TRIBUNBENGKULU.COM - Polemik Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat terus bergulir usai viralnya protes peserta dari SMAN 1 Pontianak, Josepha Alexandra atau Ocha, terhadap keputusan dewan juri.
Setelah videonya ramai di media sosial, viral di media sosial akun TikTok @zvanniisygg, kakak Ocha mengaku sebagai kakak Ocha.
Akun tersebut menceritakan perjuangan sang adik sebelum mengikuti perlombaan hingga momen yang dianggap tidak adil saat lomba berlangsung.
Ia menyebut Ocha telah berlatih selama berbulan-bulan dan menghafal materi konstitusi demi tampil maksimal di ajang tersebut.
“Adikku latihan berbulan-bulan. Hafal konstitusi sampai tidur pun komat-kamit,” tulisnya.
Dalam unggahan itu, ia menyoroti jawaban Ocha saat sesi lomba yang dinilai salah oleh dewan juri.
Menurutnya, Ocha menjawab pertanyaan mengenai anggota BPK dipilih DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD dan diresmikan Presiden.
Namun jawaban tersebut dinyatakan salah oleh juri dan tim SMAN 1 Pontianak mendapat pengurangan nilai.
Tak lama kemudian, pertanyaan dilempar ke tim lain dan disebut memberikan jawaban yang sama, tetapi justru dinyatakan benar oleh dewan juri.
“Juri bilang: SALAH. Minus 5. Soal dilempar ke tim lain. Jawaban SAMA. Juri bilang: ‘Inti sudah benar. Nilai 10.’ Aku replay sampai mataku panas. TIDAK ADA BEDANYA,” tulisnya lagi.
Tak hanya itu, kakak Ocha juga menyinggung ucapan MC acara, Shindy Lutfiana, yang sempat viral karena mengatakan keberatan peserta kemungkinan hanya “perasaan adik-adik saja”.
Menurutnya, protes yang dilakukan Ocha merupakan hal wajar karena merasa diperlakukan tidak adil dalam perlombaan tersebut.
“Adikku protes. Wajar banget. Tapi kata MC Shindy Luthfiana: ‘Mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja.’ PERASAAN??” tulisnya.
Ia menegaskan sang adik bukan mencari sensasi atau drama, melainkan hanya ingin mendapatkan perlakuan yang adil.
“Dia bukan lebay. Dia bukan cari drama. Dia cuma minta satu hal yang paling basic — DIPERLAKUKAN ADIL,” sambungnya.
Kakak Ocha kemudian mengungkap bahwa setelah video tersebut viral, keluarganya justru mendapat tekanan.
Ia mengaku Ocha menerima pesan WhatsApp dari nomor tak dikenal yang meminta video terkait insiden tersebut dihapus.
“Lalu videonya viral. Ribuan orang nonton ulang. Semua sepakat — adikku BENAR,” tulisnya.
“Bukannya dapat pembelaan dari pihak penyelenggara — adikku malah dapat chat WhatsApp. Dari nomor entah siapa. Isinya: Selamat Pagi, kami infokan kembali untuk hapus video yang ada di Instagram, jika tidak kami akan layangkan somasi,” lanjutnya.
Ia bahkan menyebut sang adik diduga mengalami intimidasi karena berani menyuarakan keberatan terhadap keputusan juri.
“Anak gak tau apa-apa diintimidasi lewat chat. Karena berani bicara kebenaran,” katanya.
Kondisi Ocha pun disebut mulai terganggu akibat polemik yang terus berkembang.
Menurut kakaknya, Ocha kini merasa bingung dan tertekan setelah ramai diperbincangkan publik.
“Sekarang adikku bingung. Dia nanya ke aku: ‘Kak, apa aku harus minta maaf? Katanya aku yang bikin gaduh…’” ungkapnya.
Curhatan serupa juga disampaikan pihak keluarga lainnya yang mengaku prihatin dengan kondisi Ocha saat ini.
Melalui kolom komentar media sosial, akun bernama @will_bertus1996 yang mengaku sebagai paman Ocha meminta adanya keadilan atas insiden tersebut.
“Mohon keadilan utk keponakan saya khususnya ananda Ocha, ybs yg menjawab pertanyaan dgn benar dari kelompok C dan umumnya utk SMAN 1 yg harusnya mewakili Kalbar,” tulis akun tersebut.
