TRIBUNBENGKULU.COM - Curhatan Shindy Lutfiana, Master of Ceremony (MC) Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat.
Melalui akun Instagram pribadinya, @shindy_mcwedding, Shindy menyampaikan permohonan maaf kepada publik atas pernyataannya yang dianggap tidak netral dan kurang berempati.
"Dengan segala kerendahan hati, saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas semua ucapan saya, terutama yaitu: "mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja" yang seharusnya tidak patut saya sampaikan dalam kapasitas saya sebagai MC pada kegiatan tersebut," katanya dikutip dari akun Instagram pribadinya, @shindy_mcwedding, Selasa (12/5/2026).
"Atas kejadian tersebut, dari lubuk hati saya yang paling dalam, saya memohon maaf kepada seluruh pihak yang merasa kecewa, tersakiti, maupun terdampak oleh ucapan-ucapan saya," sambungnya.
Shindy pun berjanji akan menjadikan kejadian tersebut sebagai bahan evaluasi diri agar lebih bijak saat membawakan acara ke depannya.
"Besar harapan saya, permohonan maaf saya ini dapat diterima, dan saya berkomitmen untuk menjadikan kejadian ini sebagai evaluasi terhadap diri saya, agar dapat bersikap lebih baik dan bijak ke depannya," pungkasnya.
Namun setelah polemik tersebut viral, Shindy mengaku harus menerima dampak besar dalam kariernya sebagai MC.
Melalui Instagramnya, ia mengaku kehilangan sejumlah pekerjaan akibat desakan dan tuntutan netizen yang marah atas tindakannya.
"Ketika aku baca ribuan komentar dari netizen, hampir semua isinya hujatan untuk aku, semua kata-kata isi kebun binatang keluar, sumpah serapah aku terima, sampai seruan boikot Shindy MC. Dan sampai akhirnya memang benar-benar semua harapan dan tuntutan netizen terwujud, aku hilang pekerjaan," tulis Shindy dengan perasaan sedih, dikutip pada Rabu (13/5/2026).
"Aku bisa menerima itu semua dengan tabah, sabar, ini memang risiko yang harus aku terima atas kesalahanku," sambungnya.
Shindy mengaku yang paling menyakitkan bukan hanya kehilangan pekerjaan, melainkan sikap sejumlah rekan seprofesi yang dinilainya ikut menghakimi hingga merayakan kejatuhannya.
"Tidak ada yang lebih menyakitkan dalam kejadian ini, ketika aku melihat dari teman-teman sejawat seprofesiku memanfaatkan momen 'jatuhnya aku sekarang' untuk menghakimiku bahkan merayakannya," tambahnya lagi dengan nada kecewa.
Meski demikian, Shindy memilih tetap berprasangka baik dan menganggap kejadian ini sebagai pelajaran hidup.
"Aku tetap akan berprasangka baik kepada Allah, semoga semua ini ada hikmahnya, semua ini pelajaran berharga buatku, terima kasih kak @Bovithalim," tandasnya.
Adapun dampak polemik tersebut mulai dirasakan Shindy setelah sejumlah rekanan kerja memutus kerja sama dengannya.
Salah satunya adalah Evicatering yang sebelumnya menggunakan jasa Shindy sebagai MC. Melalui akun Instagram @Evicatering, pihaknya menyatakan resmi menghentikan kerja sama dengan Shindy per 12 Mei 2026.
"Terimakasih banyak atas masukannya kakak Kakak Semua , Alhamdulillah Owner Kami langsung bertindak tegas untuk memutus hubungan kerja dengan MC tersebut," tulis akun tersebut.
Kronologis Singkat
Polemik ini berawal ketika peserta dari SMAN 1 Pontianak memprotes keputusan dewan juri yang menyebut jawabannya salah terkait pertanyaan yang menyangkut mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Protes tersebut disampaikan setelah jawaban sama persis yang disampaikan oleh tim dari SMAN 1 Sambas justru dinyatakan benar.
"Mohon maaf, jawaban yang kami sampaikan sama," kata peserta tersebut.
Lalu, salah satu juri yakni Dyastasita, membantah jawaban dari peserta SMAN 1 Pontianak sama dengan SMAN 1 Sambas.
Perbedaan yang dimaksud tentang tidak adanya penyebutan DPD dalam pertimbangan pemilihan anggota BPK.
Namun, peserta SMAN 1 Pontianak meyakini telah menjawab sama seperti yang disampaikan oleh peserta dari SMAN 1 Sambas.
"Tadi disebutkan regu C (SMAN 1 Pontianak) itu (jawabnya) pertimbangan dari DPD-nya tidak ada. DPR tadi (jawabnya)," kata Dyastasita.
