SRIPOKU.COM — Situasi ekonomi Amerika Serikat (AS) tengah bergejolak.
Bukan hanya karena perang melawan Iran yang belum berkesudahan, negeri Gedung Putih juga baru saja mengalami perubahan pejabat bank sentral.
Belum lagi, biaya perang melawan Iran terus membengkak.
Mengutip BBC, harga-harga di AS naik pada April dengan laju tercepat sejak Mei 2023.
Situasi ini terjadi karena dampak perang di Iran semakin dirasakan oleh konsumen.
Kenaikan harga bensin dan bahan makanan mendorong indeks harga konsumen (CPI), yang menunjukkan tingkat kenaikan harga dalam 12 bulan terakhir, menjadi 3,8 persen.
Baca juga: Amerika Desak Iran Setujui Tuntutan Donald Trump, Pembukaan Selat Hormuz Jadi Syarat Perdamaian
Isaac Stell, manajer investasi di Wealth Club, mengatakan bahwa peningkatan inflasi bahkan membuat kemungkinan kenaikan suku bunga “tetap terbuka”.
Hal ini terjadi beberapa hari sebelum Kevin Warsh, yang ditunjuk Presiden AS Donald Trump, dijadwalkan menggantikan Jerome Powell sebagai ketua bank sentral AS.
Stell mengatakan bahwa ketua yang baru akan memasuki peran tersebut dengan “sedikit ruang gerak” dan mungkin terpaksa mengambil pendekatan yang lebih konservatif.
Trump berselisih dengan Powell karena keengganannya memangkas suku bunga bank sentral, yang diharapkan presiden dapat mendorong perekonomian AS.
Ia juga telah memperjelas bahwa ia mengharapkan Warsh mendorong pemangkasan suku bunga.
Di tempat lain, Pentagon mengatakan pada Selasa (12/5/2026) bahwa biaya perang melawan Iran telah meningkat menjadi hampir 29 miliar dolar AS.
Mengutip english.aawsat.com, kondisi tersebut membuat Trump menghadapi pengawasan yang semakin ketat atas konflik tersebut dan dampaknya terhadap kesiapan militer.
Angka baru ini diungkapkan Departemen Pertahanan selama sidang anggaran di Capitol Hill, sekitar 4 miliar dolar lebih tinggi daripada perkiraan Menteri Pertahanan Pete Hegseth dua minggu lalu.
Hegseth dan Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan, sedang memberikan kesaksian tentang permintaan anggaran sebesar 1,5 triliun dolar untuk tahun 2027 bersama kepala keuangan Pentagon Jules Hurst III ketika mereka ditanya tentang perkembangan terbaru mengenai biaya perang tersebut.
“Pada saat kesaksian… jumlahnya adalah 25 miliar dolar,” kata Hurst kepada para anggota parlemen, merujuk pada perkiraan Hegseth pada 29 April.
“Tetapi tim staf gabungan dan pengawas keuangan terus meninjau perkiraan dan sekarang kami pikir jumlahnya lebih mendekati 29 miliar dolar.”