Pangkalpinang Sentra UMKM Madu di Bangka Belitung, Pelawan Primadona
Fitriadi May 13, 2026 11:03 AM

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Kota Pangkalpinang tercatat sebagai daerah dengan jumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) madu terbanyak di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Data Dinas Koperasi dan UKM setempat menunjukkan, sedikitnya 43 pelaku usaha madu beroperasi di ibu kota provinsi tersebut.

Kepala Dinas KUKM Babel, Arie Primajaya, mengungkapkan secara keseluruhan terdapat 193 UMKM madu yang tersebar di seluruh kabupaten/kota.

Baca juga: Bertaruh Nyawa di Puncak Pohon, Perjuangan Pemburu Madu Hutan Bangka

Usaha tersebut mencakup berbagai lini, mulai dari budidaya lebah, perburuan madu hutan, hingga pengolahan dan pemasaran produk.

“Kalau dilihat dari jumlah pelaku usahanya, sektor madu ini sangat potensial. Hampir semua daerah memiliki pelaku usaha aktif,” ujar Arie, Selasa (12/5/2026).

Setelah Pangkalpinang, Kabupaten Bangka Tengah menempati posisi kedua dengan 40 pelaku usaha. Disusul Kabupaten Belitung (29), Belitung Timur (23), Bangka Barat (22), Bangka Selatan (20), dan Kabupaten Bangka dengan 16 pelaku usaha.

Menurut Arie, tingginya jumlah pelaku usaha di Pangkalpinang tidak lepas dari perannya sebagai pusat perdagangan dan distribusi.

Baca juga: Pemburu Madu di Babel Ingatkan Maraknya Madu Campuran di Pasaran, inI Ciri Madu Asli dan Palsu

Banyak produk madu dipasarkan dari kota ini, baik melalui toko fisik, apotek, maupun platform digital.

“Pangkalpinang menjadi pusat distribusi. Banyak pelaku usaha menjual produknya dari sini,” katanya.

Pemerintah daerah, lanjut Arie, terus mendorong pertumbuhan sektor ini melalui pendampingan dan pembinaan.

Berbagai program difokuskan pada peningkatan kualitas produk serta penguatan legalitas usaha.

“Kami membantu pelaku usaha mengurus NIB, PIRT, sertifikasi halal, hingga pelatihan manajemen dan pemasaran digital,” ujarnya.

Ia menekankan, kualitas produk menjadi kunci utama agar madu Bangka Belitung mampu bersaing di pasar nasional bahkan internasional. 

Dengan kemasan yang baik dan standar produksi yang terjaga, peluang ekspor dinilai semakin terbuka.

Pelawan Primadona

Di tengah geliat UMKM tersebut, madu pelawan muncul sebagai produk unggulan dengan nilai ekonomi tinggi.

Madu ini berasal dari nektar bunga pohon pelawan yang tumbuh alami di hutan Bangka dan dikenal memiliki rasa khas.

Pemilik usaha Juragan Madu Bangka, Widi Prayogo, menyebut madu pelawan telah menjadi identitas daerah.

“Kalau orang bicara madu pelawan, pasti ingat Bangka,” ujarnya. 

Keunikan madu pelawan terletak pada sensasi rasanya.

Saat pertama diminum, madu ini terasa pahit, namun berubah menjadi manis setelah diteguk air putih.

Karakter tersebut membuatnya berbeda dari madu pada umumnya.

Selain unik, madu pelawan juga tergolong langka.

Pohon pelawan hanya berbunga sekitar dua kali dalam setahun dengan masa mekar singkat.

Kondisi cuaca turut memengaruhi produksi, sehingga ketersediaannya sering terbatas.

“Setahun belum tentu panen melimpah. Semua tergantung cuaca dan keberhasilan lebah mengambil nektar,” kata Widi.

Kelangkaan itu berdampak pada harga jual yang tinggi.

Madu pelawan dipasarkan sebagai produk premium, dengan harga bisa mencapai ratusan ribu hingga mendekati Rp1 juta per botol, tergantung kualitas dan musim.

Permintaan datang dari berbagai daerah, mulai dari Jakarta hingga luar pulau seperti Balikpapan dan Sulawesi.

Bahkan, produk madu Bangka sempat menjangkau pasar luar negeri seperti Malaysia dan dijajaki ke Turki.

Untuk menjaga kualitas, pengolahan madu dilakukan dengan teknologi dehumidifier guna menurunkan kadar air hingga 17–18 persen tanpa pemanasan.

Metode ini dinilai mampu mempertahankan nutrisi alami madu sekaligus memenuhi standar ekspor.

Meski peluang pasar terbuka, tantangan tetap ada, terutama dalam menjaga konsistensi kualitas.

Variasi sumber nektar dan musim membuat karakter madu alami cenderung berubah.

“Justru itu keunikan madu hutan. Rasanya bisa berbeda tergantung bunga dan musim,” jelas Widi.

Di tengah dinamika tersebut, Arie optimistis sektor madu akan terus berkembang sebagai salah satu penggerak ekonomi daerah.

Dukungan pemerintah dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap produk alami menjadi faktor pendorong utama.

“Dengan pembinaan berkelanjutan, madu Bangka Belitung bisa menjadi produk unggulan yang tidak hanya menguatkan ekonomi daerah, tetapi juga dikenal di pasar yang lebih luas,” ujarnya. (Bangka Pos/x1)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.