"Ada (jawaban pertimbangan DPD). Tadi saya jawabnya seperti ini anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden," jawab peserta.
Hanya saja, Dyastasita tetap tidak yakin peserta dari SMAN 1 Pontianak menjawab seperti yang disampaikan tersebut.
Lalu, peserta ingin meminta pandangan lain seperti dari penonton untuk mengkonfirmasi terkait jawabannya.
Kemudian, Dyastasita menegaskan keputusan dewan juri adalah mutlak. Lalu, pembawa acara juga meminta agar peserta menerima keputusan dari juri.
Jika masih ingin melakukan protes, pembawa acara meminta agar peserta mengecek tayangan ulangnya.
"Mohon diterima adik-adik terkait keputusan dewan juri karena tentunya dewan juri yang hadir hari ini sudah sangat berkompeten dan sangat teliti untuk mendengarkan jawaban dari adik-adik. Mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja," kata Shindy.
"Nanti mungkin bisa dilihat tayangan ulangnya setelah acara selesai," imbuhnya.
Selanjutnya, ada juri lain, yakni Kepala Badan Sekretariat Badan Sosialisasi MPR RI, Indri Wahyuni, yang menganggap artikulasi peserta SMAN 1 Pontianak tidak jelas saat menjawab pertanyaan.
Dia menilai hal tersebut menjadi penyebab jawaban peserta dianggap salah oleh dewan juri.
"Kan sudah diperingatkan sejak awal. Artikulasi itu penting. Jadi biasakan menjawab itu dengan artikulasi yang jelas. Dewan juri kalau menurut kalian sudah (terdengar) tetapi dewan juri menilai kalian tidak (benar) karena tidak mendengar artikulasi kalian dengan jelas ya artinya dewan juri berhak memberikan (pengurangan) nilai -5," katanya.
Di sisi lain, peserta dari SMAN 1 Sambas dinyatakan sebagai juara dalam kompetisi ini dan berhak mewakili Provinsi Kalbar di tingkat nasional.
Siswa Mendapat Beasiswa
Setelah peristiwa ini viral di medsos, Josepha Alexandra diundang ke Jakarta untuk menemui MPR.
Undangan ini diketahui lewat unggahan video di akun Instagram Muhammad Rifqinizamy Karsayuda, Ketua Komisi II DPR sekaligus anggota MPR.
Dalam video yang diunggah Selasa (12/6/2026), Rifqinizamy tampak sedang melakukan video call dengan Josepha.
Rifqinizamy adalah alumni SMA Negeri 1 Pontianak sehingga dia dan Josepha menempuh pendidikan menengah atas di tempat yang sama.
Dari percakapan di antara keduanya, Josepha diketahui alumni SMPN 10 Pontianak dan merupakan anak nomor dua dari dua bersaudara.
"Josepha nanti jam satu ke Jakarta ya? Difasilitasi oleh MPR ya?” tanya Rifqinizamy.
“Iya bener, Pak. Terima kasih, Pak,” jawab Josepha.
Dalam kunjungan ke Jakarta, Josepha didampingi oleh beberapa guru, yakni Indah selaku Kepala Sekolah SMAN 1 Pontianak, Rio selaku Waka Humas, dan Heni selaku pembimbing. Adapun orang tua Josepha tidak ikut.
“Josepha, saya anggota DPR-MPR. Saya sekarang satu-satunya alumni SMAN 1 Pontinak yang menjadi anggota DPR dan MPR di Jakarta. Saya minta maaf, Josepha, kalau ada kesalahan dalam proses LCC kemarin,” kata Rifqinizamy.
Rifqinizamy berujar secara institusi nantinya MPR akan memberikan klarifikasi dan menyampaikan permintaan maaf.
“Yang kedua, karena Josepha sekarang kelas 11, abang bangga dengan Josepha yang telah menjadi duta SMAN 1 Pontianak yang sekarang sudah menasional, dengan peristiwa ini kita ambil hikmahnya.”
“Yang ketiga, kalau Josepha berkenan, abang mau kasih beasiswa kuliah gratis ke Cina. Nanti kasih tahu orang tua kalau mau.”
Di samping itu, Josepha nantinya akan langsung diberi pekerjaan oleh berbagai perusahaan multinasional setelah lulus kuliah.
“Terima kasih banyak, Pak,” kata Josepha menanggapi tawaran itu.
Rifqinizamy menilai Josepha adalah contoh siswa yang berani menyuarakan dan mempertahankan kebenaran. Oleh karena itu, Josepha harus didukung.
Mengenai tawaran beasiswa kuliah, Rifqinizamy menganggapnya sebagai apresiasi atas prestasi Josepha.