur Semarang Resah, Jalan Rusak dan Truk Tambang Melintas Tak Kenal Waktu
rival al manaf May 12, 2026 09:56 PM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Warga Kalipancur, Kecamatan Ngaliyan dan perbatasan Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, mengeluhkan kondisi jalan rusak parah yang diduga akibat aktivitas truk pengangkut tanah galian C yang berada di dekat Kampung Bangsewu, Sukorejo, Kecamatan Gunungpati.

Kerusakan jalan disebut sudah berlangsung berbulan-bulan dan semakin membahayakan pengguna jalan.

Satu di antara warga, Afrizal Ahsan (27) mengatakan kondisi jalan rusak terutama berada di kawasan tanjakan Kalipancur hingga arah pertigaan jalan Untung Suropati menuju SMA Negeri 7 Semarang.

"Kalau enggak salah sih sudah jalan hampir 6 bulan ini ya, yang saya ingat itu pernah ada perbaikan di tanjakan Kalipancur-nya itu sekitar bulan November. Ada perbaikan dari perusahaan tambangnya itu. Lalu setelah itu kan rusak lagi, karena masih dilalui truk yang mengangkut tanah galian C," ujarnya kepada Tribun Jateng, Selasa (12/5/2026).

Baca juga: Daftar Empat Kandidat Pelatih PSIS Semarang Musim Depan, Ada Kas Hartadi Hingga Mantan

Baca juga: Pria Tersengat Listrik Tegangan Tinggi di Semarang Timur Berhasil Dievakuasi, Luka Bakar 70 Persen

Menurut Afrizal, persoalan tidak hanya pada kerusakan jalan, tetapi juga truk tambang yang disebut masih melintas di luar jam operasional.

"Yang saya atensi itu karena jam operasional seperti tidak ada aturannya. Jadi jam pagi saya kan bekerja ya, kadang sebelum saya berangkat kerja itu truknya sudah lalu lalang melewati jalan itu," katanya.

"Dan saat saya pulang kerja pun sama di jam-jam magrib gini atau jam 07.00 lah itu juga truk itu lewat. Walaupun enggak banyak, tapi tetap ada kendaraan truk itu yang melewati jalan itu," lanjutnya.

Ia menyebut warga sekitar jalan terdampak langsung akibat debu pekat dan kondisi jalan bergelombang yang berisiko menyebabkan kecelakaan.

"Debunya parah banget. (Jalan berlubangnya juga) merusak kendaraan sih sebenarnya, karena yang parah itu di tanjakannya kan bergelombang," ungkapnya.

Afrizal menambahkan, kondisi jalan yang rusak sulit terlihat pada malam hari karena minim penerangan jalan.

"Kalau misalnya malam hari itu enggak kelihatan. Jadi kalau misalnya warga sekitar mungkin sudah hafal. Tapi kalau orang yang baru pertama kali lewat atau ya jarang lewat tanjakan itu tuh bisa kaget gitu dan itu bisa menganu (merusak) ke kendaraan juga," keluhnya.

Ia mengaku kerusakan jalan juga berdampak pada kendaraan pribadinya yang digunakan sehari-hari untuk bekerja.

"Kebetulan saya pernah ganti laher. Itu lahernya itu gampang rusak. Jadi mau enggak mau saya harus ganti," ujarnya.

Menurutnya, pihak bengkel menyebut kerusakan tersebut dipicu kondisi jalan yang tidak rata.

"Biasanya cepatnya karena ya itu jalannya sering karena melewati jalannya enggak bagus gitu,' tambahnya.

Afrizal mengatakan dirinya telah beberapa kali melapor melalui kanal resmi pemerintah, namun penanganan dinilai belum maksimal.

"Ya, sebelumnya saya sudah pernah lapor via kanal resmi, lapor semua yang dikelola oleh Pemerintah Kota Semarang. Terus saya juga pernah mengirim email ke Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jateng terkait izin pertambangan perusahaan galian C-nya," katanya.

Selain itu, menurutnya, ia juga telah menghubungi Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang.

"Sudah beberapa cara yang saya lakukan sih," ujarnya.

Meski sempat ada perbaikan jalan, Afrizal menilai penanganan yang dilakukan masih bersifat sementara.

"Responnya ya beberapa laporan sebelumnya memang ada tindakan dari Pemerintah Kota Semarang, cuma menurut saya tindakannya itu hanya sementara. Hanya tambal sulam saja. Tidak ada perbaikan jangka panjang gitu," katanya.

Ia berharap pemerintah dapat melakukan perbaikan permanen selama aktivitas tambang masih berlangsung di kawasan tersebut.

