Laporan Wartawan TribunJatim.com, Anggit Pujie Widodo
TRIBUNJATIM.COM, JOMBANG - Deretan topeng kayu tersimpan rapi di dalam kotak tua di rumah sederhana di Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Masih melekat aroma bunga di sekitarnya.
Baca juga: Respons Bupati Jombang Soal Usulan Raperda Jasa Konstruksi, Tata Kelola Daerah Harus Profesional
Warga setempat memperlakukan benda-benda tersebut bukan sekadar properti pertunjukan, melainkan pusaka yang dijaga turun-temurun.
Di balik ukiran kayu dan gerak tari yang perlahan mengikuti irama gamelan, Wayang Topeng Jatiduwur terus menyimpan cerita tentang kesetiaan masyarakat desa menjaga warisan leluhur mereka.
Di desa inilah, Wayang Topeng Jatiduwur tetap bertahan di tengah gempuran budaya modern.
Seni pertunjukan tradisional tersebut telah hidup sejak puluhan tahun lalu dan menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat setempat.
Pengelola Sanggar Wayang Topeng Tri Purwo Budaya, Isma Hakim Rahmat mengatakan, pertunjukan Wayang Topeng Jatiduwur memiliki pola pementasan yang menyerupai wayang kulit.
Seorang dalang memegang kendali penuh atas alur cerita, dialog, hingga arah gerak para penari di atas panggung.
"Dalang menjadi pusat pertunjukan karena mengatur jalan cerita sekaligus membawakan narasi selama pementasan berlangsung," ucapnya saat dikonfirmasi TribunJatim.com pada Selasa (12/5/2026).
Masyarakat meyakini kesenian tersebut bermula dari tangan sosok dalang pertama yang dikenal sebagai maestro wayang topeng di Jatiduwur, Ki Purwo.
Hingga kini, puluhan topeng peninggalannya masih disimpan oleh keturunannya dan dirawat secara khusus.
Jumlah topeng yang diwariskan mencapai 33 buah.
Sebagian warga percaya benda-benda itu memiliki nilai spiritual dan tidak boleh diperlakukan sembarangan.
Jika tidak dirawat dengan baik, topeng-topeng tersebut dipercaya harus dikembalikan ke kawasan punden desa yang diyakini menjadi lokasi pertapaan Ki Purwo pada masa lalu.
Di antara seluruh koleksi, Topeng Klono menjadi yang paling dikenal.
Topeng berwarna emas dengan karakter wajah bangsawan tersebut dipercaya warga memiliki tuah tertentu.
Tak sedikit masyarakat yang mengaitkannya dengan pengobatan tradisional.
"Topeng Klono sering dimanfaatkan warga sebagai bagian dari ikhtiar penyembuhan. Karena itu, proses perawatannya dilakukan dengan ritual khusus," kata Hakim.
Setelah pertunjukan usai, setiap topeng dibungkus kain sebelum dimasukkan kembali ke dalam kotak penyimpanan.
Bunga-bunga ditaburkan sebagai bagian dari tradisi penghormatan terhadap warisan leluhur.
Nilai sakral tersebut membuat topeng asli jarang dipakai untuk latihan.
"Para penari umumnya menggunakan replika agar koleksi utama tetap terjaga," ungkapnya.
Bagi masyarakat Jatiduwur, pertunjukan wayang topeng juga kerap berkaitan dengan nazar atau hajat tertentu.
Warga biasanya menggelar pementasan sebagai bentuk pemenuhan janji maupun ungkapan syukur.
Cerita yang dibawakan berasal dari Sastra Panji, kisah klasik Jawa yang mengangkat perjalanan Panji Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji.
Lakon-lakon tersebut telah lama berkembang di berbagai daerah Nusantara dan menjadi salah satu warisan budaya penting dari masa kerajaan di tanah Jawa.
Dua cerita yang paling sering dipentaskan ialah Patah Kuda Narawangsa dan Wiruncana Murca.
Namun, dalang tetap memiliki ruang untuk mengembangkan alur sesuai kreativitas masing-masing.
Di tengah keterbatasan jumlah pelaku seni, proses regenerasi perlahan mulai dilakukan.
Jika dahulu penari wayang topeng didominasi kalangan lanjut usia, kini pemuda dan pemudi desa mulai ikut terlibat dalam pementasan.
Budayawan Jombang, Nasrul Illah atau yang akrab disapa Cak Nas menilai, pelestarian Wayang Topeng Jatiduwur tidak cukup hanya dengan mempertahankan pertunjukan rutin.
Menurutnya, diperlukan langkah edukatif agar generasi muda memahami makna yang terkandung di balik setiap topeng dan cerita Panji.
"Topeng ini bukan hanya karya seni. Ada nilai kehidupan dan identitas budaya yang harus dikenalkan kepada anak-anak muda," ungkap pria yang juga adik kandung dari budayawan Emha Ainun Najib atau Cak Nun ini.
Cak Nas bersama sejumlah seniman kini mendorong Jatiduwur menjadi kampung edukasi Wayang Topeng Panji.
"Harapannya, seni tradisi tersebut tidak hanya bertahan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga mampu hidup berdampingan dengan perkembangan zaman," bebernya.