Ia juga mengungkap kondisi Ocha setelah polemik tersebut viral di media sosial.
“Ponakan saya skrg jd murung dan mengurung diri di kamar,” lanjutnya.
Unggahan keluarga Ocha tersebut kini kembali ramai diperbincangkan warganet dan menuai banyak dukungan kepada siswi SMAN 1 Pontianak itu.
"Siapapun anda yg intimidasi silahkan chat or dm jutaan org yg sudah liat video tsb, minta mrk utk melupakan prnh melihat video itu,"
"Oh ternyata ngelawan.... mau dirujak netizen lebih dalam pak ? Nnt melebar sampe ke urusan anak cucu lho,"
"Masih ingat tragedi pembungkaman 98 yang akan di rencanakan pertemuan saksi 98 dengan PBB? Langsung di bungkam dengan keji. Hati-hati kawan negara ini banyak sekali pembungkaman jika ada ketidakadilan. Kita sama-sama rangkul para saksi atau korban ketidakadilan di negara ini,"
"Siapapun itu gas terus jgan mau kendor. Sesama makan nasi gas aja. Dunia aja ini. Biar di akhirat dia yg nanggung beban,"
"@prabowo pak masak hal hal kecil seperti ini harus viral dulu baru dikasih dukungan,"
Komentar sejumlah netizen.
Wapres Gibran Turun Tangan
Di tengah polemik yang ramai diperbincangkan masyarakat, Ocha mendapat perhatian langsung dari Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka.
Tak sendiri, Ocha berangkat ke Jakarta bersama rekan-rekan satu timnya untuk memenuhi undangan khusus dari putra sulung Presiden Joko Widodo tersebut.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat pun menyampaikan apresiasi atas perhatian yang diberikan Wakil Presiden terhadap para pelajar di Kalbar, khususnya peserta LCC 4 Pilar dari SMA Negeri 1 Pontianak.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalbar, Syarif Faisal, mengungkapkan dirinya dihubungi langsung oleh tim Wakil Presiden terkait undangan tersebut.
“Awalnya hanya Josepha yang diundang ke Jakarta untuk bertemu Pak Wapres.
Namun kemudian saya sampaikan bahwa teman-teman lainnya juga ingin ikut bertemu (Wapres) dan tidak mungkin Josepha berangkat sendiri, akhirnya 3 guru berangkat dampingi,” ujar Syarif Faisal.
Menurutnya, setelah dilakukan komunikasi lebih lanjut dengan tim Wakil Presiden, akhirnya seluruh peserta LCC dari SMA Negeri 1 Pontianak ikut diundang ke Jakarta.
Tak hanya para siswa, rombongan juga turut didampingi Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, hingga guru pendamping.
“Setelah negosiasi dengan Tim Wapres, akhirnya seluruh peserta bisa ikut. Semua biaya keberangkatan dan akomodasi juga ditanggung oleh Tim Wapres,” katanya.
Perhatian dari Wakil Presiden RI ini pun dinilai menjadi bentuk dukungan moral bagi para pelajar yang tengah menghadapi polemik dalam ajang kompetisi tersebut.
Syarif Faisal juga menyampaikan rasa terima kasihnya atas kepedulian yang diberikan kepada para siswa asal Kalimantan Barat itu.
Ia berharap pertemuan tersebut dapat menjadi penyemangat bagi para peserta untuk terus berprestasi dan tidak patah semangat menghadapi persoalan yang terjadi.
Berdasarkan daftar manifest penerbangan yang diterima Tribun Pontianak, keberangkatan para peserta turut didampingi Kepala SMA Negeri 1 Pontianak Maryati, Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas Rio Pratama, serta guru pendamping Yenni.
Dalam keberangkatan menuju Jakarta, sebagian rombongan bahkan berada dalam satu penerbangan dengan istri Wakil Presiden RI, Selvi Gibran Rakabuming Raka.
Adapun rombongan yang berada dalam satu pesawat tersebut yakni guru pendamping Yenni bersama para siswa Josepha Alexander, Almira, Khasandra, dan Ahmad.
Sementara rombongan lainnya berangkat menggunakan penerbangan terpisah yang didampingi langsung oleh Kepala Sekolah Maryati dan Waka Humas Rio Pratama bersama siswa Louisa, Ansella, Khansa, Rajiq, Naurah, dan Zerlinda.