"Harapannya kalau memang kegiatan pertambangan galian C ini masih panjang atau masih jangka waktunya masih lama, seharusnya perbaikannya juga untuk jangka panjang gitu," katanya.

Afrizal menjelaskan, jalur Kalipancur menjadi akses utama truk pengangkut tanah menuju proyek jalan tol di wilayah Kaligawe sehingga intensitas kendaraan berat cukup tinggi setiap harinya.

"Tanah-tanah galian itu dibawa ke arah sana untuk proyek itu. Otomatis kalau memang tujuannya ke arah sana jalan satu-satunya hanya lewat Kalipancur itu," ujarnya.

Sementara itu, warga lainnya, SW (31), mengatakan kerusakan Jalan Kalipancur sebenarnya sudah terjadi cukup lama, namun dalam beberapa bulan terakhir kondisinya semakin parah.

"Kalau jalan rusak itu berarti sudah mungkin hampir 1 tahun ya. Kalau rusak parahnya ini baru 2-3 bulan," ujarnya ditemui Tribun Jateng di rumahnya, yang tak jauh dari proyek galian.

Menurut SW, perbaikan jalan sebenarnya sudah beberapa kali dilakukan. Namun, kondisi jalan kembali rusak karena terus dilalui truk pengangkut tanah galian C.

"Ada perbaikan. Ya ada perbaikan, cuma kan kayak perbaikannya kurang permanen gitu, Mbak," katanya.

"Meskipun perbaikan kan dilalui lagi terus. Ya, diperbaiki rusak lagi, diperbaiki, rusak lagi," lanjutnya.

Ia menyebut aktivitas galian C di kawasan tersebut sudah berlangsung lebih dari satu tahun dan semakin memperparah kondisi jalan utama warga.

"Kalau galiannya satu tahun lebih," ucapnya.

Sebagai warga yang setiap hari melintas, SW mengaku dampak paling terasa adalah kepadatan lalu lintas dan kondisi jalan bergelombang yang membuat pengguna jalan harus lebih waspada.

"Efeknya mungkin ini ya, lalu lintas agak padat jadinya ini karena kan lalu lalang," katanya.

"Terus kan kalau malam itu kan di Jalan Kalipancur itu banyak yang bergelombang. Kadang itu di situ kan mungkin warga kurang nyaman juga kan dalam berkendara," imbuhnya.

Meski belum pernah melihat langsung kecelakaan, Sindu mengatakan warga sekitar kini sudah hafal titik-titik jalan rusak sehingga lebih berhati-hati saat melintas.

"Kalau kita kan warga sini sudah hafal titik-titik mana yang jalan rusak. Jadi kita sudah lebih hati-hati kalau warga sini," ujarnya.

Menurutnya, titik kerusakan paling parah berada di kawasan tanjakan Kalipancur setelah fly over.

"Ya itu di area Kalipancur itu, Mbak. Setelah tanjakan itu toh yang tanjakan fly over itu toh. Lah itu kan banyak jalan yang bergelombang," katanya.

Ia menambahkan, jalur Kalipancur menjadi akses utama warga dari wilayah Gunungpati dan Mijen menuju pusat Kota Semarang sehingga arus kendaraan cukup padat terutama pada pagi hingga siang hari.

"Kalau dari sini kan kadang yang dari Gunungpati itu yang dari Mijen itu kan kalau mau ke kota kadang lewatnya kan sini tembus Sampangan itu biar cepat," ujarnya.

Sw juga menyoroti minimnya penerangan jalan pada malam hari yang dinilai memperbesar risiko bagi pengendara.

"Yang kami sayangkan kan itu kan jalannya sudah banyak bergelombang terus kadang gelap juga, Mbak, di situ," katanya.

Meski memahami jalur tersebut menjadi satu-satunya akses kendaraan pengangkut tanah menuju proyek tol, ia berharap pihak terkait lebih sigap merespons keluhan masyarakat.

"Jalurnya cuma satu itu aja," ujarnya.

Menurut Sindu, warga rutin menyampaikan keluhan setiap kali muncul lubang baru di jalan dan biasanya segera mendapat penanganan dari pihak pengelola galian.

"Kalau ada lubang itu warga sini udah langsung komplain lah. Tapi, kalau sudah komplain ya langsung dihuruk lagi," katanya.

Ia mengatakan perbaikan maupun penyiraman jalan dilakukan langsung oleh petugas dari pihak galian.

"Dari pihak galian. Ada petugasnya sendiri. Petugasnya nyiram jalan juga ada sini," imbuhnya. (idy)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.